Hana menggeram kesal. "Dasar anak nakal, Ibu akan menjewer telinga Leon kalau sudah bertemu anak itu."
Aeris tersenyum kecut. Padahal mereka belum menikah tapi Leon sudah membuat masalah. Bagaimana kalau mereka sudah menikah nanti?
"Apa Leon sudah datang?"
Aeris melirik Hana yang duduk di sebelahnya. Wanita paruh baya itu tidak pernah berhenti menelepon Aerin untuk menanyakan di mana keberadaan Leon. Akan tetapi Aerin selalu memberi jawaban yang sama. Leon belum datang.
"Apa Leon sudah datang, Bu?"
Hana menggeleng pelan.
Telapak tangan Aeris semakin terasa basah karena jarak gereja untuk pemberkatan semakin dekat. Dia takut Leon tidak datang. "Bagaimana kalau kita batalkan saja pernikahan ini?" pintanya terdengar putus asa.
Hana tercengang mendengar ucapan Aeris barusan. Pernikahan Aeris dan Leon tidak boleh dibatalkan karena dia sangat ingin melihat sang anak menikah.
"Bagaimana kalau Leon tidak datang, Bu?" desah Aeris terdengar frustrasi.
Hana menatap Aeris lekat. Ketakutan tergambar jelas di mata putri bungsunya itu. "Jangan takut, Ibu yakin sekali Leon pasti datang," ucapnya berusaha menenangkan.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di depan gereja. Di luar sudah banyak keluarga besar Yasodana yang datang untuk menyaksikan proses pemberkatan pernikahan Aeris dan Leon.
Aeris menarik napas panjang sebelum turun dibantu Arka, kakak laki-lakinya yang akan mengantar menuju Altar karena suami Hana sudah lama meninggal.
"Kak Aeris cantik sekali, seperti Princess," puji si kembar. Mereka mendapat tugas menabur bunga dan memegang ekor gaun pengantin Aeris yang panjang.
Aeris menggigit bibir bawah kuat-kuat, berusaha menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Dia takut Leon tidak datang.
"Tersenyumlah, Aeris, calon suamimu sudah menunggu di dalam," bisik Arka.
Aeris tercengang dengan mulut menganga lebar karena Leon ternyata datang tiga menit sebelum waktu pemberkatan dimulai.
"Di-dia sudah datang?" tanya Aeris tidak percaya.
Arka mengangguk. Aroma rangkaian bunga Gardenia sontak menyeruak di indra penciuman Aeris saat memasuki gereja. Alunan lagu Thousand Years dari Christina Perry menambah haru suasana pemberkatan pernikahan Aeris dan Leon.
Leon terenyuh melihat gadis cantik yang berjalan menghampirinya. Perasaan hangat seketika menjalari dadanya, jantung pun berdebar hebat. Leon tidak tahu perasaan apa yang saat ini sedang dia rasakan. Dia hanya ingin melewati proses pemberkatan ini dengan lancar.
"Aku titip Aeris padamu. Jaga dan bahagiakan dia," pesan Arka sambil mengulurkan tangan Aeris ke Leon.
Leon hanya tersenyum. Kedua matanya mencuri pandang ke Aeris yang berdiri tepat di sebelahnya. "Cantik," pujinya terdengar tulus.
"Kamu bilang apa?" tanya Aeris karena tidak mendengar suara Leon dengan jelas.
Leon mendengkus kesal. Padahal dia jarang memuji tapi Aeris malah tidak mendengar.
Menyebalkan!
Aeris dan Leon pun mengucapkan janji suci pernikahan mereka.
"Di hadapan Tuhan, orang tua, dan keluarga, saya Chandra Yasodana Leon, dengan niat suci dan ikhlas hati memilihmu Aeris Lilyana menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu, saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidupku. Saya bersedia menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak yang akan dipercayakan Tuhan kepada saya dan mendidik mereka. Dan inilah janji setiaku yang tulus."
Leon mengusap sudut matanya yang berair setelah mengucapkan kalimat sakral tersebut. Sementara Aeris yang berdiri di depannya tidak bisa lagi menahan air mata.
"Di hadapan Tuhan, orang tua, dan keluarga, saya Aeris Lilyana dengan niat suci dan ikhlas hati memilihmu Chandra Yasodana Leon menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu, saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidupku. Saya bersedia menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saya dan mendidik mereka. Dan inilah janji setiaku yang tulus.
Aeris tersendat-sendat saat mengucapkan janji pernikahan. Leon tanpa sadar meremas jemari gadis itu sedikit erat agar merasa lebih tenang.
Hana tidak bisa lagi menahan air matanya. Wanita paruh baya itu merasa sangat bahagia karena Aeris akhirnya menikah.
"Apa Ibu bahagia?"
"Ibu sangat bahagia. Akhirnya Ibu bisa mewujudkan keinginan terakhir Aileen untuk menikahkan Aeris."
Aerin terenyuh mendengar ucapan Hana. Wanita itu juga yakin almarhum ibu Aeris pasti ikut bahagia menyaksikan putrinya menikah dari surga sana.
Leon dan Aeris kini sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka sekarang sedang memasang cincin di jari manis masing-masing.
"Mempelai pria diperkenankan untuk mencium mempelai wanita," perintah pendeta yang menikahkan keduanya.
Leon meraih bahu Aeris agar menghadapnya, lalu membuka kerudung putih yang menutupi wajah cantik gadis itu dengan perlahan. Jantung Aeris berdetak lebih cepat karena Leon menepis jarak di antara mereka. Dia refleks memejamkan mata saat keponakannya itu mencium bibirnya. Begitu lembut dan dalam. Dia pun mengalungkan kedua lengan di leher Leon karena kakinya mendadak lemas seperti jelly.
Leon menghentikan ciumannya saat mendengar erangan keluar dari bibir Aeris. Gadis itu segera menarik napas sebanyak mungkin karena Leon tidak memberi kesempatan untuk mengambil napas sama sekali.
"Dasar payah! Apa Tante belum pernah berciuman?"
Aeris sontak melotot mendengar pertanyaan Leon barusan.
"Jadi Tante belum pernah berciuman?" Kedua sudut bibir Leon naik ke atas. Dia merasa beruntung karena menjadi lelaki pertama yang mencicipi manisnya bibir Aeris.
Aeris malah menunduk untuk menyembunyikan kedua pipinya yang bersemu merah. Tanpa perlu menjawab, dia yakin sekali kalau Leon pasti sudah tahu jawabannya.
***
"Kamu itu sudah menikah. Kenapa ingin ikut ibu pulang, Aeris?"
Aeris memasang wajah sesedih mungkin agar Hana mengizinkannya ikut pulang ke rumah. Malam ini sang ibu sengaja memesan sebuah kamar hotel untuknya dan Leon setelah acara resepsi pernikahan mereka.
"Tapi, Bu ...." Aeris terus memohon.
Hana menggeleng. "Kamu boleh pulang setelah memberi ibu cucu."
"Ibu!" Aeris melotot. Hari ini Hana berhasil membuatnya menikah dengan Leon. Wanita tua itu sekarang malah menginginkan cucu darinya. Aeris benar-benar tidak menyangka Hana setega itu pada dirinya. Apa Hana tidak menyayanginya lagi?
"Nikmati malam pertamamu, Sayang." Hana mengecup kedua pipi Aeris sekilas sebelum pergi.
Aeris menutup pintu lumayan keras untuk melampiaskan kekesalan. "Ibu lama-lama bisa membuatku gila!"
"Tante nggak mandi?" Leon keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Butiran air menetes dari rambutnya yang sedikit basah, membasahi d**a bidang dan perutnya yang kotak-kotak.
Leon terlihat err ... sangat sexy.
"Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku ...."