CHAPTER 10

1259 Kata
Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Sean. Pria itu bergeming sejenak merasakan sakitnya tamparan gadis yang telah dicium paksanya tadi. Sean memegang pipinya sambil meringis sekali lalu dengan tiba-tiba ia bergerak mengungkung tubuh Ariel dan kembali memaksa untuk mencumbu bibir gadis itu. Ariel mencoba meronta, tangannya mendorong d**a Sean namun pria itu malah mengungkung tubuh Ariel lebih erat. Beberapa detik ciuman itu terlepas sejenak hanya untuk menghirup pasokan udara lalu Sean melanjutkan ciumannya dengan penuh nafsu. "Humpf ...." Ariel mencoba menutup bibirnya, tak ingin memberi ruang bibir Sean untuk lebih menyesap bibirnya lebih jauh. Namun, jauh diperkiraan, ciuman pria itu malah semakin turun menjamah tiap senti kulit lehernya. "Hentikan!" gertak Ariel, "atau aku teriak!" Ariel mulai berani memberi ancaman. "Silahkan saja dan kita akan ditemukan banyak orang dan menjadi viral karena melakukan hal yang tidak senonoh. Kau mau?" tantang Sean, "lagipula, di sini sangat sepi, hanya kita berdua saja." Tangan Sean mulai beraba tubuh Ariel, satu tangannya masuk mengelus paha mulus Ariel. Ariel mencoba mengenyahkan tangan Sean namun pria itu tak peduli, ia terus memberikan serangan yang bisa membuat gairah wanita mana saja terbangkit. "Jangan ...!" Ariel menggeleng saat merasakan tangan Sean kini menyentuh miliknya. "Kau sudah basah, Sayang ...," bisik Sean begitu menggoda, "nikmati saja ...." Ariel menggeleng. Ia tahu sebentar lagi ia akan sangat b*******h namun ia tak ingin dilecehkan seperti ini. "Ah ...." Ariel mulai mendesah saat Sean memijit k*********a dari luar dalamannya, belum sentuhan bibir Sean itu di leher putihnya yang benar-benar membuat darahnya berdesir hebat. Tapi, Ariel tidak menginginkan kejadian di toilet terulang lagi. Apalagi Sean juga kini dekat dengan Vania. Tanpa terasa air mata Ariel mengalir jatuh ke pipinya. Sean bergeming saat ia mendengar gadis itu mulai terisak. Sean sedikit menjauhkan dirinya untuk melihat wajah Ariel yang kini penuh linangan air mata. Tiba-tiba Sean merasa menyesal akan sikapnya yang terlalu memaksa Ariel demi nafsunya. Sean menyentuh pipi Ariel dan mengusap air mata di pipi gadis itu. "Maaf, ya ...," ucapnya begitu tulus. Hanya isakan tangis yang terdengar sebagai jawaban. Sean lalu mengecup lembut dahi Ariel lalu memeluk tubuh gadis itu dengan penuh sayang. "Maaf ...." . "Di mana lagi itu anak?" Andri tampak begitu marah karena jam sudah menunjukkan tengah malam namun Ariel belum juga pulang. Ia juga kesal karena Sean malah meninggalkan Vania dan pergi entah kemana. "Sabar, Sayang ...," ucap Rosita sambil mengelus-ngelus punggung suaminya, "mungkin dia lagi jalan dengan sepupunya." "Ah, kamu ... selalu saja melindunginya!" tukas Andri pada Rosita. "Kita tunggu dia pulang saja, ya!" Sementara Vania hanya bisa duduk di sofa sambil menunduk. Ia tampak kecewa dan bertanya-tanya mengapa Sean meninggalkannya dan membiarkan dia pulang bersama orang tuanya. "Apakah dia tidak tertarik padaku?" pikir Vania. Tiba-tiba bel berbunyi, Andri dan Rosita langsung menuju pintu dan membukanya. Begitu pintu dibuka, di luar tampak Ariel berdiri bersama Sean di sana, membuat mereka bertiga terheran-heran. "Kamu darimana saja?" "Maaf, Om. Tadi aku yang membawa Ariel pergi," ucap Sean apa adanya. Andri, Rosita dan Vania malah semakin terheran sementara Ariel hanya bisa menunduk lemah. "Sepertinya Ariel sedang dalam kondisi tidak baik. Tolong biarkan dia istirahat, ya!" pinta Sean. "Oh, iya ...." kata Andri. "Aku pamit," ucap Sean, lalu ia berbalik dan meninggalkan keluarga Anata di sana. . Ariel tiba-tiba terbangun dari mimpi buruknya. Ia melihat di sekitarnya dan merasa lega berada di kamarnya sendiri. Sejenak ia hanya bergeming, memikirkan apa yang terjadi semalam hingga kejadian itu kembali muncul di mimpinya. "Kenapa sih dia selalu menggangguku?" ocehnya, "dia lagi mendekati kak Vania, kenapa harus aku yang dijadikannya sasaran?" Ariel mendengus sekali sebelum ia mengambil handphone-nya. Ada notifikasi beberapa chat dari Suzy dan ada chat dari nomor yang tak tersimpan di daftar kontaknya. Ariel membuka chat Suzy. 'Ariel, kau tidak mengangkat teleponku semalam. Kau baik-baik saja?' Demikian isi chat dari Suzy. Ariel pun langsung membalas chat dari sahabatnya itu. 'Iya, aku baik-baik saja.' Sebenarnya Ariel selalu acuh tak acuh dengan panggilan atau chat dari nomor yang tak tersimpan tapi karena nomor ini nomor cantik, Ariel pun penasaran dengan chat dari nomor yang tak tersimpan dari kontaknya itu. Ariel langsung membukanya. 'Maaf buat yang semalam.' Ariel langsung melempar handphone-nya ke ranjang, ia mendengus marah. "Kenapa sih dia menggangguku lagi?" gerutunya, "lagipula ... siapa lagi yang memberinya nomorku?" Tidak lama kemudian handphone Ariel berdering. Ariel mengintip layar handphone-nya dan melihat siapa gerangan yang tengah mencoba menghubunginya. Ternyata itu Suzy. Cepat-cepat Ariel meraih handphone-nya dan menerima panggilan Suzy. "Ya, Suzy?" sapa Ariel. "Ariel, sebentar malam kamu ada acara, kah?" seru Suzy di seberang. "Tidak," jawab Ariel, "Kenapa?" tanyanya balik. "Ayo kita ke kelab malam ini!" ajak Suzy, "ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu." "Apa itu?" Ariel tampak penasaran. "Pokoknya kau harus ikut dugem malam ini, ya!" Suzy lalu menutup panggilan teleponnya. "Suzy? Suzy!" Ariel memandang layar handphone-nya lalu menaruhnya kembali ke ranjang. Ia terlihat lemas. Ia ingin sekali ikut bersenang-senang bersama Suzy apalagi sahabatnya itu sepertinya akan memberikannya kejutan. Ariel menerka-nerka dalam rangka apa Suzy memberinya kejutan mengingat hari ulang tahun Ariel masih lama. Ariel lalu beranjak dari ranjangnya. Ia menuju ke lemari mengambil dompetnya di dalam laci. Ia pun menghitung sisa uang di dalam dompetnya yang jumlahnya tidak seberapa. "Yah ... uang sisa segini lagi," desahnya. Ia mendecak sekali lalu memutar otak bagaimana caranya mendapatkan uang malam ini juga untuk bisa pergi bersenang-senang. Ariel pun menaruh kembali dompetnya dan keluar ke kamar menuju ruang makan. Di sana ia mendapati Vania yang sedang menikmati sarapannya sambil melamun. Ariel mengambil tempat duduk di depan Vania dan membuat kakaknya sadar dari lamunannya. "Kak Vania tidak kerja hari ini?" tanya Ariel berbasa basi. "Tidak," jawab Vania, "sekarang hari sabtu, kan?" "Oh ...." Ariel lalu mengambil sandwich di tengah meja, mengambil s**u dan menuangkannya di gelasnya. Ia pun duduk santai dan meneguk susunya. "Kau ada hubungan apa dengan Sean?" Pertanyaan tiba-tiba dari Vania berhasil membuat Ariel tersedak. Ia mengambil serbet di meja dan cepat-cepat melap mulutnya. Ariel lalu menoleh ke arah Vania, memandang kakaknya yang tengah menatapnya dengan tatapan serius. "Aku sama Sean?" ujar Ariel, "aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya," terangnya. "Kenapa dia bisa mengantarmu pulang selarut itu?" "Itu ...," Ariel berusaha memutar otaknya, "aku tidak sengaja bertemu dengannya di cafe." "Cafe?" tanya Vania, keningnya mengernyit tajam. "Iya," jawab Ariel berakting senatural mungkin, "Kak Vania curiga aku ada hubungan dengan Sean?" "Tidak," jawab Vania. Tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, Vania memilih diam. Dia memiliki seorang adik dengan paras yang cantik dan semua orang mengakui itu walaupun Vania lebih unggul di segala-galanya tapi tetap saja ia takut jika Ariel menjadi saingannya. . 'Jangan lupa kita dugem malam ini!' Ariel tampak gelisah, ia sudah siap dengan baju kaos dan celana hot pant-nya tapi ia tak memiliki uang bahkan untuk menyewa mobil ke kelab malam. Ia memutar otak lebih keras lagi tapi kali ini ia tak memiliki ide. "Sepertinya aku harus meminta langsung ke mama," gumamnya, "tapi mana mungkin mama mau ngasi aku uang?" Ariel pun berniat mendatangi mamanya, ia memberanikan diri ke kamar mamanya. "Ma?" serunya, "Mama?" Namun tak ada sahutan. Ariel membuka pintu kamar mamanya dan tampak wanita paruh baya itu sedang tertidur pulas di ranjangnya. Ariel diam sebentar memandang wajah Rosita. Kalau dia membangunkan mamanya hanya untuk meminta uang agar bisa ikut dugem bersama Suzy, mamanya pasti mengamuk. Ariel lalu mengedarkan pandangannya dan melihat ada dompet di atas meja nakas. Ariel diam-diam jalan mengendap-ngendap lalu meraih dompet itu. Matanya membulat bersinar kala melihat ada bagitu banyak uang kertas berwarna merah di sana. Ariel lalu mengambil sebagian uang itu dan menyimpannya di saku celananya kemudian dengan melangkah pelan dia keluar dari kamar mamanya. . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN