“Lo yakin akan pergi secepat ini Prill?” Tanya Lala ragu sambil membantu Prilly memasukkan barang-barang ke koper. Prilly menatap Lala sambil tersenyum. “Tapi kan harusnya masih sebulan lagi,” protes Lala tak terima. “Iya sih La, tapi bokap gue bilang kalau gue udah bisa kesana besok.” “Jangan bilang lo pergi buru-buru karna Ali?” Tanya Lala menyelidik. Prilly terdiam sesaat. Mungkin itu adalah salah satu alasannya. Bukankah itu maunya Ali? Ia sedang butuh waktu bukan? “Bukan La, kata bokap gue sekarang dia lagi gak terlalu banyak kerjaan dia kantor jadi bisa punya banyak waktu sama gue. Lagi pula kami mau survei beberapa kampus disana buat gue ntar,” jelas Prilly. Lala menghela nafasnya kasar. Sepertinya tak ada cara lain membuat gadis ini bertahan “La, gue titip ini buat Ali ya,” u

