Aku sudah bersiap menuju sekolah. Jaya menyandarkan sepedanya pada tembok pagar depan rumah. Sempat aku tengok jendela kamar bekas pembobolan malam tadi. Ih, Jaya luar biasa menutupi perbuatannya, tidak ada bekas jendela dibuka paksa sedikit pun. Aku curiga jangan-jangan Jaya mahir membobol jendela. Aku sempat tercenung beberapa lama di depan jendela memuji pekerjaannya. Tapi tidak heran, membobol hatiku saja dia jago.
Tanpa membahas tadi malam kami berbincang di teras depan sambil aku memakai kaus kaki. Pagiku cerah kalau ada Jaya. Dia selalu punya cerita lucu. Auranya menyenangkan, apapun bahasannya berhasil menarik minatku. Seketika tawa kami lenyap oleh kedatangan seseorang.
"Loh Jaya?"
Tidak ada angin, tidak ada hujan, Kak Heman berdiri di teras rumah memakai jaket parasut hitamnya serta tas yang dicangklungkan di bahu kanan. Sejenak aku dan Jaya bertatapan heran. Ada apa gerangan sepupu kami itu.
"Bungah sama Heman aja Om antar jemput, naik motor," katanya menekankan kalimat di ujungnya. Aku mencuri lihat Jaya, dia tampak kesal. "Lebih cepat sampainya kalau naik motor. Kemarin kan Bungah sempat kecelakaan gara-gara dibonceng sepeda, Om."
"Kemarin Bungah pusing jadi jatuh. Jangan salahkan sepedaku ya. Justru naik motor tuh Om pasti bawanya kebut-kebutan."
"Aku hati-hati kok. Kapan kamu lihat aku balapan liar?" Kak Heman tak mau kalah.
"Justru aku belum pernah lihat kamu kebut-kebutan jadi aku khawatir. Kalau Bungah jatuh. pasti lebih parah. Jangan ejek sepedaku ya. Butut-butut begitu Bungah suka dibonceng sepedaku. Sedang apes saja nasib aku kemarin, sampai Bungah jatuh. Emangnya Bungah mau naik motor kamu?" Nada mencibir Jaya membuat perutku mulas menahan tawa.
Dua pemuda ini kok malah ribut pagi-pagi. Menghibur saja. Papa sampai menyikutku. Aku mengedikkan bahu tidak mau berkomentar.
"Eh, kamu kok ngomongnya meremehkan gitu?!"
"Kamu juga meremehkan sepedaku. Bukan berarti karena motormu bagus, Bungah mau berangkat sama kamu. Jangan samakan Bungah dengan cewek-cewek kamu itu."
Tangan Kak Heman tergepal. "Cewek-cewek mana maksud kamu?" Kak Heman tergagap melirik papaku.
Jaya tertawa hambar. "Jangan pura-pura. Kamu kan langganan mengantar-jemput cewek. Beda-beda lagi."
"Kamu ngojek, Hem?" Papa menoleh tak percaya.
Aku makin sulit menahan tawa.
"Enggak, Om. Jaya suka ngaco. Baiklah biar Bungah saja yang pilih sendiri. Motor atau sepeda. Haha pasti motorlah," bangganya.
"Oh belum tentu. Bungah pasti--"
"Guys ... guys calm down, dengarkan dulu, oke? Jadi gini ...," Papa menghentikan perdebatan mereka, "Om seneng ... banget, kalian sudah meluangkan waktu peduli sama Bungah. Tapi mohon maaf, karena kondisi anak Om itu lagi kurang sehat, jadi dari hari ini sampai waktu yang belum ditentukan, biar Om dan Mang Budi saja yang akan mengantar dan menjemput Bungah sekolah. Kalau Om ada keperluan, pasti langsung menghubungi kalian. Thanks for coming today. Semangat!" Bahu keduanya ditepuk Papa sembari digiring keluar teras.
Aku menghembuskan napas. Papa juga sama. Baru masuk rumah setelah suara motor Kak Heman ke luar halaman dan Jaya menuntun sepedanya ke jalan besar.
"Anaknya Papa gadis idaman ya ternyata," goda Papa merangkulku.
"Apa sih, Pa?" elakku sambil bertopang dagu di meja makan, menunggu sarapan.
"Itu loh sama sepupu-sepupu aja kamu direbutin, apalagi di sekolah? Nggak kebayang." Papa terkekeh. "Wajar sih keturunan Papa."
"No kidding, Pa," geramku lemah, lapar menunggu sarapan belum ada. Papa mengusak pucuk kepalaku. Kesadaran seperti melempar Papa ketika aku bertanya, "Where is my sepasang telor mata sapi? Aku bisa terlambat ke sekolah."
"Astaga, Bungah!" pekik Papa, berlari. Dapur jadi sumber suara benda beradu, berjatuhan. Aku menebaknya pasti kacau. Kemudian Papa kembali sambil mengelap dahinya, menaruh sebuah piring di hadapanku. Papa menyengih malu.
"Apa ini hitam-hitam?" Aku mengenyit.
"Pagi ini makan telur gosong dulu ya, Nak? Gantinya nanti Papa bikin makan siang yang enak. Ayam goreng mau?"
***
Aku berangkat sekolah tanpa sarapan dulu. Laju mobil kami memelan melewati iring-iringan warga. Langkah mereka pelan dan menundukkan kepala, satu dua wanita menangis. Di barisan paling depan bahu para pria memanggul keranda berselimut kain hijau juga untaian bunga.
Aku dan Papa diam sepanjang jalan. Udara pagi itu bercampur wangi-wangian bunga.
Tadi malam kuda misterius, paginya keranda, dan kematian. Mengapa semua terasa saling berhubungan? Kepalaku menggeleng, hanya perasaanku saja.
"Pa, siapa yang meninggal?" Setelah iring-iringan itu terlewati, aku berani bersuara.
"Tetangga kita. Terhalang beberapa rumah dari kita. Kasihan keluarganya ditinggal mendadak. Anaknya juga masih kecil-kecil. Sepertinya sakit jantung." Lalu Papa membicarakan pentingnya makanan sehat, pola hidup, dan olahraga.
"Banyak juga ya yang mengantarnya ke pemakaman."
Papa mengangguk, tangannya lihai mengendalikan kemudi. "Beginilah hidup di desa. Solidaritasnya masih kuat. Mau berduka mau sukacita, semua orang pasti kumpul."
"Ini juga alasan Papa tidak mau pindah ke kota?"
Kekehan Papa terdengar sumbang. "Ya ... bisa dibilang begitu. Unga masih belum betah ya tinggal di sini?" tanya Papa menoleh. "Gimana sama sekolah?"
Aku bergumam memerhatikan hijaunya persawahan. Papa tahu jawabannya. Ya, aku masih belum betah. Perasaanku selalu tidak enak jika berada di rumah itu. Akan lebih menenangkan ketika aku berada di luar.
"Sekolahku baik-baik aja. Aku lebih betah di sekolah daripada di rumah."
Sampai sekolah Papa menanyakan jam berapa aku pulang, Papa akan menjemputku. Sepertinya pekerjaan Papa akan bertambah setiap paginya. Selain memasak sarapan, juga harus mengantar-jemput aku sekolah.
Sebetulnya Papa bukan seorang pria tampan yang mahir di dapur. Faktanya Papa baru menyentuh peralatan dapur setelah kami hidup berdua di Kanada karena keadaan terpaksanya--single parent. Sebagai pemula, masakan Papa tidak jauh dari roti bakar, terkadang sepasang telur mata sapi, dan yang terbaru pancake. Percayalah pancake buatan Papa paling enak.
"Bungah."
Jaya beranjak dari bangkunya menghampiri aku. Dewi sudah duduk membaca buku. Gadis berkacamata ini maniak belajar. Semua orang tahu ambisinya menjadi juara umum. Kemarin guru matematika mengabarinya untuk ikut olimpiade. Semakin giat saja belajarnya.
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum." Telur buatan kan Papa gosong.
"Kita ke warung Bi Minah yuk? Aku juga belum sarapan nih."
"Boleh." Aku mengangguk sama riangnya dengan Jaya. "Wi, ikut kita nyari sarapan?"
Dewi mengangkat wajah, kacamatanya sedikit melorot. Tatapannya jatuh pada Jaya kemudian padaku. "Tidak."
Jaya berdecak, menarik aku mendekat. "Tidak ada harapan ajak anak ambisius seperti dia."
"Siapa? Dew--"
"Stttth!" Jaya menempelkan telunjuknya di bibir. Kami terkekeh bersama melewati koridor sepi. Semua kelas tengah melakukan kegiatan belajar. Kebetulan sekali guru matematika di kelas kami tidak masuk. Ketua kelas membawa kabarnya dari ruang kesiswaan.
"Ini namanya nasi tumpeng, bukan?"
Aku baru makan nasi kuning begini setelah sekian lama.
Jaya tersenyum, meminum teh hangatnya sebelum menjawab pertanyaanku, "Sama jenisnya, tapi yang ini namanya nasi uduk biasa dimakan saat sarapan. Sedangkan nasi tumpeng untuk perayaan."
Aku mengangguk, lidahku menikmati makanan rekomendasi Jaya. Menimang komposisinya dalam mulut.
"Enak."
"Mau tambah lagi?" tawar Jaya bersiap memanggil pemilik warung.
"No. Aku sudah kenyang."
"Baru sedikit kamu makannya. Atau tidak selera ya? Katanya makanan bule tidak pakai banyak rempah seperti makanan Indonesia."
"Hm ... western maksud kamu? Iya sih beberapa. Tapi aku suka ini, nasi uduk. Porsi makanku memang sedikit. Satu lagi Jay, aku bukan bule."
"Oh ya? Tapi," Mata Jaya mengarah pada rambutku tidak percaya.
"Ini pirang asli, mamaku keturunan Inggris-Padang, Nenek yang orang Inggris. Kayaknya ini gen nenekku rambut pirang. Bu Nada minta aku menghitamkan rambut lagi masa, apa itu harus ya?"
"Tetap saja ada darah luarnya," decak Jaya selesai suapan terakhir. "Warnanya kan asli, bukan dibuat-buat supaya pirang. Emangnya kamu nenek-nenek harus dicat hitam? Haha ada-ada saja mereka itu. Abaikan."
"Jadi boleh begini saja?"
"Hu'um, bolehlah. Aku suka kok. Cantik."
Beginilah. Kalau berhadapan dengan Jaya siang hari, didominasi tawa renyahnya, mungkin karena malamnya Jaya kebanyakan diam. Terkadang aku heran, kenapa Jaya bisa berubah-ubah begitu. Dia punya kepribadian ganda? Mungkin saja sih, atau ada hal lain?
"Jay, kamu punya saudara kembar?"
Tawa Jaya saat menceritakan kelakuan murid yang berniat bolos naik ke benteng belakang celananya robek karena buru-buru di kejar guru berhenti. Kedua alis tebal Jaya bertautan. "Tidak. Kenapa tanya begitu? Mukaku pasaran ya?"
Jangan bercanda, Jay.
Jaya itu paling tampan di sekolah ini, tampan selaraku ya. Tapi sepertinya semua orang di sejolah juga setuju Jaya masuk ke dalam barisan siswa tampan. Dia berbeda, entah mungkin aku langsung menyukai dia dari awal perjumpaan pertama kita. Berkali-kali aku perhatikan, belum ada yang menandingi Jaya sejauh ini. Jadi aku berani mengatakan dalam hati, Jaya ini tipeku.
"Di jalan bertemu orang mirip aku ya?" tanyanya lagi.
"Tidak, ih. Sudah. Sudah. Ke kelas yuk?" Aku melenggang mendahuluinya.
Jaya terkekeh mengejarku. Tangannya merangkul bahuku.