Pak Reza meraih tangan Freya tapi perempuan itu segera menepisnya. "Saya tidak tahu bagaimana kamu mengetahuinya tapi itu sudah masa lalu." Freya menggigit bibirnya. "Tidak apa-apa. Aku sudah tahu semuanya. Aku bahkan melihatnya sendiri." "Apa maksud kamu, Freya?" Kak Fanya memandangnya. "Sulit untuk menjelaskannya. Aku bahkan belum bisa menerima dengan akalku bagaimana aku bisa berada di sana," ujar Freya yang masih teringat dengan mimpinya. Peristiwa itu bagaikan rekaman kaset yang masih baik dan bisa ia putar kapan saja di otaknya. Pak Reza memandang istrinya dengan cemas. Kalau-kalau ada saraf yang sedikit geseh dari kepala istrinya ini. Kenapa istrinya itu seolah berbicara tentang dunia yang lain. “Fre, kamu yakin tidak apa-apa? Perlu aku panggilkan dokter atau psikiater?” tanya

