"Sean, ada apa?"
Sean tersentak saat ia mendengar pertanyaan Vania. Gadis cantik yang kini menemaninya bersantai di cafe itu tengah tersenyum lembut padanya.
"Kenapa kau merenung daritadi?" lanjut Vania bertanya.
"Oh, tidak," jawab Sean, "aku hanya memikirkan pekerjaanku saja.
"Oh ...."
Sean lalu mengambil cangkir kopinya dan menyesap sedikit isinya. Sementara Vania menambahkan gulanya di minuman capucino-nya dan mengaduk-ngaduknya.
"Um ... Vania," panggil Sean, "apa adikmu itu sering pulang pagi?" tanya Sean.
"Yah, kadang-kadang," jawab Vania apa adanya, "setahuku dia suka ke kelab malam bersama teman-temannya hingga pulang pagi," lanjutnya, "aku sebenarnya khawatir dengannya karena dia juga suka minum minuman beralkohol."
"Oh ...."
"Kenapa?"
"Ah, tidak. Oh, siapa lagi ya nama adikmu itu?" tanya Sean berbasa-basi.
"Ariel."
"Oh, iya," ujar Sean, "dia tidak kuliah atau kerja?"
Vania menggeleng. "Tidak," jawabnya, "dia sepertinya lebih suka bersenang-senang dengan teman-temannya."
"Mungkin karena dia tidak punya kesibukan," kata Sean, "setidaknya dia bisa melakukan hal-hal yang lebih positif."
"Entahlah, Sean ...," desah Vania, "dia susah diatur," lanjutnya, "kau tahu? Kemarin dia mencuri uang mama untuk bisa main dengan teman-temannya."
"Oh, ya?"
"Ya," sahut Vania.
"Dia punya pacar?"
"Kurasa tidak," jawab Vania, "dia sepertinya tidak begitu tertarik dengan hal-hal berbau romance."
"Oh ...."
"Kenapa juga kita harus membicarakan adikku?"
"Kau benar."
Sean lalu mengambil cangkir minumannya lagi dan menyesapnya dengan pelan. Sejak pulang dari rumah keluarga Anata dan menemukan Ariel pulang dalam keadaan awut-awutan membuat Sean curiga padanya. Apalagi gadis itu suka dengan dunia malam. Mana ada gadis baik-baik menyukai dunia malam? Tapi, bukankah mereka pertama kali bertemu memang di kelab malam?
Entah kenapa ada perasaan panas di hati Sean. Sean tahu bagaimana Ariel menikmati s*x dengannya, apakah dia juga melalukannya dengan pria lain? pikir Sean. Tiba-tiba Sean mendecak kesal dan membuat Vania kebingungan.
"Kau kenapa?"
Sean mencoba tersenyum. "Tidak apa-apa," jawabnya, "aku hanya pusing saja soal masalah pekerjaan itu."
"Oh ...."
.
"Ariel, bagaimana semalam? Aku khawatir karena kau terlalu mabuk," kata Suzy saat dia baru saja sampai di cafe dan menghampiri Ariel.
Ariel tampak cemberut ke arah Suzy. "Kenapa bukan kau yang mengantarku pulang?"
"Biru menawarkan diri buat mengantarmu jadi aku minta tolong padanya," jawab Suzy, "ada apa? Dia melakukan hal yang tidak senonoh padamu?"
Ariel hanya terdiam, ia bingung mau menjawab apa karena ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi antara ia dan Biru.
"Kalau begitu, aku telepon dia, ya?"
"Jangan!" sergah Ariel langsung, "Tidak usah."
Suzy tidak mengindahkan ucapan Ariel, ia tetap menelpon Biru. "Biru kau dimana? Sekarang ke Cafe Senja!"
Ariel melongo memandang sahabatnya itu. "Aku kan sudah bilang kalau tidak usah," protesnya.
"Tidak usah bagaimana? Aku yang bertanggung jawab kalau kau kenapa-kenapa, kan?"
Sekitar lima belas menit kemudian sosok Biru tampak memasuki cafe itu. Semua gadis-gadis di cafe itu menoleh ke arah sosok tampan itu. Ariel jadi panik, jika memang ia bercinta dengan Biru semalam, dia pasti sangat malu.
"Biru!" seru Suzy, "sini!"
Dengan macho-nya Biru berjalan menuju meja Suzy sementara Ariel ingin sekali menyembunyikan wajahnya karena pria itu sudah melihat seluruh tubuhnya.
"Hai," sapa Biru dengan santainya.
"Biru, duduk di situ!" perintah Suzy sambil menunjuk kursi di depannya.
Biru pun mengindahkan dan duduk tenang di hadapan Suzy.
"Kau sudah apakan temanku itu?" tanya Suzy langsung menginterogasi.
Biru malah tampak bingung. "Aku?" tanyanya balik, "tidak ada."
"Kau mengantarnya sampai ke rumah, kan?" tanya Suzy, "aku sudah chat alamatnya Ariel ke WA-mu."
"I-itu ...."
Ariel langsung berdiri dan menarik Biru pergi ke belakang. Ariel berdiri di hadapan Biru yang tampak keheranan, entah apa yang gadis itu ingin sampaikan ke Biru.
"Kenapa kau membawaku ke hotel?" tanya Ariel.
"Ya ... itu ... kau muntah-muntah dan aku kasihan. Jadi aku membawamu ke hotel terdekat saja."
"Terus, kenapa kau menanggalkan bajuku?" tanya Ariel penasaran walaupun ia sebenarnya malu menanyakannya.
"Bajumu kotor jadi kusuruh pelayan hotelnya membersihkan tubuhmu."
"Pelayan hotelnya laki-laki atau perempuan?"
"Perempuanlah, Ariel."
Ariel langsung merasa lega seketika tapi masih ada yang ingin dia tanyakan lagi. "Kita tidak melakukan apa-apa kan semalam?" tanyanya, "maksudku ... ya ... you know-lah!"
Biru malah tertawa. "Memangnya apa yang kau harapkan yang terjadi semalam?"
"Jadi, tidak terjadi apa-apa, kan?" Ariel tampak harap-harap cemas.
"Tentu saja tidak ada," tegas Biru, "setelah pelayan itu membersihkan badanmu aku juga langsung pulang."
"Benar kah?" seru Ariel, ia tampak sangat senang hingga memegang lengan Biru sambil tertawa.
"Ariel?" tiba-tiba terdengar suara wanita yang Ariel tahu persis siapa pemilik suara ini.
Ariel dan Biru menoleh dan tampak Vania dan Sean baru saja turun dari lantai dua Cafe Senja. Ariel melihat Sean yang tengah menatapnya dengan sorotan mata yang dingin, melihat gadis itu tampak begitu akrab dengan pria lain.
Vania memandang Biru. "Dia temanmu?" tanyanya.
Ariel diam sejenak, ia menyelipkan poninya yang panjang ke belakang telinganya.
"Aku pacarnya dia," tiba-tiba Biru menjawab.
Ariel melongo memandang Biru yang kini memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ariel buru-buru ingin mengklarifikasi bahwa Biru hanya bercanda namun Vania lebih duluan bersuara.
"Oh, ya? Siapa namamu? Aku kakaknya Ariel," ucap Vania.
Biru lalu menyodorkan tangannya ke arah Vania. "Aku Biru," jawabnya dan Vania menyambut menjabat tangannya.
Biru menyodorkan tangannya ke Sean untuk berkenalan namun Sean tak membalasnya, pria itu malah melemparkan tatapan 'ingin membunuhnya' ke arah Biru.
Insting Biru ke sesama pria memang sangat kuat, dia langsung tahu bahwa Sean mempunyai rasa terhadap Ariel dan sedang cemburu padanya. Buktinya, pria itu tampak sangat tak ramah padanya. Biru tidak mempersalahkan sikap ketidakramahan pria itu, ia malah menyunggingkan salah satu sudut mulutnya yang membuat Sean semakin jengkel melihatnya.
"Um ... kak Vania, kami ke depan dulu, ya," ucap Ariel. Ia lalu menarik tangan Biru dan dengan menyeretnya dari sana. Sementara Sean hanya bisa memandang Ariel yang bersama Biru dengan hati yang terasa panas.
Ariel dan Biru pun menghampiri Suzy yang tampak kesal karena ditinggal sendirian di sana. "Sejak kapan kalian akrab begini?" tukas Suzy.
"Sejak tadi," ucap Ariel, ia melingkarkan lengannya ke bahu Biru yang tinggi dan tegap. "Kita sekarang sudah jadi sahabatan," ucapnya ceria.
Suzy sendiri melongo melihat tingkah Ariel. Tapi akhirnya dia lega karena sepertinya sahabatnya itu baik-baik saja bersama Biru dan tak terjadi apa-apa dengannya.
Di kejauhan, Sean dan Vania berjalan keluar dari cafe. Sean sempat melihat Ariel yang tertawa bersama Biru di sana. Membuat dia semakin tersulut api cemburu.
.
TBC