CHAPTER 9

1120 Kata
Ariel sedikit menoleh setelah Sean menawarkan bantuannya. Sorot matanya begitu dingin sedangkan Sean menyunggingkan salah satu sudut mulutnya. Sean maju dan meraih tali dress di bagian punggung Ariel. Beberapa detik ia terdiam memandang begitu moleknya punggung gadis yang pernah ia jamah. Ia bisa merasakan darahnya berdesir dan jantungnya berdebar begitu hebat. Seindah ini kah? pikir Sean. Mungkin jika Vania tak ada di sana, Sean tak akan bisa menahan untuk mencumbu tiap senti kulit punggung itu. Sean lalu mengikat pelan tali dress Ariel walaupun ia sulit berkonsentrasi. "Bagaimana? Sudah pas?" tanyanya setelah mengikat tali itu. "Iya," jawab Ariel singkat. Sean lalu menoleh ke arah Vania. "Ayo kita berangkat?" Vania mengangguk lalu mereka berjalan beriringan sementara Ariel berjalan di belakang mereka. Diam-diam Sean merasa senang karena gadis itu ternyata akan ikut ke mobilnya. Sean membukakan pintu mobil untuk Vania di depan lalu berputar mengitari mobilnya dan membuka pintu mobil untuknya. Ariel dengan santai membuka pintu mobil di belakang dan duduk dengan tenang. "Jangan lupa pasang seat belt-nya!" kata Sean pada Vania. Pria itu lalu memperbaiki posisi kaca spion depan sehingga ia bisa melihat wajah Ariel yang tampak tak ramah, tengah melihatnya melalui kaca spion itu juga. Sean tersenyum sekilas lalu ia menghidupkan mesin mobilnya. "Aku baru ingat kalau aku punya teman yang kuliah di CU, dia di jurusan psikologi, kuperhatikan dia sibuk wara-wiri di TV," ujar Sean memulai percakapan dengan Vania. "Oh, ya? Siapa namanya? Aku kenal beberapa warga lokal jurusan psikologi," balas Vania. "Dia bukan warga negara sini tapi dia sering ke sini karena mamanya orang Indonesia. Dia juga ada pekerjaan di London." "Oh ... aku penasaran, siapa dia?" "Kapan-kapan aku kenalkan nanti." Melalui kaca spion depan, Sean melirik Ariel yang hanya terdiam di belakang sambil memandang ke arah jendela. Sean bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang gadis itu pikirkan? Selama perjalanan, Sean asyik bercerita dengan Vania mengenai kota New York karena Sean beberapa kali ke sana untuk urusan bisnis. Sementara Ariel tampak tak peduli dengan pembicaraan yang terkesan 'berat' itu. Yang satu lulusan luar negeri, yang satunya lagi CEO di perusahaan ternama. Menurut Ariel, pembicaraan kaum terpelajar dan terpandang sangatlah membosankan. Tidak lama kemudian mereka pun sampai di hotel bintang lima, tempat pesta pernikahan sepupu Vania dan Ariel. Begitu turun dari mobil, Ariel langsung di sapa oleh beberapa sepupunya yang tampaknya seumuran dengannya. Mereka pun menarik Ariel masuk ke dalam. Sementara Vania menggandeng tangan Sean masuk ke dalam. "Hai, Sean" seru Andri Anata. Ia dan istrinya menghampiri Sean dan Vania. "Ayo masuk!" ucapnya. Seperti biasa, Andri dan Rosita pun memperkenalkan putri kebanggannya ke tamu-tamu penting mereka. Mereka juga tampak bangga memperkenalkan Sean pada tamu-tamu itu. Sean dan Vania dengan santun tersenyum pada tamu keluarga Anata dan ikut bercengkrama mengenai bisnis. Sementara Ariel asyik bergabung dengan beberapa sepupunya. "Ariel ini cantik banget, ya!" seru salah satu dari mereka, "kalau aku jadi kamu, aku pasti akan ikut casting atau ikut agensi model." "Aku ini pendek. Mana ada agensi yang menerima model sependek aku?" Mereka pun tertawa. Ariel menoleh sedikit dan tatapannya tak sengaja mengarah ke Sean yang tengah memandangnya dari jarak beberapa meter. Ariel merasa risih, akhir-akhir ini pria itu selalu saja muncul di hadapannya, entah sengaja atau tidak yang pasti Ariel benci dengan situasinya. Ariel pun membuang wajahnya dan karena itu Sean memalingkan pandangannya dan kembali bercengkrama dengan orang-orang penting itu. "Lihat, cewek itu cantik sekali, ya?" "Yang mana?" "Itu, yang pakai dress hitam dan punggungnya kelihatan." "Oh ... kau perhatikan juga?" "Iyalah, mana mungkin aku tidak memperhatikan cewek secantik itu?" "Cih, aku sudah bertunangan. Kalau belum, sudah daritadi kudatangi dia." "Tunggu! Biar aku yang datangi dia." Sean bisa mendengar pembicaraan kedua pria itu. Keningnya mengernyit tajam dan ada rasa amarah. Apakah perasaan itu perasaan cemburu? Seorang pria muda berjas silver mendatangi Ariel. "Maaf, boleh kenalan?" sapa Pria itu tanpa basa-basi. "Cieee," para gadis-gadis muda itu berseru menggoda Ariel. Ariel tersenyum pahit. "Maaf, aku ada pacar," ucapnya. "Oh, maaf kalau begitu." Merasa ditolak, pria itu pun mengundurkan diri. "Serius sudah punya pacar?" bisik salah satu sepupu Ariel. Tapi Ariel hanya tersenyum. Sementara dikejauhan Sean memandang sengit ke arah Ariel. Sekelompok gadis-gadis itu pun dengan kompak menuju toilet. "Ariel, cowok yang datang bersama kak Vania itu pacarnya, ya?" "Mungkin," jawab Ariel, "kenapa?" "Dia keren, ya? Ganteng, cool, pokoknya idaman banget." "Iya, pantaslah dia pacaran sama kak Vania, sudah cantik, pintar, lemah lembut. Apalagi coba kekurangannya? Pantaslah cowok sekeren itu terkelepek-kelepek dengan kak Vania." Ariel menghela napas, ia lalu membasuh tangannya ke westafel lalu ia memperbaiki lipstiknya yang agak luntur karena sudah makan tadi. "Eh, sudah mau acara foto-foto!" seru salah satu dari mereka setelah melihat layar handphone-nya. "Oh, ya? Ayo cepat, nanti kita tidak kebagian foto lagi!" "Duluan saja, nanti aku belakangan!" kata Ariel. Para gadis-gadis itu pun berbondong-bondong keluar dari toilet. Sementara Ariel masih bercermin, tapi sebenarnya ia malas berkumpul apalagi harus berfoto-foto bersama keluarga mereka. Beberapa menit kemudian Ariel beranjak dari sana. Ia berjalan keluar dari toilet namun seseorang tiba-tiba membekap mulutnya dan menariknya ke tempat yang lebih sepi. Ariel membelalakkan matanya, siapa lagi kalau bukan Sean? "Apa-apaan sih kamu?" sergah Ariel sambil menarik tangannya dengan paksa. "Kamu berniat membuatku panas, kan?" Ariel mengernyit tak mengerti. "Panas apa?" balasnya. "Kau mencoba menggodaku dengan pakaianmu itu lalu membuatku kesal dengan mengaku bahwa kau mempunyai pacar. Apa benar kau mempunyai pacar?" Ariel melongo. "Kau ini ... ngomong sembarangan saja!" tukasnya. "Ah, sudahlah! Jangan ganggu aku! Aku mau gabung dengan sepupuku sebentar lalu pulang dengan mereka biar kau bisa berduaan dengan kak Vania. Aku capek berlama-lama di sini." Ariel berbalik lalu berjalan menjauh dari Sean tapi baru beberapa langkah Sean menarik tangannya dan membawanya lari dari sana menuju parkiran. Dan kini mereka berada di samping mobil Sean. "Kau ini kenapa sih?" Ariel tampak gusar dengan sikap Sean. "Masuk!" perintah Sean. "Kak Vania masih ada di dalam." Sean langsung membuka pintu mobil dan menyeret Ariel masuk ke mobil. Sean langsung duduk di samping Ariel sementara gadis itu masih kebingungan dengan sikap Sean yang tiba-tiba memaksanya apalagi kini pria itu memasangkan seat belt untuknya. "Kau mau pulang, kan? Baiklah, aku akan mengantarmu." Sean langsung menghidupkan mesin mobilnya dan menancap gas meninggalkan parkiran itu. . "Kenapa kau membawaku ke sini?" Ariel tampak kesal karena malah di bawa ke tempat yang sepi dan gelap. Entah kemana Sean membawa gadis itu pergi. Kiri kanan hanya tampak pepohonan "Katakan! Siapa pacar kamu?" balas Sean, sorot matanya memandang tajam ke arah Ariel. "Hah? Apa kenapa kau mau tahu?" tantang Ariel, "Lagi pula, itu tidak ada urusannya denganmu!" "Siapa bilang tidak ada?" "Aku!" jawab Ariel, dagunya sedikit terangkat m seakan menantang pria itu. "Ah, sudahlah! Lebih baik aku turun di sini." Ariel hendak membuka pintu mobilnya namun tiba-tiba Sean menariknya dan mencumbu paksa bibir Ariel dengan ganasnya. . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN