Prilly membolak-balikkan bukunya di perpustakaan berharap dapat menemukan cara untuk menjawab soal-soalnya, namun apa daya, sudah menemui caranya namun tidak bisa mengaplikasikan pada soalnya. Prilly mengusap wajahnya kasar. Selama 2 hari ini ia belajar sendiri. Seperti yang dikatakan Ali sebelumnya ia akan Olimpiade selama 2 hari ini. Sedangkan belajar dengan Ali saja sudah terasa sulit, bagaimana jika sendiri?
“Gak usah dipaksain,” kata Lala yang tiba-tiba datang dan langsung mengambil posisi duduk di samping Prilly.
“Gue pusing deh La. Kalau gini terus gimana gue bisa lulusnya coba,” ucap Prilly lirih.
“Lo gak boleh ngomong gitu. Gue yakin lo bisa lulus. Oh ya, nih nilai ulangan susulan lo. Tadi gue dititipin Pak Robert” Lala memberi kertas ulangan Prilly. Prilly mengambil kertas ulangan itu lalu melihat hasilnya kemudian menghela nafas panjang, lagi dan lagi.
***
Pagi ini Ali melangkahkan kakinya malas menuju sekolah, ia berjalan menyusuri koridor sambil tertunduk. Hatinya bergemuruh masih tak terima dengan kejadian kemarin. Kejadian dimana ia harus dikalahkan oleh seseorang dalam Olimpiade itu. Untuk pertama kalinya. Sebenarnya yang sangat membuat Ali merasa kesal adalah bagaimana bisa ia dikalahkan oleh seseorang yang baru pertama mengikuti Olimpiade. Ali sangat hafal siapa-siapa saja yang kerap ia temui diolimpiade dari berbagai sekolah. Namun orang itu baru pertama ia temui namun sudah bisa mengalahkannya. Ia tidak akan melupakan wajah orang itu. Sebut saja Ali terlalu berlebihan atau ambisius. Tapi itulah dia. Mood Ali benar-benar hancur hari ini.
***
Ali memasuki perpustakaan sambil mengedarkan pandangannya. Hingga akhirnya Ali dapat menemukan seseorang yang ia cari.
“Gimana ulangan lo?” Tanya Ali to the point.
Prilly menghela nafas panjang lalu memberikan kertas ulangannya pada Ali. Seketika Ali mengerinyitkan dahinya lalu menghela nafas kasar. Entah kenapa darahnya merasa mendidih. Tiba-tiba Ali meremas kertas itu yang membuat Prilly terbelalak.
“5?” Tanya Ali geram.
“Lo itu sebenarnya paham gak sih apa yang gue ajarin selama ini? Lo habis-habisin waktu gue sia-sia tau gak. Lo fikir lo penting banget gitu, lo itu bukan siapa-siapa. Gue gak tau lagi harus ngajarin lo kayak gimana. gue capek tau gak. Lo itu begonya udah akut," kata Ali sambil mengacak rambutnya frustasi. Entah apa yang membuat kata-kata pedas itu dengan mulus meluncur dari mulutnya. Mungkin karna perasaannya yang memang sedang tidak enak hari ini.
PLAKKKK!
Satu tamparan keras tepat bersarang dipipinya yang membuat dia meringis.
“lo gak berhak ngejudge gue kayak gitu. Gue gak pernah mohon-mohon ke lo buat ngajarin gue," suara itu terdengar bergetar. Prilly berusaha menahan tangisnya agar tak pecah. laki-laki di hadapannya ini benar-benar membuat kesabarannya habis. andai saja ia tahu apa yang sebenarnya terjadi, pasti dia akan berpikir beribu kali untuk mengucapkan kata-kata itu kepadanya. Namun untuk apa Prilly menjelaskan, si jenius ini tidak akan peduli. Ali terdiam mendengar ucapan Prilly. Nafasnya masih memburu.
Prilly langsung melangkah keluar dengan air bening yang sudah membendung di pelupuk matanya. Prilly berlari menuju kelasnya, tidak peduli dengan berapa pasang mata yang menatapnya. Sesampainya dikelas Prilly langsung menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya di atas meja. Lala yang melihat Prilly sontak terkejut. Lala berusaha memaksa Prilly menceritakan apa yang terjadi. Dengan segala sifat pemaksa yang Lala punya, akhirnya Prilly pasrah dan menceritakan semuanya. Lala memeluk Prilly berusaha menenangkannya. Lala mengepalkan tangannya kuat-kuar. Ia paham betul apa yang sedang dirasakan sahabatnya ini. Lala rasa ia sudah cukup sabar melihat sahabatnya diperlakukan seperti ini. Si jenius itu benar- benar sudah menghabisi stok kesabarannya.
“Lo tunggu disini,” ucap Lala tegas lalu melepaskan pelukannya dan segera pergi. Prilly
mencoba menahannya, namun tetap saja Lala pergi.
***
Lala berjalan cepat. Ia ingin cepat-cepat menemui orang yang sudah membuat sahabatnya menangis. Tak sulit bagi Lala untuk menemui orang itu. Saat Lala hendak menuju perpustakaan ternyata orang itu sudah berjalan keluar dari perpus.
“Eh lo cowok belagu!” teriak Lala yang membuat Ali menoleh padanya begitu pun
beberapa murid yang sedang berada di koridor itu tepatnya didepan kelasnya masing-masing.
“Lo ngomong sama gue?” tanya Ali santai.
“Ya iya lah. Siapa lagi cowok belagu kalau bukan lo ha? Cowok yang udah nyakitin hati sahabat gue. Eh asal lo tau ya, o itu gak berhak ngejudge dia apa-apa. Lo bukan siapa-siapa dia. Lo hanya orang baru yang masuk dalam kehidupan dia. Dan asal lo tau ya, kalau kejadian itu gak terjadi sama Prilly lo itu bukan apa-apa bagi dia. Buat ngalahin lo itu cuma kayak membalikkan tangan bagi dia,” ucap Lala penuh penekanan. Segala sesuatu yang ia tutup rapat saat ini benar- benar sudah tak bisa dibendungnya lagi.
“Maksud lo kejadian apa?” Tanya Ali tak mengerti.
“Bukan urusan lo. Lagian kalau lo tau emangnya lo peduli? Ha? Enggak kan. Prilly udah
cukup menderita, jadi lo gak usah susah-susah buat bikin dia makin menderita,” balas Lala sengit.
“Gue bener-bener gak ngerti. Maksud lo apa?” Lagi-lagi Ali bertanya. Apa ini semua ada hubungannya dengan keanehan yang Ali dapat di rumah Prilly? Lala hanya melirik Ali malas lalu pergi meninggalkan Ali.
“Tunggu,” Ali mencoba menghentikan langkah Lala. Sepertinya hanya dari Lala ia akan
tahu segalanya. Lala kembali menatap Ali malas.
“Please kasih tau gue, sebenarnya ada apa?” Ali menatap Lala dengan tatapan memohon.
Haruskan ia menceritakan semuanya pada Ali?
“Gue bakal kasih tau lo, tapi gak sekarang. Kalau udah waktunya, gue sendiri yang bakal nyamperin lo dan ceritain semuanya.”
***
Bel pulang sekolahpun berbunyi. Prilly segera membereskan bukunya dan bergegas pulang. Namun langkah Prilly terhenti saat melihat seseorang berdiri didepan kelasnya. Sebenarnya ia benar-benar sedang tak ingin bertemu dengan orang ini. Prilly melangkah pergi, namun dengan sigap orang itu menahan lengan Prilly.
“Gue mau ngomong,” ucapnya.
Prilly berusaha menepis tangannya yang ditahan oleh orang itu. Namun tenaganya tak begitu kuat untuk melepaskan tangannya. Tentu saja Prilly ingin pergi sekarang juga. Orang ini yang sudah membuatnya menangis tadi.
“Mau ngomong apa?” Tanya Prilly pasrah.
Ali terdiam sejenak membiarkan para siswa lain yang sedang keluar kelas untuk pulang. Ia hanya ingin bicara berdua dengan Prilly. Seolah-olah mengerti Prilly ikut diam sampai suasana benar-benar sepi.
“Mau ngomong apa?” Tanya Prilly ketus saat semua orang sudah pergi.
“Gue mau minta maaf soal yang tadi,” ucap Ali tegas. Prilly hanya memutar bola matanya
malas lalu kembali melangkah pergi. Lagi-lagi Ali menahannya.
“Gue tau gue salah. Gue gak ada niat buat ngata-ngataiin lo. Tapi tadi gue bener-bener lagi bad mood. Dan gak sengaja jadi lo yang kena imbasnya,” jelas Ali. Prilly menatap ali dalam- dalam mencoba mencari kebohongan dari tatapan itu. Namun ia tak menemukannya.
“Jadi gue dimaafin gak nih?” Tanya Ali. “Ya,” balas Prilly datar
“Ikhlas gak?” Tanya Ali lagi.
“Ikhlas.”
“Kalau ikhlas bisa gak maafinnya pake senyum?” Tanya Ali yang membuat Prilly menghela nafas kasar dan menatapnya malas. Prilly kemudian tersenyum terpaksa pada Ali. Kenapa monster dihadapannya kini berubah?
“Lo kenapa sih kalau didekat gue kayak tertekan gitu. Emangnya gue kayak monster ya?”
Tanya Ali yang membuat alis Prilly bertautan.
“Gak nyadar apa kalau dia lebih menyeramkan dari pada monster,” batin Prilly.
“Menurut lo?” Tanya Prilly yang dibalas Ali dengan menaikkan bahunya pertanda ia tak
tahu.
“Siang ini belajar ya,” ajak Ali. Kini nadanya terdengar sedikit lembut. Berbeda dengan
sebelumnya.
“Dimana?”
“Dirumah gue aja. Gue lagi males keluar. Ntar gue kirimin alamat gue,” ucap Ali yang dibalas anggukan oleh Prilly. Prilly lalu berlalu dari Ali tanpa berkata apa pun. Ali melihat kepergian Prilly sambil tersenyum kecil.