"Aneh tidak sih Bi, keluarga ini?"
Bi termangu memerhatikan aku mondar-mandir di dalam kamar sejak dia datang. Baru aku sadari tidak ada satu pun menantu yang tinggal di rumah Nenek. Seperti rumah ini bukan tempat yang diperuntukkan para menantu. Pikiranku mulai kemana-mana ... mencari kemungkinan orang tuaku berpisah juga karena keluarga ini. Berharap bisa mendapatkan pertanggungjawaban seseorang atas musibah di keluargaku. Aku sadar betul hubungan keduanya tidak akan kembali, hanya saja nasib buruk harus diperbaiki.
Aku ingat, pernah waktu kecil sepulang liburan dari kampung halaman Papa, orang tuaku bertengkar. Mulai dari malam itu mereka jarang bicara. Hanya saat denganku saja mereka bersikap harmonis. Papa tampak berusaha mendekati Mama, tapi selalu gagal. Pertengkaran-pertengkaran kecil pun berbuntut pada satu hubungan yang tidak bisa dipertahankan. Entah apa penyebabnya. Sangat disayangkan aku masih belum mengerti kelumit yang mereka alami. Andai saja aku bisa pergi ie masa lalu pasti akan aku sadarkan keduanya.
Napasku berhembus kasar di sela jalan yang kuyakini buntu. Bi menuliskan sesuatu di kertas kecilnya.
"Jangan terlalu dipikirkan Bungah. Semua sudah terjadi."
"Maka dari itu kita harus cari tahu supaya yang dialami keluarga ini nggak terjadi terus-terusan. Nggak takut emangnya kalo hal serupa terjadi sama kita? Kamu tahu kan berapa kali Ua Lisna menikah? Tiga kali! Semuanya berakhir cerai mati. Ua Anjani, Ua Hanggara, papaku? Ini nggak wajar." Aku menggeleng. "Untung Mama dan Papa baik-baik saja meski berpisah. Apa mungkin kalau keluarga ini terkena kutukan atau semacamnya? Kutukan yang membuat para keluarga berpisah."
Kini aku bersila menghadap Bi, menanti tanggapannya. Pemuda itu malah menahan tawa. Padahal kalau aku sedang bercanda ekspresinya pasti datar, giliran aku serius dia tertawa. Bi juga aneh.
"Aku lagi serius!"
"Maaf, pikiran kamu lucu sih Bungah."
"This isn't funny, Bi," dengusku. "Aku penasaran sama keluarga ini, what happened? Banyak sekali larangannya. Terutama ruang terlarang itu, mereka bikin pemujaan ya di dalamnya? Aku suka merinding kalau lihat atau lewat ruang terlarang. Serem."
"Lalu mau kamu bagaimana?"
Senyumku terbit. "Kita cari tahu, yuk? Aku mau tahu. Kalau bisa menyelesaikannya sampai ke akar-akar."
Bi menggeleng sambil menulis. Lama-lama aku jadi terbiasa diajak komunikasi lisan-tulisan begini. Walau feed back-nya agak lambat. Ada sensasi berdebar menanti tanggapan apa yang ditulis Bi untukku.
"Panjang ya?" Aku mengintip, Bi segera mengubah posisi menghindariku.
Lalu Bi menoleh sebentar memberi aku senyumnya yang samar. Dia menyerahkan catatannya.
Ada banyak kalimat gagal yang dicoret. Keningku mengernyit tertuju pada satu kalimat lolos coretan berada di ujung kertas paling bawah.
"Jangan terlalu ingin tahu Bungah, kamu tidak akan siap menghadapi akibatnya."
"Wow!" Aku terkekeh, kata-kata Bi keren, makin jerumuskan aku pada rasa penasaranku saja. "Apa maksudnya?"
Bi menarik kembali buku kecilnya. Sebentar jemarinya lihai lagi memainkan pena.
"Firasatku tidak bagus," tulisnya.
"Oke ..., jadi aku harus percaya kata-kata kamu nih?"
Netra gelapnya menatapku lekat. Aku sampai geli ditatap selama itu oleh laki-laki.
"Apa sih Bi? Ada yang salah ya dari mukaku?"
Aju terdiam membaca tulisan Bi selanjutnya.
"Aku serius, Bungah. Pikirkan juga orang-orang yang kamu sayang. Firasatku tidak baik."
***
Tepat bunyi bel istirahat aku menarik Jaya ke tempat agak sepi. Tujuanku depan Lab Biologi dan Lab Kimia. Di sana tempat cocok untuk mendiskusikan hal rahasia. Jarang sekali orang-orang lewat sana jika bukan ada pelajaran praktek di lab. Setelah memastikan kedua lab itu tidak memiliki jam belajar aku berhenti di terasnya. Menengok ke sekeliling dulu sebelum bicara memastikan area itu hanya ada aku dan Jaya. Masalahnya apa yang akan dibahas beberapa menit ke depan adalah masalah keluarga. Seaneh apapun keluarga kami, tidak akan pernah kami izinkan orang lain menggunjingnya.
"Ada apa sih Bung, bawa aku ke tempat sepi begini?" Alis Jaya naik turun.
"Jangan bercanda dulu," tepisku lalu berkacang pinggang.
"Ayo, aku kalau mau serius juga!" balas Jaya cepat dan bersemangat disertai kikikan geli. "Auhh sakit Bung, kok dicubit?"
"Kamu sih bercanda terus. Aku lagi serius nih."
Jaya menjawil hidungku sambil tertawa. Dia di siang hari tidak bisa diajak diskusi. Berbanding terbalik dengan dirinya yang berubah seserius Bi waktu malam. Dasar bunglon.
"Oke, jadi gini. Aku mau kita melanjutkan diskusi 'kenapa keluarga kita begitu?'"
"Sebentar. Melanjutkan diskusi? Memang kapan kita pernah diskusi masalah ... apa tadi? 'Kenapa keluarga kita begitu'? Keluarga siapa? Kita?"
Lantas bola mataku berputar jengah. Jaya dan kepura-puraannya ini totalitas. Seolah itu merupakan identitas harga mati, tidak boleh terbongkar, atau pura-pura bodoh saja.
"Ah! Abaikan kita diskusinya kapan. Yang jelas kita harus mulai cari tahu," ujarku ada jeda, Jaya tetap memerhatikan. Entah dia mengerti atau tidak, serius atau bercanda, apapun itu wajah tengil Jaya akan selalu sama. Terkadang aku jengkel. "Kamu pernah ke ruang terlarang?"
"Hah?!"
"Iya, satu-satunya ruangan di rumah Nenek yang pintunya digembok itu. Pernah masuk ke sana?"
"Gila, kamu! Ya belumlah."
Jemariku cepat menyahut melalui jentikan, "Makanya. Kamu nggak penasaran kenapa kita nggak boleh ke sana?"
"Bung? Kamu nggak ada pikiran buat masuk ke sana, 'kan?"
Aku tersenyum, akhirnya Jaya mengerti arah pembicaraan kami. Namun desahan napas Jaya membuat aku kecewa, sepertinya dia tidak mau.
"Bungah, semua cucu Nenek memang tidak diperbolehkan masuk ke sana. Hanya para orang tua yang boleh. Aku tidak tahu alasannya. Yang jelas, kita harus mematuhi. Tidak ada salahnya juga mematuhi. Lagi pula untuk apa ke sana."
"Dan kamu nggak penasaran? Sedikit pun? Kamu nggak penasaran apa yang aku lihat di dalam ruangan itu sampai hampir mati?"
"Kamu pingsan, bukan hampir mati."
"Jaya, ruangan itu nggak beres."
Jaya menatapku, lalu mengalihkan perhatiannya pada pohon rindang sekolah ini. Matanya menerawang jauh, seolah siapapun tidak bisa menjangkau apa yang ada dalam pikirannya.
"Aku tidak mau berhubungan sama ruangan itu, Bung."
"Ayolah, Jay. Semalam kamu ... setuju. Kalau kamu nggak mau aku bakal minta tolong sama Kak Heman aja. Sepertinya dia mau membantu aku," ancamku, biasanya Jaya tidak suka ada nama Kak Heman dalam obrolan kami.
"Ruang terlarang bukan tempat main-main, Bungah. Meski aku nggak bisa melihat dimensi lain. Tapi aku nggak mau melajggarnya. Kamu pernah mengalaminya sendiri, 'kan? Hampir mati, kan, katamu? Contoh itu saja mengartikan kita jangan coba-coba masuk ke sana."
Aku bergidig, kilasan tatapan seorang perempuan berkebaya merah agak mengganggu konsentrasi. "Aku nggak menganggap itu main-main, Jay. Serius, aku penasaran aja."
"Bung!" Jaya memejamkan matanya sebentar, buku-buku jarinya memutih dalam gepalan kuat. Saat matanya terbuka bersamaan hembusan napas kasar, aku melihat perbaduan kesedihan dan jengkel di sana. "Penasaran aja itu artinya main-main. Kamu tidak tahu apa-apa, Bungah. Kamu nggak tahu berapa banyak orang yang kehilangan orang tersayang karena ruangan itu. Aku pernah kehilangan orang paling berharga gara-gara ruangan itu. Aku tidak mau kehilangan lagi. Jadi cukup. Kembalilah sebelum terlalu jauh."
Aku terdiam, mencerna perkataan Jaya. Dia melenggang jauh sebelum meledak. Ya, aku melihat amarah besar dalam diri Jaya. Tanpa sadar aku telah membangkitkannya.
Bekas kehadiran Jaya di sisiku disapu angin. Tanda istirahat berakhir berbunyi keras dari speaker antara dua lab. Aku masih mematung sendirian.
Kamu tidak tahu apa-apa Bung. Aku pernah kehilangan orang paling berharga gara-gara ruangan itu.
Apa maksud Jaya dan siapa yang dimaksud Jaya. Aku tidak mendapatkan jawabannya. Jaya terlanjur marah dan pergi.
"Laras?"
Suara itu. Aku menoleh pada lorong antara dua lab. Sedikit gelap dan lembab.
"Laras?"
Di tengah hening, suara itu membuat bulu kudukku berdiri. Jemariku menggenggam kuat pinggiran rok abu. Seseorang berbaju merah melintasi lorong perlahan-lahan. Dia keluar dari lab kimia memasuki lab biologi.
Harusnya aku pergi, kakiku mendadak kaku diajak bergerak. Sayup-sayup di salah satu ruangan terdengar gumaman, berubah menjadi senandung lirih. Napasku tercekat, entah dorongan apa aku berhasil lari.
Dia perempuan ruang terlarang.