Pada saat ini, aura di sekujur tubuh Leonardo mendominasi dan bergejolak hebat.
"Aku!" Robert tertegun di tempat, bagaimana mungkin dia akan berkata kalau dirinya tidak berani?
Awalnya Robert hanya ingin memperdaya Eleanor saja, tapi tidak disangka Leonardo berhasil menjebaknya hanya dengan beberapa kata saja.
Namun, Robert berkata kalau dia tidak berani, bukankah itu artinya dia meninggikan orang lain dan merendahkan dirinya sendiri?
"Kenapa tidak berani? Aku akan bertaruh denganmu!"kata Robert sambil menggertakkan gigi.
Dia pernah berhubungan dengan orang Sunshine Real Estat, palingan dia hanya bertemu dengan kepala satpam saja dan tidak bisa masuk ke pintu utama.
Robert tidak percaya kalau seorang wanita seperti Eleanor bisa membahas kerja sama dengan Sunshine Real Estat.
"Sayang, ayo kita pulang."Leonardo tidak banyak beromong kosong, dia membalikkan badan dan berjalan ke hadapan Eleanor setelah tujuannya tercapai, dengan tenang dia meraih telapak tangan Eleanor dan berjalan keluar.
Eleanor terbengong, lalu terdapat perasaan yang tidak dapat diungkapkan ketika tangan kecilnya digenggam oleh sebuah tangan besar yang hangat.
Apa ini perasaan tenteram yang dibicarakan oleh orang orang?
Pada hari biasanya, jangankan menggenggam tangannya, bahkan Leonardo yang sedikit mendekat kepadanya pun akan membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
Namun, entah ada apa dengan Eleanor hari ini, bisa-bisanya dia lupa untuk melepaskan tangannya dari telapak tangan Leonardo.
Di bawah tatapan semua orang, Eleanor pergi dari ruang rapat dengan wajah yang memerah sambil digandeng oleh Leonardo.
Eleanor baru tersadar sesampainya di luar pintu perusahaan, lalu dia langsung menghempaskan telapak tangan Leonardo.
"Leonardo! Apa yang dikatakan oleh ibuku tidak salah, memang benar kamu adalah hama pengganggu!"
"Bagaimana mungkin aku akan percaya dengan omong kosongmu? Bisa-bisanya kamu membuat kekacauan ini. Habislah sekarang, awalnya Robert memang ingin mencoba mengusirku dari perusahaan, kali ini akhirnya dia mendapatkan kesempatan!"Eleanor menatap Leonardo dengan penuh kebencian, walaupun dia sudah bertaruh dengan Robert, saat ini dia masih belum memiliki gambaran sedikit pun.
Bahkan Eleanor masih tidak tahu di mana alamat perusahaan Sunshine Real Estat.
"Kamu pernah berkata kalau kamu tidak ingin direndahkan oleh mereka lagi dan ingin membuat mereka sadar kalau mereka buta, bukankah ini adalah kesempatan untuk membuktikannya?"jawab Leonardo dengan datar.
"Heh, terus? Kini bualan sudah dilontarkan, kalau nantinya aku tidak bisa melakukannya, maka aku akan semakin dicemooh oleh mereka!"Eleanor menatap Leonardo dengan geram.
"Aku juga pernah berkata kalau aku akan memberikan apa yang kamu inginkan."Leonardo menyalakan sebatang rokok usai berbicara, dia menghisapnya dengan tenang, lalu berkata, "Aku punya seorang teman yang bekerja di Sunshine Real Estat."Eleanor tertegun, dia menatap sisi wajah Leonardo yang diselimuti oleh asap rokok itu, dia terbengong menatapnya untuk beberapa saat.
Sudah tiga tahun, tapi dia tidak pernah menatap Leonardo dengan sungguh-sungguh, ini adalah pertama kalinya.
"Temanmu? Kamu punya teman yang sehebat itu?"Eleanor merasa sedikit tidak percaya.
"Kamu akan mengetahuinya ketika pergi ke sana besok, ayo naiklah."Leonardo menepuk-nepuk kursi belakang motor listrik.
Eleanor tidak banyak bertanya lagi, kini masalah sudah seperti ini, mengatakan apa pun sudah terlambat, berhasil atau tidak, tetap harus mencobanya.
Motor listrik tersebut sedikit usang, bagaimanapun juga Leonardo sudah mengendarainya dan membonceng Eleanor selama tiga tahun.
Leonardo menunggu Eleanor pulang kerja di sini setiap harinya dengan tepat waktu, lalu dia membawa Eleanor pulang bersama.
Dulunya, tidak banyak obrolan di antara mereka berdua, Eleanor duduk di kursi belakang dan tidak mengatakan apa pun, tapi hari ini dia mendadak ingin mengatakan sesuatu ketika melihat punggung Leonardo yang lapang itu.
"Kita beli mobil saja nanti setelah aku mengumpulkan sedikit uang lagi, kamu juga tidak perlu angin-anginan dan hujan-hujanan lagi ketika menjemputku,"kata Eleanor dengan tenang.
Badan Leonardo bergetar, usai termenung sesaat, dia menjawab"Baik."
Terlepas dari itu, Leonardo tidak melontarkan apa pun lagi.
Namun, dia mengingat hal itu di dalam hatinya, Eleanor menginginkan sebuah mobil.Hal itu sama sekali tidak sulit bagi dirinya yang sekarang.
Leonardo ingin membuktikan kemampuannya kepada Keluarga Salim, sehingga dia tidak berniat mengungkapkan statusnya sekarang atau memanfaatkan statusnya untuk melakukan sesuatu.
Namun, membeli sebuah mobil bukanlah masalah yang sulit.
Tampaknya, aku harus mencari waktu luang untuk pergi ke Showroom Mobil.’ Pikir Leonardo Salim di dalam hatinya.
Perusahaan Sunshine Real Estat.
Menyewa sebuah gedung tiga puluh lantai adalah gaya berbisnis yang membuat orang berdecak kagum.
Banyak mobil mewah yang sudah terparkir di depan pintu ketika Leonardo tiba di sana dengan mengendarai sepeda motor listriknya, paling tidak harga mobil-mobil itu mencapai beberapa miliar rupiah.
Selain itu, banyak orang yang berdiri di sana, diantaranya terdapat beberapa bos besar di Kota Veo.
Pada hari biasa, orang-orang tersebut adalah bos besar di Kota Veo yang dapat menggetarkan seisi kota hanya dengan hentakan kaki saja.
Namun saat ini, orang-orang tersebut berdiri di sana dengan patuh bagaikan bawahan yang menunggu perintah dari atasannya, terlukiskan senyuman menyanjung di wajah mereka.
"Hari ini manajer kami tidak menerima tamu, silakan kalian pulang," seru seorang satpam yang berdiri di atas tangga kepada semua orang di bawah.
Semua orang merasa kecewa, tapi mereka tidak berani banyak bicara dan berniat langsung pergi mengendarai mobil.
Tepat pada saat ini, Leonardo tiba dengan mengendarai motornya, dia memarkirkan motornya ke sebelah dengan perlahan, lalu berjalan ke pintu.
Motor usang Leonardo terkesan sedikit mencolok diantara barisan mobil-mobil mewah di depan pintu itu, susah bagi orang lain untuk tidak memperhatikannya!
"Eh, eh, bukankah itu adalah menantu yang hidup bergantung kepada istrinya di Keluarga Winarto itu?"Ada yang pernah bertemu dengan Leonardo di dalam kerumunan orang itu.
"Aku tidak pernah bertemu dengannya, tapi benar aku pernah mendengar kalau ada seorang menantu tidak berguna di Keluarga Winarto, untuk apa dia ke sini? Dia ingin mendapatkan jatah juga?"
"Ternyata benar ada orang yang tidak berguna seperti itu, datang dengan mengendarai motor listrik dan bahkan tidak memiliki pemahaman dasar dalam berbisnis, ada yang janggal kalau Sunshine Real Estat membiarkannya masuk."
Semua orang yang awalnya berniat pergi itu berdiri di tempat sambil mencibir, mereka ingin menyaksikan Leonardo diusir.
Jelas-jelas satpam itu berkata kalau hari ini Sunshine Real Estat tidak menerima tamu, tapi Leonardo masih berjalan ke depan dengan lantang, dia pikir dia itu siapa?
"Inilah bisnis pertamaku."Leonardo menghela napasnya sambil mendongak menatap bangunan tiga puluh lantai ini.
"Tuan, hari ini manajer kami tidak menerima tamu lagi, kamu buat janji dan datang lagi saja besok kalau ada urusan."Satpam itu tidak merendahkan Leonardo, sebaliknya, dia berbicara dengan sopan.
"Aku tidak mencari manajer kalian, aku mau mencari Hendrik Harahap,"ujar
Leonardo dengan datar.
Kedatangan ini adalah kedatangan Leonardo pertama kali sejak Sunshine Real Estat dibangun, masuk akal saja kalau satpam itu tidak mengenalnya.
"Hah?! Kamu ... salah, Anda ingin mau mencari Presdir? Apa Anda sudah membuat janji?"Badan satpam itu bergidik usai mendengarnya, tatapannya kepada Leonardo langsung berubah.
"Belum." Leonardo menggelengkan kepala, dia berpikir di dalam hatinya, perlukah bos membuat janji jika ingin bertemu dengan karyawan?
Para bos Kota Veo yang berada di belakang itu mencemooh, bahkan dengan status mereka, mereka tetap harus mengantri jika ingin bertemu dengan manajer dari Sunshine Real Estat.
Namun, bisa-bisanya Leonardo ini datang-datang langsung ingin bertemu dengan presdir, apakah dia pikir ini adalah permainan anak-anak?
"Tuan, Presdir tidak akan bertemu denganmu kalau tidak ada janji,"tolak satpam itu usai menghela napasnya.
"Beri tahu Hendrik kalau Leonardo Salim sudah datang, dia akan membiarkanku masuk."Awalnya Leonardo ingin menelepon Hendrik, tapi Hendrik pasti akan menyambutnya secara pribadi jika dia meneleponnya.
Leonardo tidak ingin orang-orang di belakangnya itu melihat Hendrik yang bersikap hormat terhadapnya.
"Ini... kamu tunggu sebentar."Satpam itu merasa ragu-ragu untuk sesaat, tapi dia tetap mengeluarkan interkom dan menghubungi bagian resepsionis.
"Presdir tidak ada janji hari ini, jadi dia tidak menerima tamu mau siapa pun itu."
Terdengar suara dingin seorang wanita melalui interkom.
"Periksa daftar nama tamu penting presdir, namanya Leonardo Salim."Sekilas satpam itu melirik Leonardo.
"Baik."Terdengar nada bicara yang tidak sabar dan diikuti oleh suara ketak-ketik papan ketik.
Sekelompok orang yang berada di belakang itu semakin mencemooh, mereka ingin melihat bagaimana menantu yang tidak berguna di Keluarga Winarto itu akan dipermalukan.
"Brak."
Tepat pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang terjatuh ke lantai melalui interkom.
"Ta, tamu penting!! Leonardo Salim! Bukan, bukan, di mana Tuan Leonardo yang terhormat?"Kali ini, suara wanita di sisi lain interkom itu terdengar sangat gelisah, juga ada sedikit kesan panik dan ketakutan.
Sang satpam langsung tercengang, tamu penting, tamu janjian kelas tertinggi?
Bahkan tidak bisa dikatakan sebagai anggota penting lagi, karena orang sekelas ini bisa bertemu dengan Hendrik kapanpun dia mau.
“A... Ada di sebelahku ...."Satpam itu menjawabnya dengan sedikit terbengong.