CHAPTER 7

1054 Kata
Ariel menyesap kopi dari dalam cangkir yang ia pegang untuk kesekian kalinya. Sesekali, ia menghela nafas berat. Ia menjadikan tangan kanannya sebagai tumpuan dagu, dan matanya yang memancarkan warna mutiara hitam menatap para pelayan di café-tempat di mana ia berada sekarang. Suzy, sang sahabat yang duduk di depan Ariel terus menatap Ariel dengan pandangan seolah bertanya 'ada apa?'. Namun sayang, Ariel tidak menyadari apa maksud pandangan Suzy. Akhirnya, Suzy hanya mengalihkan pandangannya menuju ke luar. Menatap cuaca yang cerah namun panasnya sangat menyengat. Karena merasa bosan atau lebih tepatnya merasa tidak dipedulikan, Suzy mengambil tindakan. "Ariel, kenapa diam saja? Kau marah padaku?" ucapnya pelan mengaburkan pandangan kosong Ariel. "Apa aku salah ngomong ke mamamu?" Ariel hanya mengalihkan matanya menghadap Suzy dan tersenyum. Mencoba memberitahukan jawabannya melalui ekspresi wajah yang ia berikan pada Suzy. "Kau baik-baik saja, kan? Tidak biasanya kau minum sampai mabuk seperti itu, aku benar-benar khawatir." Sebenarnya, Ariel merasa malas untuk menjelaskannya pada Suzy. Mungkin bukan malas untuk menjelaskan, tetapi tidak tahu harus menjawab apa. Mana mungkin ia menceritakan bahwa ia pernah bercinta dengan seorang pria padahal Suzy tahu pasti, Ariel tak pernah menjalin hubungan asmara dengan pria mana pun, dan sialnya pria itu malah mendekati kakaknya. "Ariel, kau tidak mau cerita? Aku siap mendengar semua keluh kesahmu, kok." Ariel tersenyum sebelum bersuara. "Aku tidak kenapa-kenapa, aku hanya memikirkan bagaimana aku harus mencari tambahan uang lagi." "Aku kan sudah bilang kalau kau ikut bekerja di toko bungaku saja," ujar Suzy, "oh, ya ... ngomong-ngomong ... malam itu kau menginap di mana?" Ariel terdiam, tampak kebingungan menjawab. "Malam itu aku ...." "Hayo! Malam itu Sean yang mengantarmu pulang," desak Suzy. Ariel lalu mengambil cangkir minumannya dengan salah tingkah dan hendak menyesap kopinya. "Jangan-jangan kamu nginap lagi di rumahnya." "Uhuk!" Ariel langsung tersendak, sebagian minumannya keluar dari mulutnya. Buru-buru ia mengambil tissue dan mengelap bibirnya yang mungil dan merona. "Astaga, pelan-pelan minumnya?" ujar Suzy khawatir, "tingkahmu benar-benar aneh akhir-akhir ini." "Ya, dia memang aneh." Ariel langsung menoleh cepat ke samping begitu mendengar suara pria. Sosok pria tinggi memakai kaos hitam tengah mengedipkan matanya ke arahnya. "Gilbert!" "Ehem," seseorang di samping Gilbert berdehem dan membuat pandangan Ariel sukses berpaling ke dia. Mata Ariel membulat geram. "Kau!" Sean mengernyit kesal, ia yang menegur Ariel namun pandangan gadis itu malah lebih awal tertuju ke pria lain. Apalagi Ariel tampak tak ramah pada dirinya. Sean paham, ia tak mau membuat mood gadis itu memburuk di sana walaupun cafe di sana tak ramai. Sean lalu menarik lengan Gilbert. "Gil, ayo! Jangan lupa tujuan utama kita!" ucap Sean menarik Gilbert ke meja tepat di belakang Ariel. Ariel menghela napas lega, ternyata mereka tak berniat untuk gabung di mejanya. "Eh, Sean itu keren, ya?" kata Suzy, "dia tampan dan kaya, kudengar dia dekat dengan keluargamu, ya?" "Ya, dia lagi dekat dengan kak Vania." "Benarkah? Wow, orang seperti Sean pastilah mencari high value woman seperti kak Vania." Ariel diam sebentar lalu ia mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya sekali. Samar-samar ia mendengarkan percakapan antara Sean dan Gilbert, ia menunggu Sean akan bercerita tentang kencannya dengan Vania hingga ia tak fokus mendengarkan cerita Suzy akan rencana pernikahannya, namun kedua pria itu hanya membicarakan cuaca yang akhir-akhir ini terlalu panas. "Jadi, bagaimana? Apa sudah ada pria yang mendekatimu?" tanya Suzy tiba-tiba. "A-apa?" Suzy menghela nafasnya, "kau memang tidak mendengarkan kata-kataku tadi ya? Apa ada pria yang mendekatimu?" kata Suzy menimpali, "tapi kau pasti pernah diam-diam dekat dengan laki-laki, kan?" tukasnya, "aku sebenarnya penasaran ... apa kau pernah ciuman?" "Ciuman?" Wajah Ariel menjadi merah padam. "Ti-tidak pernah!" "Ahahahaha!" Tiba-tiba terdengar suara tawa dari Sean yang membuat Gilbert keheranan. Ariel mengambil posisi berdiri hingga terdengar seretan kursinya yang kasar ke belakang. Rasanya ia ingin segera pergi dari cafe itu. "Ma-Maaf Suzy, aku mau ke toilet!" ujar Ariel. Sean pun turut berdiri, "Gilbert, aku ke toilet dulu." Ariel langsung duduk setelah mendengar Sean juga akan ke toilet. "Ah, Suzy aku tak jadi ke toilet," ucapnya pelan. "Ah, tiba-tiba tidak ingin ke toilet." Ariel dapat mendengar Sean membatalkan rencananya untuk ke toilet. Ia memutar bola matanya dengan kesal karena memang niat Sean sepertinya ingin mengikutinya. Jangan-jangan pria itu juga mengikutinya selama ini dan membuat pertemuan yang seolah-olah tak sengaja di cafe ini. Ariel berdiri dan meninggalkan Suzy. "Aku ke toilet," ucapnya pelan. Diam-diam Sean mengikutinya dari belakang. Di sisi lain, Gilbert menghampiri Suzy, mengambil posisi duduk di depannya. "Yah, mereka berdua aneh ya?" ucapnya sambil menumpukan dagunya pada tangan kanannya. Suzy menganggukkan pelan kepalanya tanda setuju. . "Jadi, kau mengikutiku sampai di sini?" sergah Ariel ketus. Ia benar-benar marah setelah mendapati Sean berdiri di belakangnya. Sean menaikkan bahunya, "Disini café, semua orang bebas ke sini bukan? Dan lagi, kau tidak perlu teriak-teriak di toilet begini." Ariel semakin kesal menatap pantulan bayangan Sean dari cermin yang sedari tadi memantulkan seluruh isi ruangan toilet. Ia menggeram kesal dan menggertakkan giginya. Sean sedari tadi menatap ke arah busana Ariel. Sneaker putih, dress selutut berwarna coklat gelap berlengan pendek, rompi renda berwarna nude yang panjangnya melebihi dress-nya. Sesaat Sean terpana akan mata bulat nan besar Ariel yang terpantul dari cermin. Ariel mencuci tangannya ke westafel dan membasuh wajahnya yang mulus. "Aku tidak peduli kau mau mendekati Vania tapi jangan melibatkanku dengan urusan kalian," ucap Ariel. Tiba-tiba terdengar suara tawa sekelompok wanita yang hendak memasuki toilet. Dengan cepat Sean meraih lengan Ariel dan menarik gadis itu ke dalam salah satu sekat toilet dan menguncinya lalu memangku Ariel untuk duduk di closet yang tertutup. "Apa yang kau-" "Ssttt!" Sekelompok wanita itu memasuki toilet, sambil tertawa mereka membicarakan pacar-pacar mereka. Sejenak Ariel dan Sean diam mendengar ocehan wanita-wanita itu hingga tiba-tiba Ariel merasakan tangan Sean menyelip masuk ke bawah dress Ariel dan mulai meraba pahanya. Ariel langsung cepat-cepat mengenyahkan tangan Sean yang meraba paha putih mulusnya. "Kau tidak mau kalau kita ketahuan di sini, bukan?" bisik Sean tepat di telinga Ariel. Ariel menoleh dan melototkan matanya ke arah Sean namun pria itu menyunggingkan senyumnya yang licik. Ariel mulai panik saat tangan Sean meraba bagian luar dalamannya dan memijit-mijit miliknya. Gadis itu mulai tidak sanggup mengeluarkan desahan halusnya, akhirnya ia membekap sendiri mulutnya agar tidak terdengar oleh wanita-wanita di luar sana. Ariel memejamkan matanya, keningnya mengernyit tajam kala menahan gairahnya saat tangan Sean menyelip masuk meraba k*********a dan memainkan klitorisnya hingga akhirnya sekelompok wanita-wanita itu keluar dari toilet. . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN