Ketika Leonardo disambut oleh dua wanita cantik yang tinggi dan berkaki jenjang, semua orang di belakangnya tercengang.
"A... Apa aku berhalusinasi? Orang itu benar-benar menantu Keluarga Winarto yang tidak berguna itu, Leonardo?"Orang yang mengenali Leonardo mulai menggosok mata mereka dengan penuh semangat.
"Kamu pasti tidak dapat memercayai apa yang kamu lihat. Apa direktur Sunshine Real Estat adalah orang yang bisa dengan mudah kamu jumpai?"Orang-orang ini bersikeras bahwa mereka pasti salah mengenali orang, Leonardo tidak mungkin punya kemampuan sebesar itu.
Di kantor yang sangat mewah.
"Tuan Muda, kamu hanya perlu menelepon jika ingin datang. Aku akan langsung mengutus orang untuk menjemputmu, kenapa kamu malah datang sendiri?"
"Kamu bisa juga telepon kalau kamu perlu mengurus sesuatu."Hendrik membungkuk hormat pada Leonardo.
Hendrik sudah berusia lima puluhan tapi masih tampak sangat energik dan berwibawa.
Namun, dia bersikap sangat hormat saat berhadapan dengan Leonardo.
Di luar mungkin dia dikenal sebagai direktur eksekutif Sunshine Real Estat, tapi faktanya, hanya dia yang tahu bahwa direktur sebenarnya dari perusahaan ini adalah tuan muda yang ada di hadapannya ini.
Jika dibandingkan dengan status Leonardo di Keluarga Salim, jabatan direkturnya ini bukanlah apa-apa.
Selain itu, hal yang lebih penting lagi adalah Hendrik dapat memiliki kesempatan ini berkat usaha Leonardo.
"Tuan Hendrik tidak perlu sungkan. Kamu sudah bersamaku sejak aku kecil, tidak ada kata sungkan di antara kita,"ujar Leonardo sambil menyesap tehnya.
Hendrik sudah seperti asisten pribadinya.
Leonardo dapat melihat kesetiaan Hendrik padanya, jadi dia cukup percaya pada pria itu.
"Ada beberapa hal yang harus kujelaskan padamu secara langsung."Sambil bicara, Leonardo mengeluarkan ponselnya dan mencari foto Eleanor.
"Dia adalah Eleanor."
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, ketika besok dia datang untuk membahas kerja sama, kamu hanya perlu menyetujui semuanya."
"Baik, Tuan Muda. Aku pasti akan melakukannya dengan baik,"jawab Hendrik dengan hormat.
Di rumah Eleanor.
"Eleanor, kamu gila? Kamu berani menerima tantangan sebesar ini? Kalau berhasil memang kita akan sangat sukses, tapi kalau gagal mau ditaruh di mana muka kita ini?"
"Kalau gagal bagaimana? Kamu juga bukan orang bodoh, bagaimana bisa kamu melakukan hal bodoh seperti ini?"
Vivi pun langsung marah besar ketika mendengar hal ini.
Dia telah mendengar tentang Sunshine Real Estat, juga mengetahui serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Keluarga Winarto.
Termasuk Keluarga Winarto, entah berapa banyak pengusaha kaya raya dan tersohor di Kota Veo, yang berusaha memiliki koneksi dengan Sunshine Real Estat.
Namun, pada akhirnya mereka semua ditolak mentah-mentah.
Semua orang mengerti bahwa tidak mungkin mereka dapat memenangkan kerjasama dengan Sunshine Real Estat.
Kalau dipikir-pikir, memang benar, tidak sembarangan orang bisa bekerja sama dengan Keluarga Salim.
Apa yang dapat diberikan oleh para pengusaha di Kota Veo ini kepada Keluarga Salim?
Keluarga Salim sudah memiliki semuanya yang bahkan lebih baik daripada milik mereka.
Di saat seperti ini, Eleanor malah mengambil alih kekacauan dan bertaruh dengan Robert, bukankah ini sama saja dengan cari mati?
"Eleanor, kamu benar-benar gegabah dalam hal ini."Dave pun mengerutkan kening juga.
Berdasarkan pemahamannya tentang Eleanor, meskipun Eleanor memiliki kepribadian yang kuat, dia juga tahu kapan harus bergerak maju atau mundur.
Eleanor tidak mungkin jatuh ke dalam perangkap orang lain secara membabi buta.
Eleanor terdiam. Ya, dia memang agak gegabah, sejujurnya sekarang pun dia bingung.
Dia sama sekali tidak percaya bahwa dia membuat keputusan gegabah seperti itu hanya karena kata-kata Leonardo.
"Ini konyol sekali! Sekarang juga kamu beritahu Nyonya Besar bahwa kita tidak akan melakukan tugas ini!"Vivi menatap Eleanor dengan kesal.
"Mana bisa"Eleanor tahu betul temperamen Nyonya Besar Winarto. Jika dia menarik kembali kata-katanya, Nyonya Besar pasti akan semakin kesal padanya.
Selain itu, jika dia menyerah atas gagasannya sendiri, jangankan urusan kalah taruhan, dia juga akan menjadi bahan tertawaan Keluarga Winarto.
Menyerah di tengah jalan bukanlah gaya Eleanor.
"Aku tidak peduli bisa atau tidak! Aku juga tidak peduli apa yang kamu pikirkan, yang jelas hal ini tidak boleh dilakukan!" ujar Vivi dengan tegas, tidak ada ruang untuk negosiasi.
Eleanor jadi murung, dia hanya ingin memercayai Leonardo sekali ini saja.Namun, dia tidak menyangka akan ada penghalang sebesar ini.
Mungkinkah Leonardo memang seperti yang dikatakan ibunya?
Apakah pria itu benar-benar pembawa malapetaka?
"Bu, aku yang meminta Eleanor menyetujuinya,"ujar Leonardo yang saat ini berjalan masuk.
Ketiga orang di dalam tercengang. Setelah beberapa saat, Vivi tampak gila.
"Bagus sekali kelakuanmu Leonardo. Sudah kuduga, kamu memang tidak ingin Eleanor baik-baik saja, bukan?"
"Karena kamu, kami sama sekali tidak diperlakukan dengan baik oleh Keluarga Winarto.
Kami harus menanggung ketidakadilan yang tak terhitung jumlahnya selama tiga tahun belakangan ini."
"Sekarang dengan usahanya sendiri Eleanor akhirnya berhasil membuat namanya dikenal di perusahaan, tapi kamu malah menyesatkan Eleanor hingga masuk dalam perangkap Robert!"
"Katakan, apa niatmu yang sebenarnya?"
Leonardo menggelengkan kepalanya dengan santai lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Kali ini, Eleanor tidak akan kalah taruhan."
"Apa hakmu berkata seperti itu? Dari mana kamu bisa begitu percaya diri?"tanya Vivi dengan agresif.
"Karena aku adalah Leonardo."Leonardo menjawab santai, lalu berbalik dan kembali ke kamar.
"Ka ... Kamu!"Vivi kesal setengah mati, dia menunjuk punggung Leonardo dengan perasaan muak.
Lebih baik dia berhadapan dengan Leonardo yang pecundang dulu.
Setidaknya pria itu tidak akan menentangnya.
Dia bisa memaki semaunya dan Leonardo hanya akan mendengarkannya.
Namun, hari ini Leonardo berani menentangnya.
Apa Leonardo kira karena Eleanor berkata tidak akan menceraikannya, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi?
Semakin memikirkannya, Vivi pun semakin marah.
Dia kembali membuat keputusan dalam hati.
Kali ini, bahkan jika Eleanor tetap bersikeras, dia pasti akan membuat Eleanor dan Leonardo bercerai!
Di dalam kamar.
Leonardo menggelar tikar di lantai lalu berbaring santai di atasnya.
Dia sudah melakukannya selama tiga tahun dan sudah terbiasa dengan ini.
Dia dan Eleanor telah menikah selama tiga tahun.
Meski secara status mereka adalah suami-istri, mereka tidak berlaku layaknya suami-istri.
Bahkan ketika mereka tidur, Eleanor tidur di kasur sedangkan Leonardo di lantai.
Eleanor yang pernah memandang rendah Leonardo, bagaimana mungkin mengizinkan Leonardo menyentuhnya?
Aroma samar dari sabun mandi tercium,Eleanor berjalan ke kamar dengan gaun tidurnya.
Leonardo langsung menutup matanya, seolah-olah dia sedang tidur.
Suasana jadi sunyi, Leonardo dapat merasakan bahwa Eleanor sedang menatapnya.
"Haih ...."Selang sesaat, Leonardo mendengar Eleanor mendesah pelan, kemudian Eleanor kembali ke tempat tidur.
"Apa kamu sudah tidur?"Tiba-tiba, Eleanor membalikkan tubuhnya dan menatap Leonardo yang ada di lantai.
"Ya Leonardo menjawab singkat."
"Sudah tidur masih bisa menyahut? Kamu berpura-pura tidur untuk membohongiku?"tanya Eleanor dengan dingin.
Leonardo kehabisan kata-kata.
Dia bisa bersikap acuh tak acuh terhadap orang-orang di Keluarga Salim, juga bisa mengabaikan ejekan dari orang-orang seperti Vivi.
Namun, Leonardo tidak bisa bersikap santai dihadapan Eleanor, wanita yang direndahkan selama tiga tahun karena dirinya.
"Apa yang harus kulakukan besok? Apakah temanmu itu bisa diandalkan?"Eleanor tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.
"Harusnya semua baik-baik saja, aku akan menemanimu besok,"jawab Leonardo dengan suara rendah.
Eleanor mengangguk, sekarang masalahnya sudah sampai ke titik ini. Dia tidak punya pilihan lain selain bergerak maju.
Percaya atau tidak pada Leonardo, dia tetap harus pergi ke Sunshine Real Estat.
Suasana di kamar itu kembali sunyi. Mereka berdua hanya bisa mendengar napas satu sama lain.
"Mengapa properti Keluarga Salim disebut Sunshine Real Estat?"
"Sunshine, Sunshine, Sun ... Salim?"gumam Eleanor secara tiba-tiba.
"Hah?"Hati Leonardo menegang, apa Eleanor menyadari sesuatu?
"Haha.. Kamu berpikir terlalu jauh.
Bagaimana mungkin keluarga sebesar Keluarga Salim bisa berhubungan dengan kita?"Leonardo merasa lega saat mendengar kata-kata Eleanor.
"Leonardo, coba kamu pikir. Kenapa Keluarga Salim memberikan hadiah pertunangan yang begitu besar? Siapa yang mereka hargai? Ini benar-benar mengejutkan.Entah siapa gadis yang beruntung itu."
Eleanor kembali teringat hadiah pertunangan dengan harga selangit yang mencapai satu miliaran itu.
Impian semua gadis adalah bisa menikah dengan keluarga kaya dan menjadi nyonya muda yang terhormat.
Bahkan meskipun sudah menikah, Eleanor masih mendambakannya.
Leonardo menahan kata-katanya, Eleanor belum pernah bicara sebanyak ini dengannya.
Dulu, mereka berdua seperti orang asing.
Biasanya mereka hanya akan saling diam sepanjang malam, lalu keesokan harinya mereka punya kesibukan masing-masing.
Malam ini benar-benar pertama kalinya Eleanor berbicara dari atas kasur dan dia yang ada di lantai mendengarkan.
Rasanya sangat luar biasa.
"Mungkin saja karena mereka menyukaimu,"bisik Leonardo sambil menyentuh hidungnya.
Eleanor mendengus dingin, kemudian sengaja berkata dengan marah kepada Leonardo,"Kalau mereka benar-benar menyukaiku, maka aku akan langsung menceraikanmu dan menikahi Tuan Muda Keluarga Salim itu!"Leonardo tidak menyahut, hanya berujar dalam hati, ’Tidak masalah, menikah saja dengannya. Bagaimanapun akan tetap sama.'
Cahaya bulan masuk ke dalam kamar melalui jendela dan menyinari wajah Leonardo.
Eleanor berbaring miring sambil menatap Leonardo dengan tenang.
Tiba-tiba dia bertanya,"Apa kamu tidak kedinginan tidur di lantai?"