CHAPTER 14

1019 Kata
Sorot mata Ariel tampak begitu tajam memandang Sean yang tiba-tiba mengajak Vania untuk ikut dengannya. Ia kesal, kenapa pria itu selalu saja mengganggunya dan mencari gara-gara padanya. "Dia pasti sengaja melakukannya ...," batin Ariel. Vania terdiam sebentar, merasa tersanjung. Apakah ini ajakan kencan dari Sean? Gadis itu bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. "Kau serius?" tanyanya. Sean mengangguk sambil tersenyum pada Vania. "Sekali-kali kau jalan bersama adikmu biar kamu tahu apa yang dia lakukan di luar sana," ucapnya. Vania tersenyum manis sebagai jawaban. Sean melirik ke arah Ariel yang diam dan tampak dingin di sana tengah menatapnya tajam. Tapi, Sean malah merasa puas hingga menyunggingkan senyuman penuh kemenangan. "Baiklah," ucap Ariel terpaksa. Ia lalu berbalik dan jalan bersama Biru sementara Sean dan Vania beranjak dari sofa dan segera keluar dari ruang tamu. "Bagaimana kalau naik mobilku saja?" tawar Sean. "Iya, kita naik mobilnya Sean saja," kata Vania. Ariel pun terpaksa mengiyakannya sementara Biru ikut saja keputusan Ariel. Mereka pun berangkat dan langsung menuju bioskop yang terdapat di dalam mall terbesar di kota itu. Biru mengantri membeli tiket dan memilih kursi untuk menonton sementara Sean dan Vania membeli popcorn. Ariel hanya duduk di kursi menunggu mereka sambil melihat orang-orang keluar masuk. Tiba-tiba Ariel merasakan sesuatu yang dingin dan basah menempel di pipinya. Ariel langsung menjaga jarak saat menyadari itu ulah Sean yang menaruh kaleng minuman dingin di pipi Ariel. Pria itu tengah tersenyum pada Ariel namun Ariel memandangnya dengan tatapan waspada. "Jangan memandangku seperti itu!" kata Sean, "ini untukmu!" lanjutnya sambil menyodorkan kaleng minuman itu. Ariel menerimanya dengan terpaksa tapi ia hanya memegang minuman itu. Sean mengambil duduk di samping Ariel dan gadis itu sedikit berpindah agar tidak terlalu berdekatan dengan Sean. "Yang kemarin itu ... maaf, ya!" ucap Sean pelan. "Tidak usah dibahas!" kata Ariel dingin. "Aku jijik mengingatnya." Sean memandang maklum ke arah Ariel tapi ia tau ia menginginkan gadis itu. Ia ingin berdamai dengan gadis itu tapi di sisi lain ia juga tak ingin melepaskannya. "Sepertinya film-nya sudah mulai," suara Vania tiba-tiba. Kedua tangannya masing-masing memegang kotak berisi popcorn. Sean mengambil satu kotak popcorn dan membuat Vania tersanjung atas sikap "gentle" Sean. Ariel yang menyaksikan mereka hanya bisa memasang wajah jijik ke arah Sean. "Ayo, film-nya sudah mulai!" seru Biru sambil menghampiri mereka bertiga. Ariel pun berjalan beriringan bersama Biru sementara Sean memperhatikan kedua orang itu dari belakang. Mereka berdua tampak akrab dan Sean sangat membenci itu apalagi melihat Ariel bisa tertawa karena bercandaan Biru. Mereka pun memasuki ruang bioskop yang gelap dan dingin setelah memperlihatkan tiket mereka. Mereka menaiki tangga karena kursi mereka berada di barisan belakang. Biru duduk tenang dan Ariel duduk di sampingnya. Dengan cepat Sean mengambil duduk di samping Ariel yang membuat gadis itu merasa risih. Ariel mencoba menonton dengan tenang walaupun Biru mengoceh alur cerita film itu karena ia sebenarnya sudah menonton film itu kemarin. Namun, tiba-tiba tangan besar menggenggam tangannya dan menautkan jari-jarinya ke jari-jari Ariel. Ariel membelalakkan matanya ke arah Sean. Pria itu seakan tidak peduli dengan apa yang ia lalukan, ia tampak tenang menonton namun tangannya menggenggam tangan Ariel. Ariel sedikit menarik tangannya namun Sean malah menggenggamnya semakin kuat. Ariel makin kesal saat sesekali Sean menanggapi Vania yang berbicara, bisa-bisanya pria itu berkencan dengan kakaknya namun tangannya malah menggenggam tangan Ariel. Ariel sampai tak bisa konsentrasi menonton karena ulah Sean. Bahkan, ocehan Biru tak lagi ia pedulikan. . Siang itu Ariel tampak lemas dan tidak bisa menikmati makan siangnya. Sesekali ia melirik ke arah Sean yang tampak asyik mengobrol dengan Vania mengenai masalah politik. Ariel tidak mengerti, mengapa pria itu masih saja mengganggunya padahal ia juga mendekati kakaknya. Dan lagi, ia terlihat sangat sopan di hadapan Vania. "Dasar fake ...," gumam Ariel sambil memicingkan matanya ke arah Sean. "Kenapa?" tanya Biru. "Oh, tidak," kata Ariel berkelit, "aku tidak selera makan, aku mau ice cream saja." Mendengar itu Sean langsung menoleh ke arah Ariel. "Baiklah. Aku belikan, ya?" tawar Biru Ariel mengangguk sambil tersenyum ke arah Biru dan Sean lanjut mengobrol dengan Vania. Tidak lama kemudian Biru datang dengan membawakan ice cream untuk Ariel. Ariel yang kesal langsung melahapnya karena memang ia sangat menyukai ice cream hingga cream-nya menempel di sudut mulutnya. Sean yang melihat itu ingin sekali membersihkannya namun ia sepertinya tak berani karena ada Vania di sana apalagi gadis itu terus mengajaknya mengobrol. "Aduh, kenapa kamu makan belepotan begini?" seru Biru. Pria itu lalu mengambil tissue dan membersihkan ice cream yang menempel di sudut bibir Ariel. Sean yang menyaksikannya langsung merasa panas di dalam dadanya. "Um ... aku mau ke toilet dulu," kata Ariel setelah ice cream-nya habis. Gadis itu pun langsung beranjak dari sana. Ariel melamun sejenak setelah buang air kecil. Beberapa menit kemudian ia beranjak dan mencuci tangannya. Ariel bercermin sebentar untuk memperbaiki lipstik yang agak luntur setelah ia makan tadi setelah itu ia melangkah beranjak dari sana. Namun, begitu ia berjalan keluar dari toilet, tiba-tiba sebuah tangan menariknya paksa hingga ia masuk lagi ke dalam toilet. "Lepas- hmmp ...!" Baru saja Ariel ingin berteriak saat melihat sosok orang itu, bibirnya langsung dibungkam oleh bibir Sean. Ariel mendorong d**a Sean namun pria itu malah memeluknya dengan sangat erat. Ciuman Sean semakin ganas hingga membuat Ariel menggeleng, menandakan sebuah penolakan. Tapi tampaknya Sean tak peduli, ia terus menyerang gadis itu hingga beberapa menit kemudian Ariel mengerahkan segala kekuatannya dan ia mendorong keras d**a pria itu hingga Sean mundur selangkah. "Tunggu aku malam ini!" ucap Sean lalu pria itu berbalik dan pergi meninggalkan Ariel. Sementara Ariel tampak kesal karena lagi-lagi ia dilecehkan oleh pria itu. Ia pun berjalan menuju meja mereka namun di sana tidak ada Sean. "Astaga ... kenapa dengan lipstik-mu itu?" tanya Vania melihat lipstik Ariel yang agak belepotan di bibirnya. Ariel kaget, ia baru sadar tadi bibirnya diserang oleh bibir Sean dengan cukup ganas pastilah lipstiknya belepotan di sekitar bibirnya jg. Ariel langsung cepat-cepat mengambil tissue untuk menghapus sisa-sisa lipstik di bibirnya. Tidak lama kemudian, Sean datang. "Hai, Sob ... oh, kamu pakai lipstik?" tanya Biru. Sean refleks mengusap bibirnya dengan jempolnya dan melihatnya dan benar saja, ada bekas lipstik Ariel menempel di bibirnya. . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN