CHAPTER 13

1176 Kata
"Pokoknya malam ini kau jangan kemana-mana! Papamu tadi ke luar kota, Mama dan Vania mau pergi ke rumah Tante Linda. Hari ini jadilah anak yang manis!" "Ariel, ayo kita main ke cafe! Ada band yang vocalis-nya ganteng itu loh." Ariel hanya mendesah berat mengingat perintah mamanya dan ajakan Suzy tadi sore. Ariel ingin sekali ikut ajakan Suzy namun apa daya kali ini ia hanya bisa berdiam diri sendirian di rumah karena sudah tak punya uang sedikit pun. "Ah ... sepertinya aku harus mulai mencari uang," gumamnya, "tapi aku harus bekerja apa yang menghasilkan uang?" Tok tok tok. Ariel menoleh ke arah pintu, seseorang mengetok pintu kamarnya. "Siapa?" seru Ariel bertanya. "Ini aku, Non!" balas suara wanita dibalik pintu. Ariel pun langsung beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu kemudian membukanya. "Kenapa, Bi?" tanya Ariel setelah melihat wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga di rumahnya. "Non, Bibi pulang dulu, ya," ucapnya sopan dan keibuan, "ada anak Bibi yang datang dari kampung, besok pagi Bibi balik lagi, kok." "Oh, okay Bi," kata Ariel. "Tidak apa-apa kan, Non?" "Santai aja, Bi," sahut Ariel, "aku juga sudah makan, kok." "Terima kasih banyak, Non." Ariel lalu menutup pintu kamarnya. Ia duduk menyandar di kepala ranjang dan mulai mendengarkan musik. Namun, baru beberapa menit tiba-tiba bel rumah berbunyi hingga terdengar di kamar Ariel. Ariel mengernyit, siapa yang datang malam-malam begini di rumahnya mengingat orang tua dan kakaknya sedang tak ada di rumah. Suzy juga tidak mungkin datang di rumahnya karena Ariel melihat di story w******p gadis itu sedang bersenang-senang di cafe bersama kekasihnya. Ariel pun bangkit dan berjalan menuruni tangga. Dengan malas dia berjalan menuju ruang tamu dan membuka pintu depan. Mata Ariel membulat begitu melihat sosok Sean berada tepat di depan pintu, tengah memandangnya. "Kau?" sergah Ariel tak ramah, "kak Vania sedang tidak ada di rumah, pulang saja sana!" usirnya. "Siapa bilang aku mau mencarinya?" balas Sean. "Orang tuaku juga lagi tidak ada, pulang saja sana!" "Aku tidak mencari mereka semua, aku mencarimu," tegas Sean. Ariel mendengus, ia lantas ingin menutup pintu untuk Sean namun dengan cepat Sean menahan pintu itu dan memaksa masuk ke dalam. "Siapa yang menyuruhmu masuk?" sergah Ariel, "aku tidak mau bertemu denganmu!" Sean lalu menutup pintu ruang tamu dan menguncinya. "Kau ini kenapa?" teriak Ariel. "Kau ini sepertinya harus diberi pelajaran, ya?" kata Sean menatap bengis ke arah Ariel. "Apa sih?" "Katakan, sudah berapa pria yang tidur denganmu?" Ariel mengernyit. "Huh, kau gila!" tukasnya. Sean pun memegang pundak Ariel dengan kasar. "Ayo, katakan! Apa kau semurahan itu?" "Lepaskan!" sergah Ariel sambil melepaskan cengkraman tangan Sean di pundaknya, "aku murahan atau tidak, tidak ada urusan denganmu!" Ariel pun berbalik dan lari menuju tangga dan menaikinya. Ia berlari ke kamarnya namun saat ia ingin menutup pintu kamarnya, Sean lebih dahulu menahannya. "Apa maumu, sih?" Ariel tampak gusar dengan sikap Sean yang menutup pintu kamar Ariel dari dalam. "Sudah kubilang kalau kau harus diberi pelajaran!" balas Sean sengit. "Apa urusanmu!" tantang Ariel, "aku mau tidur dengan pria mana pun tidak ada hubungannya denganmu, kan?" Sean lalu menyeret Ariel ke ranjang gadis itu. "Lepaskan aku!" ucap Ariel sambil meronta. "Aku tidak rela tubuhmu disentuh dengan pria lain," kata Sean, "kau pikir ini semua tidak ada hubungannya denganku, hah? Kau lupa kalau aku pria pertama yang menjamah tubuhmu itu!" Ariel lalu menampar keras pipi Sean namun itu tak menghentikan pria itu. "Hmmp ...." Sean kini malah membungkam bibir Ariel dengan ciuman ganasnya. Ariel mencoba mendorong d**a bidang Sean namun semua usahanya nihil. "Jangan lakukan ini!" pinta Ariel ketika kini ciuman Sean berpindah ke leher Ariel dan menyesap kulit indah gadis itu hingga membuat Ariel merinding. "Engh ... hentikan!" Sean tak mengindahkan pinta Ariel, ia malah menghampiri kini menarik celana pendek yang dikenakan Ariel bersama dalaman gadis itu "Kau ini gila!" teriak Ariel sambil berusaha menutupi k*********a dengan betisnya. Sean tak mengubrisnya, ia mengambil celana dalam Ariel lalu menghampiri gadis itu dan menarik lengan gadis itu ke atas. Ia lalu mengikat kedua tangan Ariel dengan celana dalam itu. Ariel mencoba meronta-rontakan tangannya namun ikatan Sean begitu kuat, ia lalu memandang Sean yang kini melepaskan kancing kemejanya satu persatu. "Kamu mau apa?" sergah Ariel. "Diam dan nikmati saja!" kata Sean. Sean lalu membuka lebar paha Ariel sehingga tampak kemaluan gadis itu yang berwarna merah muda. "Hentikan, dasar b******k!" Sean lalu membenamkan wajahnya di sana, menjulurkan lidahnya yang kasar di area sensitif Ariel dan menyesapnya agak kuat. "Hentikan! Ah ...." Ariel mulai tidak bisa menahan desahannya. "Ngh ... sudah kubilang ... ah ... henti ... kan hhh ...!" Sean malah menyunggingkan senyumannya saat melirik wajah Ariel yang mulai kemerahan karena mulai dirasuki oleh birahinya. Sean tahu persis, Ariel begitu menikmati apa yang ia lakukan padanya walaupun gadis itu mencoba mempertahankan gengsinya. Ariel memejamkan matanya, ia tampak seperti menahan sesuatu yang akan meledak dalam dirinya. Sean bangkit dan cepat-cepat ia melepaskan celananya hingga miliknya yang tegang tampak di hadapan Ariel. "Jangan!" teriak Ariel namun Sean malah mengungkung tubuh gadis itu dan mulai menggesekkan miliknya ke milik Ariel yang sudah sangat basah. "Nikmati saja! Sudah basah begini ...." Sean mulai memasukkan miliknya ke lubang kenikmatan Ariel namun ia malah kesulitan persis seperti ia melakukan pertama kalinya pada gadis itu. "Kau ... kenapa sempit begini?" Ariel menangis menahan sakit. Tidak, bukan hanya karena menahan sakitnya saja namun ia menangis karena saat ini apa yang ia alami adalah sebuah pemerkosaan. Ia tak menginginkan persetubuhan ini walaupun ia sempat menikmati saat di-oral oleh Sean. Sean menyadari Ariel menangis, ia diam menatap gadis itu sejenak lalu ia menjauh dan duduk di tepi ranjang. Ia mengutuk kebodohannya sendiri, hanya karena ia cemburu pada Ariel ia malah menyakiti gadis itu dan memperkosanya. Sean menoleh sebentar ke arah Ariel yang kini berbaring menyamping, terisak dalam keadaan tangan teringat. "Maaf ya, Ariel ...," hanya itu yang bisa keluar dari mulut Sean namun Ariel tak menanggapi ucapan pria itu, gadis itu terus terisak di sana. . "Ariel, kita nonton, yuk! Sebentar lagi ada film bagus. Mau kah?" Demikian chat dari Biru. Ariel menggaruk kepalanya, rambutnya tampak kusut karena baru terbangun dari tidurnya. "Aku tidak punya uang," balas Ariel. "Gampang itu, aku traktir pokoknya." "Okay. Tapi jemput aku, ya!" "Siip." Ariel pun beranjak dari ranjangnya, mulai mandi dan mengenakan baju kaos putih dan celana pendek dari bahan jeans. Ia hanya mengulasi kulit wajahnya yang mulus dengan pelembab dan sunscreen, dan juga liptint di bibirnya. Ia benar-benar terlihat cantik natural dengan rambut tergerai. Ariel pun berjalan dengan riangnya menuju ruang tamu, namun di sana ada Vania dan Sean sedang asyik mengobrol. Ariel memandang Sean dengan tatapan sinis, tentu ia belum lupa kejadian beberapa hari yang lalu. "Kau mau kemana?" tanya Vania pada Ariel. "Jalan sama teman," kata Ariel dengan santainya. "Selamat pagi," suara seorang pria dari luar ruang tamu. Ariel menoleh dan wajahnya tersenyum sumringah saat melihat Biru berdiri di ambang pintu. "Biru!" seru Ariel, ia lalu berlari menghampiri Biru. "Kak Vania, aku keluar dulu, ya!" seru Ariel. "Tunggu!" seru Sean tiba-tiba dan membuat Vania, Ariel dan Biru menoleh ke arahnya. "Vania, ayo kita ikut mereka!" ajak Sean tiba-tiba ke Vania. . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN