Bab 9 Kuda

1452 Kata
Aku ditemani hening sepanjang jarum jam berdetak. Tidak ada suara televisi maupun radio. Jangkrik dan katak membuat pertunjukan malam ini. Papa menyuruhku cepat-cepat tidur. Nyatanya sulit. Demi keamanan bersama pintu kamar dikunci Papa, biar aku tidak keluar malam dan kembali masuk ruang terlarang. Berlebihan. Kalau begini sama saja dengan tahanan. Bagaimana cara aku ke kamar mandi jika malam-malam ingin kencing. Mereka sungguh tidak berpikir ke sana. Semenjak aku ditemukan tidak sadarkan diri. Hari-hari berikutnya sikap mereka tidak tertolong lagi. Lampu kamar tidak pernah dimatikan waktu malam. Aku harus bisa beradaptasi dengan cahaya terang dalam tidurku. Walau sebenarnya aku pun jadi sangat takut melihat tempat gelap. Lalu aku putuskan membuka buku-buku sekolah. Tidak ada pekerjaan rumah untuk besok. Mungkin membaca paragraf-paragraf penjelasan sistem organ manusia akan mendatangkan kantuk. Satu jam berlalu, tetap tidak didatangi kantuk. Aku beralih pada buku latihan matematika. Mengerjakan beberapa soal di sana sampai keasikan sudah pukul sebelas. Jangkrik-jangkrik di luar menyadarkan aku bahwa matematika membuat pikiranku semakin terjaga. Ketika sedang memasukan buku-buku tadi ke dalam tas, jendela kamarku diketuk. Seketika saja punggungku menegak. Menatap tajam arah jam sembilan. Siapa itu? Ketukan kembali terdengar, jemariku meremat tas di pangkuan. Bunyinya tidak asal bagai tabuhan anak-anak desa, ini hanya perkiraanku saja. Bukannya lebih terdengar sepert i... sandi dalam pramuka? Akhirnya ketukan itu berhenti, bahuku merosot lega. Kelegaan yang bersifat sementara. Sebab jendela kamarku berdecit-decit. Seseorang sedang berusaha mencongkelnya. Meski Papa telah menambah teralis untuk perlindunganku, tetap saja aku belum tahu seperti apa makhluk nekad di luar sana. Semakin larut dalam suasana mencekam, aku menelan ludah kasar. Terakhir jendela itu terbuka sendiri di malam Jumat, seorang perempuan menyeramkan dengan darah di sekujur tubuh hampir membunuhku. Belum lagi nyanyiannya yang menyedihkan. Aku bergidig. Segera aku meringkuk dan menarik selimut sampai ke ujung kepala. Telingaku ditutup menggunakan kedua tangan. Decitan jendela dibuka paksa ditabuh gemuruh jantungku. Keringat dingin telah membasahi dahi dan telapak tangan, lagi-lagi aku merasa akan mati. Sejak pindah ke rumah ini nyawaku selalu terancam. Mulutku tidak henti merapalkan doa. Sedikit aku mengintip dari sela selimut, kamarku gelap gulita entah sejak kapan. Aku makin menenggelamkan diri dalam selimut. Aku takut gelap. Bila teman-temanku di Kanada tahu aku yang sekarang bagaimana, maka habislah aku ditertawakan mereka. Aku terkenal sering mengejek mereka penakut, lalu aku mendapat karmanya. Ternyata begini takut sampai ingin kencing di celana. Maafkan aku, Emily. Tiba-tiba teringat Emily si gadis cupu kepang dua. Dia paling sering aku ejek penakut. Ah, sial, sial! Tubuhku menggigil. Saraf-saraf ketakutan sudah berada di puncaknya. Aku jadi tidak sabar bertemu matahari pagi. Pokoknya aku harus memaksa Papa kembali ke Kanada. Ya...paling tidak tinggal di rumah berhantu ini. Sudah jauh dari kota, keperluan terbatas, tidak ada tempat hiburan, makanannya aneh-aneh. Minimal aku tinggal di kotalah kalau tidak di Kanada. Sekali lagi aku melongokan kepala. Tidak ada suara congkelan lagi. Tapi kenapa makin mencekam. Terutama saat sesuatu menindih lenganku. Saat itu pula aku tersirobok mata bekilau dalam kegelapan. Sosok tinggi berdiri setengah membungkuk. Kalau bukan lentera yang dibawa sosok itu mungkin aku benar-benar berteriak lalu pingsan. Wajah itu tersinari cahaya kekuningan lentera. Aku menghela napas lega. Ternyata jaya. "Kamu kenapa dateng malam-malam?" Aku bangkit dari pembaringan. "Kan, besok kita ketemu lagi." Kekesalanku itu sungguhan bukan rajukan seorang gadis pada lelaki tampan. Jaya menyimpan lenteranya di atas nakas, dia tersenyum manis padaku. Jemari kurusnya bergerak membuka buku catatan kecil yang menggantung di leher. Aku mengernyit, Jaya main surat-suratan lagi ceritanya? Oh, aku lupa kalau malam kan dia namanya Bi. "Aku rindu kamu, Bungah. Boleh aku ganggu kamu malam ini?" Tulisan tangannya mengundang tawaku. "Ayolah Jay, kamu bercanda terus. Eh, sebentar aku nyalakan dulu lampunya. Kok bisa mati ya?" Jaya menggagalkan upayaku beranjak, dia mencekal tanganku. Aku menatapnya tidak mengerti. Jaya memberi jawaban gelengan kepala. Oke. Aku akan berusaha mengikuti permainan Jaya. "Gak boleh menyalakan lampu?" Jaya mengangguk. "Kenapa? Kan, bisa enak ngobrolnya kalo terang, tidak remang-remang begini." Jaya menulis lagi. "Nanti mereka tahu aku sedang ada di kamar kamu." Oh iya ya, benar juga. Bagaimana jadinya kalau Papa bangun atau siapun melihat jendela kamarku terbuka dan memergoki Jaya dalam kamarku. Bukan hal bagus. Kita akan mendapat masalah besar. Maka aku menutup mulutku. Jaya tersenyum, jika sedang main surat-suratan begini aku merasa orang yang duduk di sampingku ini bukan Jaya yang selalu membonceng aku pakai sepeda ke sekolah. Entahlah, Jaya pada malam hari amat pendiam, tenang, dewasa. Lebih tepatnya tidak mau bersuara. "Eh ngomong-ngomong kamu ... kok bisa masuk ke kamar aku?" Bukannya jendela kamar dikunci dan dilindungi teralis besi dari dalam? Tidak mungkin, kan, kalau Jaya bisa melepas teralis besi itu tanpa bantuan alat dalam waktu singkat pula. Mendapatkan aku memicing padanya, Jaya terlihat gugup. Raut wajah jadi menggemaskan. Dia melirik teralis besi bersandar pada tembok. Sedangkan jendela terbuka lebar, menyuguhkan bulan sabit dan garis-garis halus awan. Desau angin menggerakkan gorden. Aku melirik sekilas merasa ada yang memerhatikan kami. "Sangat mudah membuka jendela kamarmu. Ini tidak usah dipikirkan. Nanti aku pulang, jendela kamar itu akan kembali seperti semula." Buku kecilnya disodorkan lagi. "Hng ... ok," jawabku ragu. Pertanyaan kenapa Jaya bisa sekuat itu membobol teralis besi mengganggu pikiranku. "Tapi Jay, bukannya kamu bilang gak akan datang malam hari lagi?" Jaya menghela napas. "Aku bukan Jaya." Aku tak bisa menahan kekehan akhirnya. Jaya benar-benar totalitas. Tahan sekali dia tidak tertawa melakukan hal ribet ini. Komunikasi lewat tulisan. "Mulai malam ini aku akan menemui kamu, Bungah. Kecuali pada Malam Jumat di mana bulan tampak penuh. Kamu jangan membuka jendela pada malam-malam itu. Abaikan semua suara. Jangan berusaha mencariku." "Aku tidak mengerti Jay--oh maaf aku harus panggil kamu apa?" "Panggil saja B." "Hm baik Be ...?" Aku jadi teringat suara kambing di belakang rumah Ua. "Hng ... aku manggil Bi saja. Tapi bisa kamu bicara langsung gak menulis begini?" Jaya balas menatapku. Tajam sorotnya memantulkan cahaya lentera di nakas. Jaya mendekat, tangannya terulur menyelipkan sejumput rambut ke belakang telingaku. Lantas pipiku terasa panas, selaras dengan rasa haus yang tiba-tiba datang. Aku berdeham mengambil segelas air yang selalu tersedia di atas nakas. Kebiasaan sejak lama, aku sering kehausan lewat tengah malam. Jaya masih saja memerhatikan pergerakanku. Jaya ini .... Kedutan di bibirku tidak lagi bisa ditahan. Menemukan dia tersenyum manis, aku menunduk malu. Ada untungnya juga lampu kamar mati. Bi tidak akan melihat pipiku yang pasti merah. "Aku lebih nyaman begini, Bungah. Apa kamu tidak menyukainya? Aku--" "Aku menyukainya kok." Sial, aku terlalu cepat menanggapi tulisan Jaya. Lihat saja laki-laki itu kini terkekeh tanpa suara. "Engh ... maksudnya aku tidak keberatan kamu mau menggunakan metode komunikasi apapun ... boleh. Asal bisa dimengerti." Jaya hanya mengangguk mahfum. "Kamu lucu Bungah." Refleks aku mencubit pinggangnya. Jaya ini ... bisa saja menggodaku. Jadi malu. Aku tahu batas kehadiran Jaya hanya sampai tengah malam. Setelahnya dia akan pergi, menghilang seperti Cinderella. Kami menghabiskan waktu singkat itu dengan memandangi bintang-bintang. Sesekali aku bertanya hal-hal umum mengenai dunia ini, dan akan dibalas oleh tulisan Jaya--maksudku B. Selalu lupa pada malam hari Jaya menamai dirinya Bi. Samar-samar aku menangkap suara aneh. Senyum Bi pudar selaras perubahan raut wajahku. "Kamu dengar itu?" tanyaku, Jaya menoleh pada jendela yang terbuka. "Suara kuda bukan?" Dia melangkah ke depan jendela. Menyingkap sedikit gorden yang sedang dimainkan angin. Tubuh jangkungnya berdiri di sana, mengamati. Aku ikut berdiri di samping Bi. Jalanan senyap, cahaya ke kuningan berasal dari rumah-rumah warga. Seingatku mode transportasi warga di sini adalah mobil bak terbuka yang pada saat subuh mengangkut para pedagang ke pasar. Kendaraan roda dua masih sangat jarang, apalagi mobil seperti milik Papa. Maka aku sangat penasaran pada suara tapal kuda itu, terlebih sekarang malam hari. Ketika suara itu dirasa semakin dekat, tanpa sadar aku menahan napas. Kuda hitam begitu gagahnya melewati jalan. Seorang penunggang memakai jubah hitam tampak misterius. Memacu pelan hewan tungangannya menerobos kabut tipis. Kuda itu berhenti. Kepala si penunggang pelan-pelan menoleh, namun Bi menarik lenganku lebih dulu hingga kami berada di balik tembok. Sesaat sebelum aku melihat siapa orang dibalik jubah hitam itu. Tangan dingin Bi menutup mulutku. Dia memberi gelengan. Tidak lama suara langkah kaki mendekat menginjak daun-daun kering juga ranting pohon menuju arah rumah. Sontak aku memejamkan mata. Siapa pun itu aku gemetaran mendengar gumaman tidak jelasnya. Baru setelah kuda itu menjerit lalu berlari menimbulkan gema malam itu, aku dan Bi bernapas lega. "Apa itu?" bisikku mencari kilau netra Bi dalam gelap. Bi menggeleng. Dia melepas lenganku. Sedangkan aku menggigit kulit bibir bagian dalam, posisi kita terlalu dekat. "Sampai besok malam, Bungah." Tulisan terakhirnya sebelum menghilang. Aku membaca kertas kecil pemberiannya. Tulisan tangan Bi sangat rapih. Aku terpukau melihat aksinya memasangkan kembali teralis besi. Sesuai permintaan B sebelum pergi. Aku segera mengunci jendela dan menutup gorden, lalu merebahkan diri di tempat tidur. Sekarang aku bisa tidur sambil mendekap tulisan B. Tidak sabar bertemu Jaya nanti pagi. Sebelum benar-benar terlelap, aku kembali teringat suara tapal kuda yang berlari dari kejauhan. Aneh sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN