Tak Punya Hati

1022 Kata
Aeris mengangguk. "Kamu mau beli apa? Kalung, gelang, atau cincin? Pilih saja mana yang kamu suka, aku yang akan membayar semuanya." "Aku ingin membeli cincin." Aeris mengalihkan pandang ke arah jendela yang ada di sampingnya. Hana benar-benar mempersiapkan pernikahannya dan Leon dengan sangat matang. Mulai dari gaun, undangan, gereja untuk pemberkatan, dan gedung untuk resepsi. "Bagaimana kalau kita nanti membeli cincin couple?" Aeris meringis karena Kai belum menyerah untuk mendapatkan hatinya. Aeris bukan gadis bodoh. Selama ini dia tahu jika Kai menyimpan rasa pada dirinya. Namun, dia selalu mengabaikan perhatian Kai karena takut jatuh cinta. "Kamu mau beli cincin couple sama aku, kan?" Kai mengalihkan fokus dari jalan raya yang ada di hadapannya sekilas untuk menatap Aeris. "Aku mau menikah." Kai sontak menginjak rem mobilnya, beruntung lampu menyala merah. Jika tidak, dia pasti mendapat umpatan dari pengguna jalan lain karena berhenti mendadak. "Me-menikah?" Aeris mengangguk lantas memberi Kai undangan pernikahannya dan Leon. Kai tersentak, jantungnya seolah-olah berhenti berdetak selama beberapa saat. Padahal mereka baru saja dekat, tapi Aeris akan menikah dengan lelaki lain. Permainan takdir macam apa ini? "Jangan lupa datang, ya?" Kai mengusap sudut matanya yang berair. Hatinya benar-benar hancur karena belahan jiwanya akan menikah dengan lelaki lain. "Aku pasti datang," ucapnya dengan senyum yang tampak sekali dipaksakan. *** Leon berulang kali menghela napas panjang karena Aeris tidak kunjung datang. Dia paling benci dengan orang yang tidak bisa tepat waktu. Andai dia bisa memilih, Leon pasti lebih memilih berkutat dengan tumpukan berkas di kantornya dari pada membeli cincin untuk pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan. Sebuah mobil sport berwarna merah berhenti tepat di depan toko Diamond. Kai memerhatikan Aeris yang tertidur lelap di sampingnya dengan lekat. Entah kenapa gadis itu masih terlihat cantik meskipun sedang tidur. "Sudah sampai, ya?" Aeris tiba-tiba mengerjabkan kedua matanya. Kai tergagap. "I-iya," jawabnya tergagap. Semoga saja Aeris tidak sadar jika sedang diperhatikan. "Maaf, aku ketiduran. Terima kasih sudah mengantarku, Kai." "Sama-sama. Aku senang bisa dekat denganmu, walaupun cuma sebentar. Apa perlu kutunggu?" "Tidak perlu. Aku nanti bisa pulang naik taksi. Sekali lagi terima kasih, Kai." Kai mengangguk. Dia terus memperhatikan Aeris sampai menghilang di balik pintu. "Semoga kamu bahagia, Aeris," ucapnya terdengar tulus. "Terlambat enam menit." Sapaan dingin itu seketika menyambut Aeris saat memasuki toko. Gadis itu ingin beristirahat sebentar karena kepalanya terasa pusing. Namun, Leon malah langsung mengajaknya memilih cincin. Bagaimana pun juga Leon ingin terlihat sempurna di hari pernikahannya meskipun dia tidak ingin menikah dengan Aeris. Tidak terasa hampir dua jam mereka memilih cincin, tapi Leon belum juga menemukan cincin yang sesuai dengan keinginannya. Kepala Aeris semakin terasa berat, dia ingin beristirahat sebentar tapi Leon tidak mengizinkan. "Sepertinya calon istri Anda sedang kurang enak badan, Tuan," ucap salah satu pegawai toko. Leon melirik Aeris sekilas. Wajah gadis itu memang terlihat sedikit pucat. Namun, memilih cincin tidak akan membuat Aeris berakhir di rumah sakit, kan? Kepala Aeris semakin terasa berat. Gadis itu meringis sambil berpegangan di etalase agar tidak jatuh. "Apa kita bisa beristirahat sebentar, Le? Kepalaku rasanya sakit sekali." Leon memutar bola mata malas. "Jangan manja deh, Tante. Leon juga lelah, sebaiknya kita segera memilih cincin agar bisa cepat pulang." Tiga puluh menit sudah berlalu, tapi Leon belum juga menemukan cincin yang pas. Wajah Aeris semakin terlihat pucat, keringat dingin pun mulai keluar membasahi tubuhnya. Berulang kali pegawai toko mengingatkan Leon agar beristirahat sebentar karena kondisi Aeris sedang kurang sehat, tapi ucapannya selalu diabaikan oleh Leon. "Aeris sedang kurang enak badan. Apa kamu bisa berhenti memilih cincin sebentar?" Alis Leon terangkat sebelah menatap lelaki yang berdiri tepat di hadapan. "Kai ...?" gumam Aeris menatap Kai dengan dahi berkerut dalam. Gadis itu tidak pernah menyangka Kai berani menyuruh Leon untuk berhenti sebentar memilih cincin. "Kamu siapa?" "Aku—" Kai menatap Aeris sekilas sebelum menjawab pertanyaan Leon. Leon menatap Kai tajam, menunggu lelaki itu menjawab pertanyaannya. Sebagai sesama lelaki, Leon bisa melihat dengan jelas jika Kai menyukai calon istrinya. "Aku temannya," jawab Kai. Leon menyeringai. "Lalu apa urusanmu?" Kedua tangan Kai mengepal kuat. Apa Aeris harus menikah dengan lelaki yang tidak berperasaan seperti Leon? "Aeris sedang sakit, tidak bisakah kamu membiarkannya beristirahat sebentar?" "Jangan sok tahu karena aku lebih tahu kondisi Aeris. Satu hal lagi, jangan pernah ikut campur urusan kami!" tandas Leon terdengar dingin lalu menarik tangan Aeris untuk kembali memilih cincin. Kai hanya bisa diam sambil memperhatikan Aeris dari jauh. Rasanya dia ingin sekali membawa Aeris pulang untuk beristirahat. Namun, Kai tidak berani melakukannya karena sadar jika dirinya tidak memiliki hak apa pun atas Aeris. "Leon, kepalaku sakit ...." Aeris meringis sambil memengangi kepalanya yang berdenyut. "Tahan sebentar," jawab Leon tanpa mengalihkan pandangannya dari cincin yang terpajang di etalase. "Leon, aku—" Pandangan Aeris berkunang, bumi seolah-olah berputar, lalu semua berubah gelap. "Aeris!" Kai berhasil menahan tubuh Aeris sebelum terjatuh. "Aeris, buka matamu!" ucapnya sambil menepuk kedua pipi Aeris pelan. Namun, gadis itu tetap setia memejamkan kedua matanya. Leon bergeming melihat Aeris yang tidak sadarkan diri dalam gendongan Kai. Ternyata gadis itu benar-benar sedang tidak enak badan. Wajah Kai mengeras, rahangnya pun mengatup rapat. Rasanya dia ingin sekali memberi pelajaran pada calon suami Aeris. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat karena dia harus segera membawa Aeris ke dokter. "Minggir!" Kai sengaja menyenggol bahu Leon lumayan keras sebelum pergi. Leon terdiam di tempat. Seharusnya dia yang membawa Aeris ke dokter, bukan Kai. "Sial!" geramnya menahan kesal. *** Hari itu akhirnya tiba, Aeris terlihat cantik memakai gaun pengantin model sabrin yang menjuntai hingga ujung kaki. Gaun pengantin model tersebut sangat cocok dipakai Aeris karena memiliki postur tubuh tidak terlalu tinggi. Sebuah mahkota yang terbuat dari perak berhias batu berlian membuat penampilan gadis itu semakin terlihat cantik. Aeris meremas ujung kerudung pengantinnya karena gugup. Perutnya seperti dililit sebuah tali yang tidak terlihat. Mulas. Waktu pemberkatan sebentar lagi akan dimulai, tapi sampai sekarang Leon belum juga datang. Di mana keponakannya itu? Apa Leon kabur meninggalkannya sendirian di hari pernikahan mereka? "Kamu sudah coba menghubungi Leon, Aeris?" Hana tidak kalah panik. Sebentar lagi Aeris dan Leon harus menjalani proses pemberkatan. Namun, cucu tertuanya itu sampai sekarang belum juga datang. Dia takut Leon dan Aeris batal menikah. "Sudah, Bu, tapi ponsel Leon tidak aktif," jawab Aeris lesu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN