CHAPTER 11

1008 Kata
"Ariel!" seru Suzy di tengah-tengah riuh musik disk jockey begitu melihat Ariel memasuki kelab malam itu. Ariel pun langsung menoleh dan tersenyum sumringah begitu melihat sahabatnya yang duduk bersama kekasihnya dan ada beberapa orang lagi. "Lama sekali kau? Kukira kau tidak jadi datang," ujar Suzy saat Ariel mengambil duduk di sampingnya. "Ayo minum, Riel!" ajak Rey. Ariel hanya tersenyum tanda mengiyakan. Rey lalu menuangkan bir ke gelas Ariel, ariel mengambil gelasnya dan langsung meneguk minumannya. Ariel lalu melihat ke arah pria yang berada di panggung dansa, pria tampan bertubuh tinggi dan berkulit putih. Jelas pria itu ada peranakan dari ras caucasoid yang membuat rupanya tampan. Di sana, pria itu sedang melakukan breakdance yang membuat orang-orang terkagum-kagum padanya. "Kau lihat itu?" Aku mau mengenalkanmu dengannya. Kau mau?" Ariel terdiam sebentar sambil memandang kagum ke arah pria itu. "Biru!" panggil Suzy dengan semangatnya setelah pria tampan bernama Biru itu menyelesaikan tariannya. Pria yang dipanggil Biru itu menoleh dan menghentikan tariannya. Ia melambaikan tangannya lalu berjalan menghampiri meja Suzy. "Eh, ini nih yang namanya Ariel," kata Suzy sambil memegang Ariel dengan semangatnya. "Hai, Ariel," sapa Biru, "aku Biru," lanjutnya memperkenalkan dirinya sambil menyodorkan tangannya. "Ariel," balas Ariel sambil memperlihatkan senyuman manisnya, "dance-mu bagus sekali tadi," pujinya. Biru hanya tersenyum, ia tampak begitu ramah dan mudah akrab dengan siapa saja. "Ariel ini jomblo loh," seru Suzy lalu ia tertawa jenaka yang membuat wajah Ariel masam. "Oh, ya? Tapi Ariel cantik, ya," ucap Biru terus terang sambil tersipu malu dan hanya membuat Ariel terdiam. "Ayo kita minum!" seru Rey. Mereka pun minum sepuasnya sambil bercengkrama dan bertawa bersama. "Mau joget?" ajak Biru pada Ariel. "Tidak," jawab Ariel, "aku mau di sini saja." Biru tersenyum simple sebelum beranjak dari sana lalu ia melakukan dance di panggung kelab. Sementara Ariel terus memandang Biru sambil menikmati minumannya dan tanpa sadar entah sudah berapa gelas ia menghabiskan minumannya hingga matanya mulai memerah karena mabuk. Malam semakin larut dan Ariel sudah mencapai batasnya. Ia kini menyandarkan kepalanya di atas meja karena tak bisa lagi mengangkat tubuhnya karena terlalu mabuk. "Ariel ... ayo pulang!" ajak Suzy mulai khawatir ke Ariel, "kau terlalu banyak minum." "Aku tidak mau pulang ... kau tahu sendiri orang tuaku pasti marah kalau melihatku seperti ini ...," Ariel mulai mengoceh. "Biar aku antar dia pulang!" kata Biru tiba-tiba menawarkan dirinya, "chat saja di mana rumahnya, nanti aku antar." "Tolong ya, Biru!" pintu Suzy, "jaga Ariel baik-baik. "No problem," kata Biru. Biru lalu membopong ke Ariel ke keluar. Namun baru sampai di luar kelab, Ariel mulau memuntahkan isi perutnya. Biru hanya bisa memijit bahu Ariel hingga gadis itu puas memuntahkan seluruh isi perutnya. Biru lalu membopong Ariel ke mobilnya, memasukkan Ariel di kursi belakang agar gadis itu bisa berbaring. . Ariel langsung terkejut begitu ia membuka matanya. Ia bangun dan menemukan dirinya tanpa berbusana dan tubuhnya hanya tertutupi oleh selimut di kamar hotel. Ariel merapatkan selimut di tubuhnya dan berpikir keras apa yang telah terjadi semalam hingga ia berada di kamar hotel dalam kondisi tanpa baju. Terakhir yang ia ingat, ia keluar dari kelab bersama Biru. "Apa aku melakukannya dengannya?" gumam Ariel. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah, hanya dia sendiri di kamar itu. Ia langsung beranjak dari ranjang begitu menemukan ada baju yang tampak masih baru di atas sofa. Ariel meraih baju dress itu lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah mandi dan Ariel bergegas mengenakan pakaian dan pergi dari kamar hotel itu. . Ariel tampak takut-takut begitu masuk ke halaman rumahnya apalagi hari sudah mulai terik. Tapi begitu Ariel masuk ke ruang tamu, ia malah bertemu dengan Vania yang sedang mengantar Sean keluar. Mata Sean langsung membulat begitu melihat Ariel yang muncul di sana. "Ariel, kamu kemana saja semalam? Kenapa baru pulang?" ujar Vania menginterogasi Ariel. Ariel diam sejenak, wajahnya tampak kebingungan harus menjawab apa. Apalagi ada Sean di sana. Kenapa juga pria itu harus ada di sana? pikir Ariel. "Semalam mama mencarimu, kau terimuilah dia! Dia sangat marah waktu tak menemukanmu di kamarmu," lanjut Vania. "Iya, aku akan bertemu dengannya nanti," kata Ariel lalu ia melangkah melewati Vania dan Sean. Sementara Sean terus memandang Ariel dengan sorot mata dinginnya hingga sosok gadis itu naik tangga. Ariel lalu berjalan menuju ke kamarnya namun sebelum ia meraih knop pintunya, tiba-tiba Rosita meneriakinya. "Darimana saja kamu?" teriak Rosita hingga Ariel terlonjak kaget. Takut-takut Ariel menoleh ke arah mamanya yang kini tengah memandangnya nanar. "Mati aku," ucap Ariel dalam hati. Rosita lalu melangkah menghampiri Ariel dengan pandangan yang begitu menakutkan untuk Ariel. Ariel sendiri hanya bisa bergeming memandang wajah mamanya yang tampak begitu garang saat ini. "Kau darimana? Tidak pulang semalaman dan kau kan yang mengambil uang mama?" "Aku tidak ambil ...," kelit Ariel. "Jangan bohong! Hanya kau yang suka mengambil uang mama diam-diam di sini dan ini bukan pertama kalinya, kan?" semprot Rosita. Ariel hanya bisa diam sambil menunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Rosita mendengus sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu ini ... kapan kau mau berubah?" Rosita mulai berceramah, "coba kau contohi kakakmu itu, Vania, patuh dengan orang tua dan tidak suka bertingkah macam-macam di luar!" "Mama ini selalu saja membanding-bandingkan aku dengan Vania!" sergah Ariel dengan nada membentak. Rosita membelalakkan matanya. "Kau ini ... selalu saja melawan!" "Ah, sudahlah! Ariel tidak mau berdebat dengan mama!" balas Ariel, "masalah uang mama, nanti pasti kukembalikan semuanya!" Ariel langsung membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. "Ariel, mama belum selesai!" teriak Rosita namun Ariel tak mengindahkan ucapan mamanya, ia malam mengunci kamarnya dan jalan acuh tak acuh menuju kamar mandi. Ariel lalu menyalakan westafel dan membasuh wajahnya agar segar setelah emosinya keluar karena ulah mamanya. Ariel teringat lagi kejadian semalam dan ia yang menemukan dirinya di kamar hotel sendirian di kamar. "Aku sudah lama tidak melakukannya seharusnya aku merasa sakit, kan kalau aku memang melakukannya dengannya?" gumamnya, "atau karena aku mabuk jadi tak berasa, ya?" pikirnya keras, "tapi ... masa sih aku tidak tahu kalau aku melakukan hubungan s*x dengan Biru?" Ariel mendesah sekali lalu ia mencoba untuk tak begitu memikirkan kejadian semalam dan kembali ke kamarnya, berbaring sambil memainkan handphone-nya. . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN