Desas-desus gosip Diani dan Alaric di kantor menguap begitu saja, digantikan oleh gosip Alaric yang membawa wanita ala Korea ke kantornya. Alaric dan Diani sama-sama terkikik geli saat perjalanan pulang dari kantor. Mereka tak habis pikir, segitu mudahnya teman kantornya dikelabui. Diani mengakui, ini adalah ide brilian yang tak pernah di pikirkannya. Padahal, otaknya sering sekali diisi oleh gosip selebriti, berita, dan drama Korea. Tapi, tak sekalipun dia berpikir untuk melakukan hal gila itu.
"Aduh, udah deh, Ric! Gue sakit perut kalo inget-inget perkataan orang-orang tadi. Sampe-sampe gebetan lo pada interogasi gue pas mau pulang kantor!" Diani terkikik geli lagi. Apalagi beberapa gadis dari divisi berbeda langsung mendekatinya dengan wajah muram untuk memastikan kabar yang telah tersebar itu. Alaric yang sedang fokus menyetir menanggapinya dengan terbahak.
"Haha, pokoknya jangan sampe lo pake barang-barang tadi, ya!" kata Alaric memastikan. "Jadinya kan gak ada lagi gosip tentang kita. Bukan begitu, bu Diani?"
Diani menatap Alaric, mengamati wajahnya dari samping. Sebenarnya, dia tak terlalu terganggu dengan gosip itu. Tapi, Alaric kelewat peduli dengannya. Bahkan dengan hal kecil seperti ini pun, Alaric tidak mau membuat mood Diani down.
"Iya, bagus deh!" Diani akhirnya menjawab, dengan senyumnya yang -sejujurnya- sedikit dipaksakan. Alaric hanya tersenyum memandangnya sebelum dia memarkirkan mobil di depan rumah Diani.
"Masuk dulu, yuk!" ajak Diani. Biasanya, Alaric suka ngobrol atau main catur sama Ayah Diani. Tapi, berhubung malam itu dia ingin mengerjakan tugas kantornya, dia terpaksa menolak ajakan Diani.
"Nggak deh, salam aja sama Ayah dan Bunda. Gue mau nyiapin bahan buat rapat besok sama pak Broto," kata Alaric.
"Oke deh, makasih ya udah anterin gue, Ric."
Baru saja Diani mau keluar dari mobil Alaric, tiba-tiba saja pria itu menarik lengan Diani sehingga gadis itu kembali terduduk di jok mobil.
Dengan mata membelalak dan jantung yang berpacu, Diani menatap Alaric. Wajah pria itu semakin mendekat, sehingga deru napas Alaric bisa dirasakan di sekitar pipi Diani.
"Jangan lupa makan malem ya, Di," bisik Alaric.
Diani menahan napasnya dan menganguk kaku. Sudah dipastikan, wajahnya yang lonjong itu tengah menghangat saat ini.
~
Kejadian tadi masih berputar jelas di ingatan Diani. Bagaimana aroma parfum maskulin Alaric menguar di indra penciumannya. Aroma yang sama saat dia pertama kenal dengan Alaric di bangku Sekolah Menengah Atas.
Diani kemudian mengambil ponselnya, mengirim obrolan singkat ke akun line milik sobatnya itu.
DianiDian : Semangat ya, Ric!
DianiDian : Gak usah begadang segala, daripada besok lo ketiduran, wkwk.
AlaricKP : Santai aja kali.
AlaricKP: Gue gak kebo kayak lo! :P
DianiDian : k*****t! :v
AlaricKP : Sono tidur, jangan kangen sama gue! :D
DianiDian : Males banget kangen sama upil naga! WKWK
Read
Diani memeluk ponselnya, entah kenapa perasaannya hari ini jauh lebih berwarna dari sebelumnya. Diani tak mencoba mencari tau kenapa, dia lebih memilih menikmati sensasi itu.
"Di, Bunda mau ngomong sama kamu." Kepala bunda Enny sudah menyembul kedalam kamar anak perempuan satu-satunya. Diani yang saat itu sedang tiduran langsung terduduk dan menggiring bunda Enny untuk duduk di sampingnya.
"Ada apa, Bun? Kayaknya, serius banget."
"Gini loh, Di. Bunda tadi abis telponan sama mamanya Kaza. Katanya, Kaza dua minggu lagi akan dipindah tugaskan di Jakarta."
Setelah nama Kaza disebut-sebut, perasaan Diani mulai tak enak.
"Terus kenapa, Bun?" tanya Diani yang sok polos. Bunda Enny hanya tersenyum, tahu betul sikap anaknya yang tidak mau dilibatkan.
"Nanti, Bunda minta tolong kamu untuk jemput Kaza di bandara. Sekalian nganterin dia ke asramanya di daerah Cawang."
Diani memandang wajah Bundanya dengan tatapan memohon. "Bunda, Kaza kan udah gede. Dia pasti bisalah cari taksi sendiri. Lagian, masa sih gak ada temen kantor yang bakalan jemput dia?"
"Pokoknya Bunda gak mau tau, kamu harus jemput dia dan anter sampai asrama. Kalo kamu gak mau, Bunda bujuk Alaric biar kamu setuju dengan Bunda."
Diani hanya memanyunkan bibir dan bermuka masam, tanda dia tidak setuju dengan Bundanya.
"Bunda hanya ingin kamu bantuin anak temen Bunda, Di. Boleh kan Bunda minta tolong sama anak Bunda sendiri?"
Tanpa Bicara, Diani memeluk Bundanya dan menggangguk pasrah. Bersamaan dengan itu, notifikasi di ponsel Diani berbunyi tanda ada pesan masuk. Diani mengecek ponselnya. Sejenak dia berpikir bahwa itu dari Alaric. Tapi, sejurus kemudian dia teringat bahwa Alaric lebih suka mengobrol dengannya melalui aplikasi chat yang banyak stikernya itu. Lagipula, pesan yang masuk dari aplikasi obrolan yang berbeda.
Alis Diani bertaut menjadi satu. Pasalnya karena dia tidak tau siapa yang mengirim pesan beruntun dan terkesan tidak sabar itu.
From : +62852-1609-xxxx
Assalammualaikum, Diani?
22.00
Kamu masih inget aku kan?
22.03
~