Pak Reza meraih tangan Freya. Tubuh wanita itu terbaring damai seolah sedang tidur. Meskipun dokter mengatakan Freya sudah melewati masa kritisnya. Ia belum juga terbangun. Apalagi yang bisa ia lakukan sekarang selain berdoa. Ia mengambil tempat duduk di samping Freya dan mengecup tangan istrinya pelan. "Aku tahu selama ini belum jadi suami yang baik buat kamu, terlalu cuek dan tidak bisa memahami kamu." Pak Reza memandang wajah damai istrinya yang tertidur. "Kembalilah untukku, untuk anak-anak kita." Tangannya bergerak membelai lembut pipi Freya. "Sayang, kamu udah tidur berjam-jam. Bangun yaa. Aku udah kangen denger celotehan kamu." Hening... Pak Reza menahan air matanya. Entah sejak kapan terakhir kali ia menangis, ia sendiri sudah lupa. Belum pernah ia merasa sesedih ini. Melihat

