CHAPTER 8

1027 Kata
"Ahh!" Ariel mendesah cukup nyaring saat ia melepaskan dekapan tangannya dari mulutnya, sementara Sean terus memainkan jari-jarinya di sana hingga membuat Ariel tak kuasa menahan napasnya yang tertatih-tatih. "Bagaimana? Kau menikmatinya, kan?" bisik Sean begitu seksi. Satu tangan Ariel memegang dinding sementara bibir Sean mencumbu leher jenjang nan putih milik Ariel sambil mulai memasukkan jari tengahnya ke l**************n milik Ariel. Ariel hanya bisa memejamkan matanya sambil mendongak, ia kini dikuasai kenikmatan gairah hingga tak menyadari kini di sana hanya ia bersama Sean berdua. "Sshhh ... ah ... sshhh ... ah ...." Ariel hanya bisa mendesis dan mendesah begitu Sean memainkan jarinya lebih cepat di sana. Sean pun semakin bersemangat, satu tangannya lagi meremas satu buah d**a Ariel di balik dress yang gadis itu kenakan. "Ng ... ah ... ah ...! Napas Ariel semakin memburu tanda ia tak lama lagi mencapai puncaknya sementara Sean semakin mempercepat permainan jarinya hingga terdengar suara becek di bawah sana. "Ng ... ahh!" Tubuh Ariel tiba-tiba mengejang, kakinya bergetar dan Sean bisa merasakan dinding kenikmatan milik Ariel berdenyut hebat. Setelah beberapa detik Ariel hanya terdiam sambil mengatur napasnya merasakan tangan Sean memijit-mijit k*********a yang sangat basah oleh cairan orgasmenya. "Kau merindukan rasa nikmat ini, kan? Bagaimana kalau kita lakukan seperti sebulan yang lalu?" Ariel menggeram marah, ia berdiri dan berbalik menghadap Sean. Plak! Satu tamparan tepat mendarat di pipi kiri Sean. Pria itu lalu meraba pipinya, ternyata tamparan Ariel tak main-main kerasnya. Sean menoleh ke arah Ariel dan memandang wajah gadis itu. Sean merasa bersalah saat memandang mata Ariel yang kemerahan karena menahan tagis. Ariel lalu bergegas pergi meninggalkan Sean dan pria itu tentu tidak tinggal diam. Ia mengejar Ariel hingga mereka menghampiri Suzy dan Gilbert yang ternyata sedang asyik berbincang sambil tertawa. "Suzy, aku pulang dulu," kata Ariel berusaha menahan tangisnya. "Eh, serius? Kok tiba-tiba?" ujar Suzy heran, "matamu merah ...." Ariel mengambil tasnya lalu ia berlari meninggalkan cafe itu. "Hai, ada apa dengan dia?" tanya Gilbert ke Sean namun Sean hanya diam memandang kepergian Ariel. . Sean kini duduk di ruang kerja ayahnya, merenung sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerja yang terasa empuk. Ia teringat lagi sorot mata Ariel yang memerah seakan menahan tangis. Sean berpikir, apa yang dia lakukan itu sudah keterlaluan? Sean mencoba menepis pikiran barusan. Sebagai pria yang berpengalaman, ia tahu betul bagaimana membedakan wanita yang menikmati s*x dengan yang tidak. Dan Sean yakin, Ariel begitu menikmati apa yang Sean lakukan padanya di toilet. "Dasar wanita!" umpat Sean bergumam. Tiba-tiba pintu di ruangan itu terbuka. Sean menoleh dan alangkah terkejutnya ia melihat Angel yang mengenakan lingery yang sungguh menantang kelaki-lakian anak dari suaminya. "Dari tadi kau tidak keluar dari ruangan ini," kata Angel sambil berjalan menghampiri Sean. "Ada apa kau bergelap-gelapan di sini?" "Tidak ada," jawab Sean dingin matanya tertuju ke tubuh molek ibu sambungnya itu. "Oh, ya?" Angel tersenyum begitu menggoda ke arah Sean. Langkahnya semakin mendekat. "Bagaimana kencanmu dengan gadis bernama Vania itu?" "Cukup lancar," kata Sean. Angel lalu memegang kedua pegangan kursi kerja. "Aku tahu kau tidak begitu b*******h dengan gadis itu, kan? Aku tahu tipemu." Perlahan Angel menaikan kakinya hingga duduk menghadap di pangkuan Sean. Sean yang memang sedaritadi b*******h membiarkan wanita itu melepaskan kancing kemejanya satu persatu. "Gadis itu terlalu polos ... aku tahu dia tak berpengalaman dengan laki-laki ...." Bibir Angel menyentuh bibir Sean begitu menggoda, tangannya mengusap liar kepala Sean. Sementara Sean yang sudah terangsang membalas kecupan-kecupan itu, kecupannya kini beralih turun ke leher Angel hingga ke d**a wanita itu. "Ah ... Sean ... kau memang menggairahkan ...." Sean tampaknya tak tahan, ia menarik ke bawah tali lingerie Angel dan langsung mengisap puncak buah d**a wanita itu, sementara Angel hanya bisa mendesah nikmat dan menjambak pelan rambut Sean. Sean mulai tak nyaman dengan posisi duduk, ia pun berdiri sambil mengangkat Angel dan mendudukkan Angel di meja. Angel langsung mengangkangkan kakinya dan tampaklah k*********a yang mulai lembab. Sean langsung mengecup leher dan d**a Angel dengan liar sementara Angel melepaskan resleting celana Sean. Angel pun memijat milik Sean yang mulai menegang. "Ah ... ini benar-benar nikmat ...," desah Angel. Nikmat? Tiba-tiba sorot wajah kekecewaan Ariel muncul di kepala Sean. Pria itu menghentikan aksinya dan mundur ke belakang. Angel yang sudah terbakar nafsu memandang bingung ke arah Sean. "Kenapa?" tanyanya. "Aku tidak bisa melakukannya," ucap Sean. "Hah? Kau bohong!" tukas Angel tak terima, "Punyamu sudah mulai mengeras tadi." "Cih ...." Sean memalingkan wajahnya, ia lalu menutup resleting celananya dan mulai melangkah menjauhi Angel. "Hai, kau mau kemana?" "Tidur!" seru Sean acuh tak acuh. Ia pun berjalan menuju kamarnya. Ia meraih handphone-nya, ada beberapa notifikasi panggilan telepon dan chat dari Vania. 'Hai, kau sudah tidur?' Segera Sean membalas chat Vania. 'Maaf baru balas, aku belum tidur. Ada apa?' Vania langsung membalas chat Sean. Sepertinya Gadis itu sengaja menunggu balasan chat dari pria itu. 'Besok apa kamu sibuk? Aku mau mengajakmu pergi ke acara nikahan sepupuku besok.' Acara nikahan sepupu? Pasti Ariel juga datang di acara itu. Cepat-cepat Sean membalas chat Vania. 'Aku tidak sibuk. Bagaimana kalau aku jemput besok? Jam berapa acaranya?' 'Oke, acaranya mulai jam 7 malam. Aku tunggu, ya. See ya!' Sean tersenyum senang sambil menaruh handphone-nya di meja nakas. Takdir benar-benar berpihak padanya dan besok dia bertemu lagi dengan Ariel. . Malam yang ditunggu-tunggu oleh Sean tiba juga. Pria itu kini berada di depan rumah keluarga Anata dengan membawa satu bucket bunga yang sangat indah. Ia membunyikan bel pintu dan tidak lama kemudian pintu itu terbuka dan tampaklah sosok Vania yang terlihat sangat anggun dengan dress panjang berwarna merah. "Bunga untukmu," ucap Sean sambil menyerahkan bucket bunga itu ke Vania. Vania tampak senang dan tersipu malu. "Terima kasih," ucapnya. Tiba-tiba Ariel muncul dengan dress selutut tanpa lengan. "Kak, tolong pasang-" Ia berhenti bersuara ketika melihat Sean berada di depan Vania, alisnya mengerut seakan bertanya mengapa pria itu muncul lagi di hadapannya? "Sini!" kata Vania. Ariel lalu berbalik dan menyibak rambutnya ke samping, punggung putih dan mulusnya terpampang nyata di hadapan Sean. Mata pria itu sampai tak berkedip melihatnya Vania lalu berupaya mengikat tali di bagian punggung dress yang dikenakan Ariel. "Bukan begitu, Kak ... itu terlalu longgar ...." "Biar aku yang ikat!" Tiba-tiba Sean menawarkan bantuannya. . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN