Bab 8 Seringai

1365 Kata
"Hai, Jay!" Pagi-pagi Jaya sudah berada di halaman rumahku, bersiul-siul ngobrol sama burung kakak tua peliharaan Papa. Kedatangan Jaya disabutPapa senang hati. Alasan lain Papa begitu senang melihat Jaya karena artinya Papa tidak perlu mengantarkan aku ke sekolah. Kami berangkat sekolah naik sepeda, bedanya aku diboceng Jaya tidak lagi berdiri. Jaya memasang jok khusus untukku. Kata Jaya, aku harus mengakrabkan diri pada lingkungan sekitar. Bila berangkat menggunakan sepeda, kami akan berpapasan dengan warga desa dan saat itulah aku harus menyapa mereka. Agar mereka tahu aku tinggal di daerah itu. "Karena kamu punya darah Indonesia, bukan Kanada bersikaplah seperti orang Indonesia kebanyakan." "Iya, Pak Tua," balasku ikut ditertawakan Jaya. Selalu saja bijak dan penuh sindiran. Untung saja dia tampan. Setidaknya wajah Jaya tidak pernah bosan dilihat dari jauh apalagi dekat. "Itu adiknya Raka, namanya Raina," tunjuk Jaya pada satu perempuan berambut sebahu. Jaya sedang memperkenalkan aku siapa-siapa saja di acara perkumpulan sepupu kemarin. Aku tidak sempat berkenalan dengan mereka. Karena ya ..., mereka tidak berminat akan kehadiranku. Jadi aku harus mencari tahu tentang mereka sendiri. Salah satu caranya meminta Jaya menceritakan mereka. "Raka yang mana?" "Raka yang ... nah itu dia baru keluar dari koperasi siswa. Raka sama Raina anak-anaknya Bi Lisna. Raka orangnya pandai bersosialisasi. Dia juga ketua OSIS sekolah kita." "Seperti kamu, pandai bersosialisasi ya." Jaya terkekeh hambar, "Setiap orang perlu bersosialisasi, Bungah." "Iya, iya. Lanjut." "Nah, itu yang sedang main gitar di depan kelas X namanya Anggara. Di sampingnya Anggara ada Nina." "Saudara kita juga?" "Bukan, Nina mantannya Anggara." Aku memukul Jaya keras. Habisnya dia menyebalkan. Kami menghabiskan jam istirahat dengan berkeliling sekolah. Jaya memperkenalkan hampir semua sepupu yang ada. Sebagian lagi beda sekolah. Ternyata perkumpulan sepupu di keluarga ini adalah organisasi mikro yang cukup terorganisir. Ada ketua, wakil, dan bendahara. Mereka dipilih setiap tahunnya berdasarkan jumlah suara. Berarti ada pemilihan umunya juga. Untuk tahun ini Jaya calon kuat pengganti Kang Bagas---ketua saat ini. Kang Bagas adalah sepupu tertua kedua juga kakaknya Jaya. Kang Bagas sedang kuliah semester akhir, karena kesibukannya itu yang menjadikan alasan mengapa dipercepatnya penggantian ketua. "Kang Bagas itu kakakku." Aku mengerti sekarang, Jaya selalu mengelak disebut calon kuat ketua selanjutnya. Dia tidak ingin dianggap nepotisme kekuasaan karena kakaknya. Sedangkan, "Heman lebih pantas." menurutnya. "Itu kan menurut kamu saja. Pikiran orang lain beda lagi. Kenapa harus menunjuk orang lain, kalau mereka menginginkan kamu, Jay?" "Karena jika aku maju, berarti aku menyalahi urutannya. Heman lebih tua dari aku." "Bukannya kalian seumuran ya?" "Hmm, tidak. Dia lebih tua." Kita malah meributkan siapa yang lebih tua. Sebenarnya Jaya tidak mau disebut tua. Dasar Jaya. *** Selepas bel tanda pulang berbunyi, Jaya menelengkan kepalanya ke arah pintu. Kode dia akan menungguku di luar kelas. Aku cepat membereskan peralatan belajar ke dalam tas menyusul Jaya. "Jay, aku mau ke kamar mandi dulu." "Oh, ya sudah sini tas kamu biar aku pegang." "Jay!" selaku. "Aku nggk akan kabur. Cuma ke kamar mandi, nanti juga balik lagi ke kamu." Jaya terkekeh, "Maksudku biar kamu tidak berat bawa-bawa tas. Aku tunggu di sini ya." Kukira Jaya takut aku tiba-tiba kabur. Banyaknya mata-mata Ua Hanggara yang memperhatikan aku, jadi menuduh Jaya juga mata-mata. "Maaf, aku kira ... ya udah deh aku titil tasnya ya. Udah kebelet banget." Aku melempar tas pada Jaya dan berlari ke arah kamar kecil. Tidak bisa lagi menahan kencing. Sampai di sana, sepi, pintu-pintunya terbuka. Kamar kecil ini yang paling dekat dari kelasku. Daripada aku kencing di koridor, aku mengalahkan ketakutanku pada kamar kecil ini. Di luar, riuhnya para murid keluar kelas membuatku ingin cepat-cepat pulang juga. Apa yang ada dipikiranku selalu horor. Belum lagi cerita-cerita Dewi tentang sekolah ini. Ada perkembangan dari sikap judes Dewi, sedikit-sedikit dia mulai mau bicara padaku. Awalnya karena aku melihat dia pergi ke Kingkom tempat pembelian film dan drama luar negeri. Aku menyarankan dia beberapa drama Korea yang seru. Sekarang dia ramah padaku. Bangunan di sini memang mendukung cerita hantu. Lagi-lagi aku membandingkan keadaan sekolah ini dan sekolah lamaku. Salah satu pintu berderit terbuka disusul air mengalir dari keran membuat kepalaku menoleh pada dinding, lalu langit-langit kusam rumah bagi laba-laba. Aku melangkah untuk membuka pintu dan ... Tidak ada siapa-siapa. Lalh keran yang membiarkan air mengalir deras itu kenapa? Terganggu oleh perkataan Papa guna menjaga lingkungan lewat menghemat air, aku mematikan keran hingga menyisakan suara tetesan lambat. Jemari yang basah aku tepukan ke pipi. Saat menyisir kasar rambut aku teringat perkataan Bu Nada. Beliau kembali memintaku mengubah rambut jadi hitam. Guru-guru tidak percaya warna rambut alami milikku coklat tua. Menyebalkan. Sejurus kemudian aku terlonjak kaget hingga menubruk tempat sampah. Cermin besar itu memantulkan sosok perempuan di belakangku. Aku menoleh, namun nyatanya hanya ada aku di tempat itu. Pintu-pintu kamar kecil terbuka lebar, tidak ada yang masuk daritadi selain aku. Perasaanku kembali terusik. Perempuan penuh darah itu hilang dari pandangan. Ada sejak cakaran berdarah di cermin. Dia sering kali muncul saat aku sendiri. Aku tidak menceritakannya pada Papa, karena pasti Renata akan dipanggil lagi ke rumah. Lebih baik aku merahasiakannya. "Bungah!" Tergesa keluar kamar kecil aku menubruk seseorang. Ternyata itu Dewi, hampir saja aku menjerit. "Kamu bertelur di wc ya? Jaya sampai cari kamu tuh." "A-aku. Kamu mau ke mana?" "Aku mau kencing. Kenapa sih muka kamu seperti habis lihat hantu begitu." Dewi menyipit. "T-tidak Wi." Aku menyengih aneh, Dewi pun geleng-geleng kepala masuk ke dalam kamar mandi. "Aku duluan ya Wi, mau ketemu Jaya dulu. Sepertinya dia mengajak pulang bersama." "Oke. Dah Bung," balas Dewi menggema dari dalam. "Iya. Dah ...." Aku segera berlari. Bergidig melirik sekilas ke arah cermin. *** "Bungah." Aku menoleh. Kak Heman melipirkan sepeda motornya di pinggir jalan. "Haiz Kak," sapaku. "Hai. Dijemput Om Lingga?" Aku menggeleng. "Tidak, Kak. Papa lagi ada kerjaan." "Kalau begitu ayo aku antar kamu pulang." "Bungah pulang sama aku, Hem." Jaya muncul mendorong sepedanya. "Kamu sama dia?" Kak Heman menunjuk Jaya. "Iya kak, aku sama Jaya." Kak Heman tersenyum kecut, lalu mengangguk sebelum pergi dengan motornya. Aku merasakan aura berbeda berada di antara mereka. Sampai Jaya menyuruhku duduk, aku bisa bernapas lega. Sedang aku duduk di jok belakang Jaya. Dia memintaku memeluknya supaya tidak jatuh. Jelas aku malu. Perlakuan manis Jaya akan membuat siapa pun bisa salah paham. Sebelum terjerumus pada perasaan lebih jauh, aku selalu mengingatkan diri sendiri, Jaya adalah sepupu. Tapi tidak bisa .... Menghadapi sikap manis Jaya, aku selalu lemah. Aku ini kan perempuan dan dia laki-laki. Banyak yang mengatakan persahabatan antara perempuan dan laki-laki itu nyaris nol. Mungkin ada tapi jarang berlangsung lama. "Lagi mikir apa sih, Bungah? Tumben, diam saja." "Hm? Enggak. Aku cuma---" Terharu kami bisa dekat, aku berharap lebih. Itu pun jika Jaya punya keinginan sama. Aku berakhir terkekeh sendiri. Jaya mungkin aneh dengan sikapku sekarang. Dia ikut tertawa hambar. "Cuma apa?" "Tidak jadi, Jay. Aku senang akhirnya punya teman di sini. Kamu, Dewi ...," kataku mengeratkan pegangan pada perut Jaya. Tidak seratus persen bohong, aku senang bisa dekat Jaya dan Dewi. Jaya tidak memberi respon apapun dan aku pikir tidak perlu juga. Menikmati perjalanan pulang bersama Jaya, aku pun sedikit bersenandung. Lagu-lagu yang aku pilih acak seingatnya. Pohon beringin besar sudah terlihat dari jauh. Tandanya sebentar lagi sampai di desaku. Sepanjang jalan tersisa aku terus bersandung, sampai melewati pohon beringin mataku mengerjap. Dirasa sedang diperhatikan, aku menoleh ke pohon beringin tadi ketika jarak meninggalkannya jauh. Benar, seseorang tengah berdiri di sana. Dia wanita yang mulutnya berlumuran darah. Yang menggangguku di cermin kamar kecil sekolah. Dia berseringai, entah bagaimana aku mendengar gumaman lirih. Laju sepeda Jaya diikuti. Dia berpindah dari tiap samping rumah warga dan pohon-pohon yang ada. Aku tercekat seketika. Mencengkeram erat seragam Jaya sehingga pemuda di sampingku ini mengendarai sepeda agak oleng. "Bung, kenap--" Tubuhku limbung tanpa bisa diantisipasi menubruk kerasnya jalan berbatu. Aku tersungkur ke atas miliaran debu. Tanganku terangkat meraba kening yang bedenyut nyeri, sesuatu terasa mengalir hangat. Warna merah aku jumpai di sana. Juga wanita yang mulutnya berlumuran darah itu berseringai menakutkan di ujung kakiku. Sayup-sayup di tengah dengung sebuah senandung mengalun. Jaya berlari cepat mengangkat tubuhku di jalanan. Sepedanya dia lempar asal. Wajah cemasnya menghalangi pandanganku pada wanita itu. Aku tidak bisa menangkap suara Jaya. Sepertinga dia memintaku agar tetap menjaga kesadaran. Hanya terlihat Jaya makin panik menggerak-gerakan mulutnya saja. Sekhawatir itu dia. Mataku semakin berat, dalam sekejap aku menemui gelap gulita. Perempuan itu tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN