Rombongan berjubah hitam bergerak menuju hutan. Nyala obor menyinari jalan setapak malam itu. Sementara seorang perempuan diseret kasar oleh mereka. Jeritan serta tangisannya tidak dipedulikan. Perempuan itu seakan tidak kehabisan cara melepaskan diri, terus meronta meski kelihatannya cengkeraman pada lengannya semakin kuat. Tanpa ada belas kasih.
Entah mau dibawa kemana. Langkah mereka menderap di bawah cahaya bulan. Serangga-serangga hutan mengiringi perjalanan. Burung kematian berpindah ke setiap dahan pohon, menjadi satu di antara banyak saksi. Lalu awan hitam membumbung kelam, perlaha menyelimuti sempurnanya bulatan bulan. Gelap, seluruh alam semesta gulita.
Gemuruh langit seolah memperingati bahwa batas kemanusiaan sedang dilanggar. Hujan pun ikut serta menemani tangis perempuan itu, membasahi tanah yang orang-orang itu cangkul. Bara obor di tangan mereka satu persatu padam. Menyisakan sedikit bara dan asap.
"Laras."
Aku tersentak, meraup udara di ruang kosong. Sesuatu seperti baru saja menarik jiwaku yang hendak keluar. Langit-langit kelambu bergambar bunga merah darah membuat aku berpikir, mimpi apa aku barusan? Perempuan dalam mimpiku terasa familiar. Dimana aku melihatnya? Mengapa akhir-akhir ini mimpiku selalu aneh?
Kokokan ayam jago tersengar nyaring, penanda siang. Melirik jam dinding, ternyata aku kesiangan lagi. Gawat! Tidurku amat tenang. Tidak ada alarm--gedoran pintu ulah Papa pula.
Tergesa aku membawa handuk, keluar kamar. Hening aku dapatkan. Ua Hanggara terlihat baru keluar dari ruang terlarang, sedang menggembok pintu. Sepagi ini. Aku makin penasaran saja ada apa di balik kerahasiaan ruang terlarang. Hanya aku dan Papa yang tidak boleh masuk ke sana. Kata Papa ini masalah kepercayaan.
Mungkin mereka menganut ajaran iblis, siapa tahu, 'kan? Lantas aku cepat melarat pemikiran itu, enggan mengulang kejadian terakhir kali di ruang terlarang. Aku sempat hampir mati di sana. Kesempatan diberi kehidupan mungkin tidak datang dua kali. Aku harus menjaganya baik-baik. Lagi pula di tempat baru jangan berpikir, berkata, dan bertindak sembarangan. Jangan membuat penghuninya kesal. Aku mengetuk-ngetuk kepala supaya sadar.
"Bungah?" Ua Hanggara menyadari kehadiranku.
Aku tersenyum canggung, ketahuan bertindak aneh. "Ua."
Hanya itu. Di antara kakak-kakaknya Papa, Ua Hanggara agak menakutkan. Jarang sekali aku mendengar suaranya. Kami pun berlalu tanpa basa-basi panjang. Ua Hanggara keluar halaman dan aku ke kamar mandi.
Rumah peninggalan Nenek ini hanya punya satu kamar mandi, yaitu di dekat dapur. Karena letak kamarku berada di ujung maka sedikit jauh. Aneh, pagi ini berbeda. Biasanya memang sepi, tapi kali ini sepinya terasa mencekam. Aku melirik dapur tempat Papa memasak untuk sarapanku. Letak kamar mandi dan dapur yang bersebelahan mengharuskan aku mendengar omelan Papa gara-gara telat bangun. Pagi ini tidak ada Papa di sana.
Kemana perginya Papa sepagi ini? Tidak biasanya keluar tanpa sepengetahuanku.
Sedangkan menunggu ember terisi air, aku bersenandung pelan. Caraku membunuh ketakutan ya begini. Apalagi bila merasakan keanehan seperti sekarang. Meski aku menguatkan hati jangan berpikir macam-macam, mataku tak bisa tenang, liar melihat sekeliling. Yang aku takutkan hanya satu. Takut di salah sudut kamar mandi ada sosok menyeramkan sedang duduk memperhatikan aku telanjang. Hm ... kesal! Sungguh, tidak adanya Papa sangat aneh. Lebih tepatnya tidak terbiasa.
"Laras."
Kepalaku sontak tertoleh ke pintu. Baru saja aku mendengar seseorang memanggil, namun bukan pada namaku. Aku diam sejenak, hanya ada kucuran air yang meluap dalam ember. Degub jantungku sangat keras hampir rasanya pecah. Segera kepalaku menggeleng berusaha positif, mendoktrin diri sendiri tidak ada yang bersuara selain aku. Selain aku.
Tapi perasaan takut tidak bisa dibohongi. Aku menatap waspada ke setiap sudut kamar mandi. Menggenggam gagang gayung erat, siap memukul makhluk apa saja yang muncul di depan mukaku.
***
"Bungah kamu suda--waw!"
Papa tertergun begitu membuka pintu kamar. Aku menertawakan kekagetannya.
"Gimana?" tanyaku mengibas-ngibaskan rambut.
Papa melangkah masuk masih terkagum-kagum. "You so--I'm speechless. How--why?"
"Jelek ya Pa?"
"Bukan gitu, maksudnya Papa kaget tiba-tiba rambut anak Papa jadi hitam. Tapi--Papa gak tahu--I mean kamu jadi lebih mirip anak pribumi sekarang, haha."
Aku merotasi bola mata, lanjut mengeringkan rambut.
"Bercanda, Sayang. Kamu tetep Bungahnya Papa yang cantik. As always."
"Hm ..., gombal!"
"Eh? Papa serius juga. Oh iya, hari ini sarapan bersama. Agenda bulanan keluarga. Ayo!"
Tanganku ditarik Papa ke halaman depan, di bawah gazebo di lingkungan rumah keluarga kami, orang-orang berkumpul.
"Hai, Bungah!" sapa saudarinya Papa. Aku lupa siapa namanya.
Perhatian semua orang tertuju pada kedatangan aku dan Papa. Mereka tersenyum canggung, melihat kepalaku. Mungkin aneh tiba-tiba rambutku berubah hitam.
Jaya menepuk tempat kosong di sisinya, namun Papa segera menarik tanganku agar duduk dengannya saja. "Pacaran itu ada waktunya, kalau di rumah waktunya Bungah sama Papa," bisik Papa.
"Ih Papa mah, aku nggak pacaran sama siapa-siapa kok."
"Ah masa ...? Itu pemuda tampan yang lagi merhatiin kamu sampai nggak ngedip apanya kamu dong?" Papa memberiku sepiring nasi berserta lauk-pauk. Oke, makan berat pagi ini. "Yakin nggak pacaran? Tapi kalian lirik-lirikan gitu. Lucu banget."
"Papa ...." rengekku malu.
"Ada apa, Bungah?" Pertanyaan Ua Rinanti membuat orang-orang menoleh padaku.
Mampus. "E-enggak apa-apa, Ua."
Sedangkan Papa cekikikan. Seperti anak kecil saja kelakuan papaku ini.
"Bungah ganti warna rambut?" Ua Lisna meletakan segelas air teh di meja setiap orang menginterupsi acara bisik-bisik kami.
"Iya, Ua. Sekolah melarang muridnya berambut pirang."
"Mau jadi orang Indonesia asli katanya, Teh," tambah Papa sambil mengunyah. "Aneh, ya? Masa menilai seberapa Indonesia-nya kita diukur dari warna rambut. Apa kabar rambut putih nenek-nenek? Kan putih semua tuh."
Mereka terkekeh karena lelucon Papa, dilanjutkan dengan obrolan ringan keluarga. Obrolan yang membicarakan prestasi tiap anak, membicarakan bisnis mereka. Sebagian besar tentang pamer. Tidak jarang mereka membandingkan anak satu dan anak lainnya. Lalu pembicaraan para orang tua teralih pada keributan si kembar berebut makanan. Papa menoleh padaku, tersenyum maklum agar aku melanjutkan makan dengan tenang.
Satu lagi keanehan keluarga ini. Jika diperhatikan lagi, mereka tidak punya pasangan, semua yang duduk meriung bersila di atas karpet adalah keluarga inti. Tidak ada menantu.
Keluarga Jaya juga, ayahnya Jaya kerja jauh di Kalimantan biasa pulang dua atau tiga bulan sekali. Beda lagi dengan kisah Ua Hanggara yang istrinya tidak jelas ada di mana. Ua Lisna dengan suaminya cerai mati. Ua Anjani dengan suaminya juga cerai mati. Sedangkan Papa tahu sendiri sudah lama menduda, malah minggu lalu ditinggal nikah sama mantan istrinya. Hanya Tante Nidria, anggota keluarga yang paling normal kehidupannya. Tante Nidria punya dua anak dan mereka tinggal di kota. Aku berencana menumpang tinggal di rumah Tante Nidria saja.
Apa keturunan Papa punya semacam kutukan terhadap keluarga bahagia ya? Papa sempat menyangkal, ini semua hanya kebetulan katanya.
Di dunia ini tidak ada yang kebetulan.
Selesai makan aku pun membilas sabun di tangan. Di sini kami dibiasakan mencuci alat makan masing-masing setelah menggunakannya.
"Cantik." Jaya bergumam mendekatkan wajahnya padaku saat kami berpapasan.
Lantas bibirku berkedut semu, tersenyum malu. Tiada hari tanpa godaan Jaya.
Pagi itu kami berangkat sekolah usai dikenyangkan dulu oleh masakan enak saudari-saudarinya Papa. Mobil Papa ditumpangi tiga sepupuku, si kembar Pratama dan Pratiwi juga Sophia. Terkadang aku lupa nama-nama mereka, anak dari siapa mereka, kelas berapa mereka saking banyaknya sepupuku.
Pratama dan Pratiwi sendiri duduk di sekolah menengah pertama, empat ratus meter dari sekolahku. Mereka turun lebih dulu. Sedangkan Sophia, anak itu hanya ikut-ikutan. Sophia baru masuk taman kanak-kanak, hari ini dia meliburkan diri sendiri, alias merengek tidak mau sekolah.
Dari acara makan bersama keluarga tadi, agaknya menciptakan sedikit celah bagiku bergaul dengan mereka. Bahasan utama tadi soal rambutku. Mereka menjengkelkan sih banyak bertanya, tapi dibalik semua itu mereka lucu.
"Hm? Ungah bilang apa?"
Aku menoleh, Papa sedang menatapku datar. "Unga nggak bilang apa-apa," jawabku menggeleng.
Papa keheranan, terlihat tidak yakin. Lalu beralih ke kursi belakang dimana Sophia tersenyum lebar.
"Opi bicara sama Om?"
Anak itu menggeleng juga, dia cekikikan sendiri. Aku dan Papa berpandangan, agak merinding sebenarnya.
Ada apa dengan anak itu?