Malam itu baik Sean maupun Ariel hanyut dalam kebersamaan mereka seakan tak memikirkan hal lainnya. Entah berapa lama waktu berlalu hingga Ariel kembali tersadar dari lamunannya. Mereka berdua tengah duduk sambil menghangatkan dirinya masing-masing. Ariel terlihat sedang memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu bidang Sean, begitu juga sebaliknya. "Sean …," suara Ariel membangunkan Sean, membuatnya harus mengangkat kepalanya untuk menatap gadis di sampingnya. "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Kak Vania dan Biru, yah?" "Aku tidak peduli. Aku lebih peduli dengan yang ada disini," jawab Sean santai. Kening Ariel mulai berkerut "Oh, jadi kau lebih senang mereka melihat kita dalam keadaan begini?" tanya Ariel kembali. "Kenapa? Kau keberatan?" goda Sean. "Dasar kau ini tidak

