Seperti yang dikatakan Ali. Siang ini Prilly pergi ke rumah Ali. Prilly berdiri di sebuah pintu berwarna merah coklat keemasan. Dengan ragu-ragu Prilly menekan bel rumah itu. Hingga seorang wanita membuka pintu itu dan tersenyum pada Prilly.
“Haii kamu Prilly ya?” Tanya wanita itu ramah “Iya tante. Alinya ada?” Tanya Prilly.
“Ada kok. Masuk yuk,” ajak wanita itu yang tak lain adalah Fani, ibunda dari Ali.
“Duduk dulu ya Prill. Biar tante panggilin Ali,” Fani berlalu dari hadapan Prilly kemudian segera memanggil putranya. Tak berapa lama Ali datang menghampiri Prilly disusul Fani yang membawa nampan berisi minuman.
“Nih diminum ya Prill,” ucap Fani sambil meletakkan jus jeruk di meja. “Makasih tante,” balas Prilly sambil tersenyum.
“Yaudah kalian belajar ya. Ali kamu yang bener ya ngajarin Prillynya,” pesan Fani. “Iya bunda.”
Fani pun meninggalkan putranya dan berlalu ke kamarnya. Fani memang sudah tahu tentang Prilly dari Ali. Bahkan sejak Ali mendapat tawaran dari kepala sekolah untuk mengajari Prilly ia sudah bercerita pada bundanya. Dengan antusias Fani mendukung putranya.
*** “Kita mau belajar apa?” Tanya Ali. “Fisika.”
Ali mengangguk dan mulai mengajarkan Prilly, kini ali mengubah metode pengajarannya. Ia lebih pelan dan detail mengajari Prilly dan memberikan contoh soal yang biasa ia temui ada di beberapa soal contoh ujian nasional yang sering ia temui hingga sedikit demi sedikit Prilly mulai mengerti. Saat Prilly sedang asik memperhatikan apa yang diajari oleh Ali, Prilly merasa ada sesuatu yang berbulu yang mengenai kakinya. Sontak Prilly kaget dan melihat kearah kakinya. Namun tatapan kaget Prilly tadi berubah menjadi berbinar saat melihat kearah kakinya.
“Aaaaa lucu banget,” pekik Prilly saat melihat ada seekor kelinci berbulu putih lebat bersih
dikakinya. Prilly langsung membawa kelinci itu kedalam pelukannya.
“Ini punya siapa? punya lo? Lucu banget,” tanya Prilly sambil mengelus lembut kelinci itu. “Bukan. Itu punya bunda.”
“Sumpah ini lucu banget. Udah gede lagi,”
“Lo suka banget sama kelinci?” Tanya Ali yang langsung dibalas anggukan oleh Prilly. “Bunda punya 2 lagi. Biasanya sih pada berkeliaran disini. Tapi mana ya,” Ali celingak-
celinguk melihat ke sekelilingnya hingga dia menemukan 2 ekor kelincinya yang lain sedang melompat-lompat diatas karpet bulu-bulu berwarna abu-abunya. Ali langsung bergegas menghampiri kedua kelinci berwarna coklat dan abu-abu itu dan membawanya pada Prilly. Prilly memandang antusias pada kelinci yang dipegang Ali. Prilly langsung merubah posisi duduknya yang tadinya di hadapan Ali kini menjadi di samping Ali.
“Lucu banget,” pekik Prilly.
“Ini namanya mimi, dan ini namanya mumu, dan yang lo pegang namanya momo,” jelas
Ali memperkenalkan kelinci bundanya.
“Lo suka kelinci juga?” Tanya Prilly.
“Enggak sih. Tapi mau gimana lagi, Bunda suka banget jadi gue ikut-ikutan aja,” balas Ali. “Kelinci lucu tau. Liat deh bibir atasnya suka gerak-gerak sendiri,” ucap Prilly sambil
memperhatikan bibir kelinci itu membuat ali terkekeh. Begitu jelikah gadis ini?
Tiba-tiba Prilly merasa ada bulu-bulu lagi yang menyentuh kakinya. Namun ia tak sekaget tadi. Pasti kelinci lagi. Namun saat ia melihat kakinya. Ia pun terpekik dan langsung melepaskan kelinci di gendongannya dan memeluk lengan Ali.
“Aaaaaaa kucingggggg!!!” pekik Prilly yang membuat Ali tertawa terbahak-bahak. “Kucing doang. Sama kelinci aja heboh,” ledek Ali.
“Aaa gue gak becanda ya Ali. Usir gak, usir,” Rengek Prilly. Ali yang masih tertawa kini melepaskan kedua kelinci yang ada di gendongannya lalu mengambil kucing yang sedang bermanja-manja dikaki Prilly.
“Nah ini baru peliharaan gue. Namanya Ando,” balas Ali memperkenalkan peliharaannya.
“Kenalan deh sama Ando,” ucap Ali lalu mendekatkan kucingnya pada Prilly yang
membuat Prilly terpekik.
“Buang...buang,” rengek Prilly menyembunyikan wajahnya di lengan Ali yang ia cengkram
kuat.
“Buang, buang, lo kata ini kucing warteg apa main buang-buang aja. Udah nih gak ada,”
Ali langsung melepaskan Ando yang langsung berlari entah ke mana.
“Udah gak ada lagi, lo jangan modus-modus ya deket-deket sama gue,” goda Ali yang membuat Prilly menjauh dari Ali. Ali kembali terkekeh, namun kekehannya terhenti saat melihat mata Prilly yang berair. Dia menangis?
“Kok nangis?” Tanya Ali. “Gue takut beneran tau.”
“Maaf deh maaf. Gue kan gak tau.” Prilly menyeka air matanya. “Loh Prilly kenapa?” Tanya Fani yang tiba-tiba datang.
“Dia tadi disamperin Ando bunda. Ternyata dia takut kucing,” jelas Ali. Fani hanya
tersenyum lalu menghampiri mereka. “Kamu takut kucing?” Tanya Fani. “Iya tante. Bawaan dari kecil.”
“Kalau kelinci suka gak?” Tanya Fani lagi. “Suka banget tante,” balas Prilly antusias.
“Bunda harus liat gimana hebohnya dia saat liat kelinci-kelinci bunda,” ledek Ali. “Ya gitu Li kalau orang udah suka.”
Prilly menatap Fani lembut, wanita itu benar-benar sangat penyayang dan lembut, baru bertemu, Prilly sudah merasa nyaman. Berbeda sekali dengan putranya.