Musik di kelab malam terdengar begitu menggelegar tapi itu tak mempengaruhi Ariel yang kini tengah duduk di bar. Ia terus meneguk minumannya, tatapannya jauh ke depan seakan berpikir keras dengan situasi yang dia hadapi.
Siapa lagi kalau bukan pria yang kini memenuhi otaknya. Tiap sel-sel di otaknya seolah-olah mengutuknya mengapa malam itu dia meminta Sean untuk menidurinya, pria yang kini jalan bersama kakaknya sendiri.
"Ariel!" tiba-tiba terdengar suara seorang gadis dari arah samping. Ariel menoleh dan tampak Suzy menghampirinya dengan raut wajah khawatir. "Kau kenapa? Tidak biasanya kau minum seperti ini."
Ariel malah cegukan sekali dan memicingkan matanya ke arah Suzy. "Aku tidak kenapa-kenapa?"
Barusan Ariel hendak meneguk wine yang ada di gelasnya namun buru-buru Suzy merebutnya. "Kau tidak biasa minum seperti ini!"
Ariel merebut gelas wine di tangan Suzy. "Kau tahu, ada filosofi dalam segelas wine," ucapnya dan Suzy malah diam melongo. "In Vino Veritas."
Suzy mengernyit tajam. "Kau bilang apa?"
"Itu artinya, di dalam wine ada kebenaran."
"Kau mabuk!" ujar Suzy, "lebih baik aku antar pulang!"
"Tidak mau!" tolak Ariel, "aku tidak punya rumah."
"Kau ini bilang apa, aku akan mengantarmu ke rumah orang tuamu."
"Tidak!"
Ariel lalu turun dari kursi bar dan mulai melangkah. Suzy memandangnya khawatir karena langkah Ariel yang terhuyung-huyung hingga akhirnya gadis itu benar-benar jatuh.
"Ariel!" teriak Suzy, ia langsung menghampiri Ariel namun tiba-tiba seorang pria tampan muncul dan buru-buru melihat kondisi Ariel.
"Sukurlah itu kau, apa Ariel tidak apa-apa?" tanya Suzy pada pria itu, "tadi kudengar kepalanya bunyi menghantam lantai."
Pria itu pun mengecek kepala Ariel, syukur hanya sedikit benjol di sebelah kiri kepalanya.
"Biar aku yang membawanya pulang," kata pria itu.
"Kau tahu di mana rumahnya?"
"Tenang saja, aku dekat dengan keluarganya."
Seketika Suzy merasa lega. "Tolong antar dia, ya!" ucapnya.
.
Sinar matahari pagi yang begitu cerah dan hangat masuk menerobos melalui celah gorden dan menyorot tepat di kelopak mata Ariel. Gadis itu mengerang sebentar lalu berbalik dan merapatkan selimut ke tubuhnya. Ia lantas membuka sedikit matanya dan tiba-tiba ia menyadari bahwa ia bukan berada di kamarnya.
Ariel langsung terbangun. Seketika ia mengecek tubuhnya yang entah sejak kapan berganti dengan kemeja putih yang sangat longgar di tubuh mungilnya. Ia pun menyadari bahwa dalaman yang ia kenakan kini tak melekat di tubuhnya. Ia memutar otaknya, ia ingat orang yang terakhir yang ia temui adalah Suzy tapi mengapa ia tak berada di rumah gadis itu?
"Kau sudah bangun?"
Dengan cepat Ariel menoleh dan tampak Sean mengenakan kimono satinnya berwarna abu-abu gelap, kini berdiri di ambang pintu.
"Kau?" ujar Ariel, "kenapa kau ada di sini?"
Sean melongo sejenak lalu ia terkikik. "Kau ini bicara apa? Ini apartemenku!" terangnya.
Ariel tampak merasa bodoh. "Maksudku ... kenapa aku ada di sini?"
"Kau tidak ingat semalam?" Sean malah bertanya balik dan membuat Ariel berprasangka yang bukan-bukan.
"Kau ... kau mengikuti, ya?" tebak Ariel.
Sean malah tertawa sebentar lalu ia melangkah menghampiri Ariel. Ia duduk di tepi kasur dan memandang Ariel dengan tatapan kerinduan. "Bagaimana kabarmu sebulan ini?" tanyanya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan?" sergah Ariel, "semalam kamu apakan aku?"
Sean terdiam, ia tak menyangka bahwa gadis yang dulu bercinta dengannya segalak ini. Tapi entah mengapa ada sesuatu yang membuatnya tertarik, salah satu sudut mulutnya melengkung ke atas.
"Menurutmu?" tantang Sean.
Ariel yang gemes hendak turun dari ranjang tapi begitu ia sadar tubuhnya yang tanpa dalaman menerawan di balik kemeja putih polos, ia pun buru-buru menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
"Kenapa harus malu?" tanya Sean dengan entengnya, "aku kan sudah pernah lihat semua-"
"Mana bajuku?" potong Ariel, wajahnya sudah seperti udang rebus, "aku mau pulang sekarang!"
"Bajumu kotor, kau tidak ingat kalau kau muntah semalam?" balas Sean.
Ariel diam, wajahnya cemberut karena kesal dengan posisinya saat ini, ia merasa benar-benar sial. Tapi Sean malam tersenyum memandang wajah cemberut gadis itu. Ia lalu beranjak dan berjalan menuju lemari, mencari-cari apakah ada baju yang bisa dipakai untuk Ariel.
Akhirnya, Sean menemukan kemeja hitam tebal dan panjang di lemarinya, ia lalu meletakkannya di ranjang. "Mandilah! Handuk ada di lemari kamar mandi," ucapnya, "habis itu aku tunggu kau di bawah.
Sean pun turun ke bawah, ia menuju dapur dan menyiapkan sarapan untuknya bersama Ariel. Dengan cekatan Sean membuat spagety, beberapa kali bibirnya tersenyum hingga tampak lesung pipitnya yang membuatnya semakin tampan.
Sean lalu meletakkan hasil masakannya ke atas meja makan dan duduk di sana sambil menunggu Ariel turun dari tangga. Ia tersipu, akhirnya ia mendapat kesempatan bersama Ariel bahkan sarapan bersama dengannya.
Beberapa menit bahkan hampir setengah jam sosok gadis itu tak tampak turun dari tangga. Sean yang tak sabar lagi beranjak dari kursinya langsung menuju tangga dan menaikinya dengan berlari-lari kecil.
"Ariel!" panggil Sean setengah teriak sambil membuka pintu, namun tak ada jawaban dan sosok gadis itu di sana.
Sean pun mencari gadis itu ke kamar mandi namun di sana hanya ada handuk bekas dikenakan Ariel saat mandi dan kemeja putih yang gadis itu kenakan semalaman.
"s**t!"
Sean langsung berlari ke bawah dan benar pintu keluar apartemennya terbuka yang berarti gadis itu telah pergi tanpa pamit padanya. "Tengil juga gadis itu," gumam Sean agak kesal.
.
"Darimana saja kamu! Kenapa baru pulang sekarang?" teriak Rosita begitu ia mendapati Ariel yang hendak menaiki tangga.
Langkah Ariel terhenti, ia bergeming sesaat sebelum ia menoleh ke arah ibunya, takut-takut ia menatap mata ibunya.
"Aku dari rumahnya Suzy," jawab Ariel, "aku nginap di rumahnya."
"Oh, ya? Kau pulang dengan memakai kemeja laki-laki?" ucap Rosita tampak tak percaya pada putri bungsunya itu.
Ariel mendesah sekali. "Ini bajuku, Ma! Modelnya memang oversize ...."
"Alasan saja!" sergah Rosita tak percaya. "Mana handphone-mu?" pintanya dengan tatapan mengintimidasi.
"Buat apa, Ma?"
"Mana?" paksa Rosita.
Terpaksa Ariel merongoh tasnya lalu menyerahkan handphone-nya ke mamanya. Rosita langsung mencari kontak Suzy dan menelponnya.
"Halo? Ya, Ariel?" sapa Suzy di seberang.
"Suzy, ini Tante," balas Rosita.
"Ya, tante?"
"Apa Ariel nginap semalam di rumahmu?"
Ariel mengigit bibir bawahnya, beberapa detik tak terdengar suara Suzy. Ariel takut jika Suzy mengatakan bahwa Ariel tak menginap di rumahnya.
"Iya, Tante. Semalam Ariel nginap di rumah Suzy karena sudah terlalu malam."
Seketika Ariel menghembuskan napasnya, ia lega karena temannya yang satu itu bisa diandalkan.
"Terima kasih ya, Suzy," kata Rosita, "maaf Tante sudah ganggu kamu pagi-pagi."
"Oh, tidak apa-apa kok, Tante."
Rosita mematikan panggilan telponnya lalu menyerahkan kembali handphone Ariel. "Kau kan bisa bilang kalau mau menginap di rumah Suzy," kata Rosita dengan alis mengernyit.
"Aku ketiduran, Ma," kata Ariel dengan entengnya.
"Baiklah, untung Ayahmu tidak mencarimu semalam," kata Rosita.
"Aku ke kamar dulu, Ma."
Ariel lalu berbalik dan dengan cepat menaiki tangga.
.
TBC