Renno sedang serius memegang stir mobilnya.
Tak ada satupun dari kami yang memulai pembicaraan.
Kejadian tadi membuatku merasa canggung dan tak ingin melihat kearahnya.
Aku sibuk membuang muka kearah jendela untuk menenangkan hati dan pikiranku yang sedang bingung dengan situasi ini.
Aku bingung mengartikan keadaan ini, kami hanya berteman, sebatas teman, bolehkah seperti ini???
Ataukah sekarang Renno memiliki perasaan yang lebih padaku?
Atau hanya perasaanku saja?
Aku terlalu banyak berkhayal, dan semoga aku tidak mengharapkan perasaan yang lebih darinya.
Sebenarnya kalau dipikr kembali, harusnya aku merasa bahagia bisa bersama dengan pria setampan dan sekeren Renno.
Bukankah itu impian hampir tiap gadis di sekolah???
Iya...memang aku akui ada getaran aneh yang menggelenyar di tubuhku tiap kali Renno berada di dekatku.
Getaran yang mampu membuat jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya.
Yang membuat otakku juga ikut mati tak bisa berpikir.
Renno Renno Renno...
Aaaaahhhhhhhh nama itu memenuhi pikiranku.
***
Renno mengantar Bella pulang kerumahnya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Bella turun dari mobil Renno kemudian berlalu memasuki gerbang rumahnya.
Ia berjalan dengan langkah bingung, masih saja memikirkan 'ciumannya' dengan Renno di mobil tadi.
Langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang dari keajuhan tengah berdiri menunggunya.
Pria paruh baya yang masih tampan di usianya itu tersenyum sembari melebarkan kedua tangannya.
"Ayah? Ayyyyyyyaaaaaahhhhhhh" Teriak Bella girang sembari berlari ke pelukan ayahnya.
"Ayah....Bella kangen...."
"Ayah juga kangen sama putri ayah.." jawab pak Handoyo, ayah Bella
"Dari mana saja kamu..." pak Handoyo bertanya tanpa melepaskan pelukan Bella
"Ketempat teman yah... Ayahh pulang gak kasih kabar?
"Ayah pengen buat kejutan buat kamu"
Mereka berduapun masuk kerumah bersama.
Ayah Bella, Bapak Handoyo, adalah seorang pengusaha tauco kecil kecilan.
Ia memiliki sebuah pabrik tauco , yang lumayan berkembang sampai ke seluruh nusantara.
Jarang sekali pak Handoyo berada di rumah karena urusan bisnisnya itu.
Ia harus masuk ke pasar pasar dan melobi beberapa pedagang yang bersedia memasarkan tauco nya.
Tak hanya antar kota, ia pun terkadang harus pergi keluar pulau untuk memperluas jaringan dagangannya.
Makanya, kebersamaan Bella dengan ayahnya adalah sesuatu yang spesial.
"Ayah bawa oleh oleh, nanti bagikan ke teman teman kamu ya..." ucap pak Handoyo
Bella mengangguk kemudian memeluk kembali ayahnya.
Bella memang lebih dekat dengan ayahnya ketimbang dengan bundanya yang setiap hari bertemu.
***
Hari ini giliran kelas Bella ulangan kimia.
Benar saja, soal serta jawaban yang diberkan Renno kemarin keluar semua.
Untung semalam Bella sudah menghafal dan dengan cepat ia bisa mengerjakannya tanpa menyontek siapapun di kelas.
Amanda yang kebingungan cuma bisa celingukan mencari bocoran jawaban dari teman lainnya.
Bella tersenyum sendiri melihat tingkah sahabatnya itu.
Biarlah seperti itu, Bella tidak ingin ketahuan kalau dia sudah dapat bocoran dari Renno.
Bel tanda ulangan selesai berbunya, semua kertas ulangan di kumpulkan.
Bella dengan langkah percaya diri mengumpulkan lembar jawab yang sedari tadi sudah ia selesaikan.
"Kamu bisa ngerjain semua Be? Tumben??" Amanda merasa bingung dengan otak sahabatnya itu yang tiba tiba encer.
"Kebetulan" jawab Bella enteng.
"Ini dapat oleh oleh dari ayah, kemarin baru pulang dari sulawesi. tolong bagikan ke teman teman ya..." ucap Bella sembari memberikan bungkusan kepada Amanda.
Amanda menerimanya.
Sebelum sempat ia bertanya, Bella tengah sibuk menerima telphon.
"Apalagi???" Bella ketus
"Pulang sekolah jangan pulang dulu. Tunggu aku di depan ruang OSIS. Aku ada rapat. Kita pulang bareng setelahnya" Renno yang menelphon dari seberang sana.
"Gak mau. Aku capek" kembali Bella menjawab ketus
"Harus"
Tanpa menunggu jawaban dari Bella, sambungan telphon diputus sepihak.
Bella melempar HP nya keatas meja.
Wajahnya berubah kusut.
"Siapa Be?" tanya Amanda
"Si kutu kupret"
Amanda bingung dengan jawaban Bella
"Renno" Bella meralat kembali jawabannya.
Hanya ia saja yang tau panggilan kutu kupret di tujukan kepada siapa.
"Pacar kamu kan?"
"Pacar nyebelin"
"kok gitu"
"Pulang maunya di tungguin. Dia pikir dia siapa seenaknya perintah orang?!"
"Jangan gitu Be...Renno so sweet banget ya..."
"So sweet apaan? m***m!"
Tanpa sadar kata itu keluar dari mulut Bella dan langsung memuat Amanda tertawa.
"Emang kamu di apain sih Be sama Renno? "
Wajah Bella seketika memerah mengingat kejadian kemarin di perpustakaan dan di dalam mobil Renno
"Ya gak di apa apain sih..." Bella tergagap bingung mau menjawab apa.
Amanda tertawa melihat tingkah gugup Bella.
Seperti ada yang disembunyikan sahabatnya itu.
'Terjadi sesuatu kah diantara kalian?' batin Amanda