Perdebatan kemarin berujung marahnya Jaya. Dia selalu menghindar setiap aku dekati, mengabaikan sapaanku. Di sini aku berdiri, memandang keramaian para pejalan kaki yang sepanjang jalan memilih makanan. "Hei." Matahari sedang menuju peraduan. Jingga di langit semakin pekat ketika aku dan seseorang berjaket kulit hitam duduk menghadap alun-alun kota. "Maaf menunggu lama." Kak Heman memberiku sepiring makanan hangat. "Basotahu," katanya lagi. "Makasih, Kak." "Gimana?" "Huh? Oh--enak. Saus kacangnya enak." "Di sini banyak jenis jajanan enak-enak. Basotahunya lumayan terkenal. Kalau kamu mau jajan ke sini lagi, bilang saja ke aku." "Hm ...," Kalau bisa aku maunya ke sini bersama Jaya. "Kak, boleh aku tanya sesuatu?" Kak Heman mengangguk sambil mengunyah makanan. Aku tidak pand

