CHAPTER 1
BRAAAAAAAKKKKKKKKKK
Aku tersentak kaget dari lamunanku saat seseorang tiba tiba menggebrak meja di depanku, Tangan ku yang kugunakan untuk menopang wajahku aku turunkan keatas pangkuan. Kulihat seorang gadis cantik berambut panjang dengan tangan berkacak pinggang tengah melotot kearahku seraya membentak keras seakan siap memangsa ku.
"sejak kapan kamu jadian sama Renno?" ucapnya dengan nada tinggi
Aku terdiam sejenak mengambil nafas. Sambil setengah berfikir.
"bukannya kamu kemarin sudah dengar sendiri dari mulut Renno..." jawabku mencoba sabar dengan nada datar. Karena sekarang kami sudah menjadi pusat perhatian dikelas, termasuk dengan sahabatku sekaligus teman sebangkuku yang duduk di sebelahku pun ikut kaget dengan pertanyaan gadis yang berdiri di depanku dengan mata berapi api itu.
"kamu gak pantas bersanding dengan Renno!!! " teriaknya lagi.
aku menghela nafas lalu tersenyum simpul.
"lebih baik kamu katakan sendiri pada Renno." jawabku.
TTTEEEEEETTTTTT....
Belum sempat gadis itu menjawab ucapanku lagi, bel masuk berbunyi.
Menyelamatkanku dari omelan yang membuatku pusing pagi ini.
Dengan kesal, gadis yang aku ketahui bernama Sydney itu menggeram sambil mengepalkan tangannya. ia pun berbalik serta mengajak kedua temannya yang sedari tadi ikut melototiku.
" come on girls"
Dan mereka pun berlalu meninggalkan ku.
Aku menghela nafas lega. Mungkin untuk saat ini aku selamat, tapi entah apa yang terjadi saat jam istirahat nanti. Belum cukup sampai disini, teman sebangkuku, Amanda, yang sedari tadi penasaran sekarang giliran mengintrogasiku.
"kamu jadian sama Renno? sejak kapan? kok aku gak tau?" tanyanya setengah berbisik
"nanti aku ceritakan detailnya" jawabku tanpa menoleh ke arahnya.
Amanda hanya terdiam sambil melihat kearahku dengan tatapan penuh tanda tanya.
Aku mencoba fokus pada pelajaran yang sedang dijelaskan oleh guru kelas sekarang, walaupun pikiranku entah berlarian kemana...
***
FLASHBACK ON
SEHARI SEBELUMNYA
Perkenalkan, namaku Bella Handoyo.
Aku siswi SMA kelas 2. Aku putri pertama pasangan ayah Handoyo dan bunda Pertiwi.
Aku memiliki seorang adik perempuan yang usianya terpaut 2 tahun denganku.
Bisa dibilang aku gadis yang biasa saja. Just ordinary girl. Kehidupan normal, sekolah biasa, orang tua komplit yang sayang padaku. Dan dengan otak serta wajah yang pas pasan ini, aku hidup aman nyaman dan sejahtera juga bahagia.
Hari ini akhirnya datang juga, dimana kesempatan aku bisa membawa mobil ayah walau dengan cara diam diam.
Aku mengambil kunci mobil ayah yang tergeletak diatas meja samping televisi.
Sepertinya ayah lupa menyimpannya kemudian buru buru pergi dengan bunda dan juga adikku Evelyn.
Walaupun usiaku sudah 17 tahun, tapi ayah memang belum mengijinkanku menyetir mobil sendiri.
Padahal aku sudah cukup umur. Alhasil ya begini, aku hanya bisa colong colongan bila ingin mengendarai mobil ayah yang kadang hanya tergeletak tak dipakai di garasi.
Teman temanku hampir semua sudah bisa bawa mobil sendiri, tapi tidak denganku.
Aku masih saja menggunakan jasa angkutan kota ataupun ojek online untuk mengantarku. Kata ayah sih demi keselamatanku karena aku belum terlalu lihai dalam menyetir.
Tapi kalau tidak belajar kapan mau bisa?
Aku pasang sabuk pengaman, kemudian mulai men starter mobil ayah.
Tenang dan fokus adalah kunci utama, dan aku sedang mencoba.
Hari ini aku ada janji dengan teman teman sekelasku untuk mengerjakan tugas fisika bersama.
Tapi sebenarnya sih alasan utamanya setelah pulang mengerjakan tugas sekalian mau jalan jalan ke mall.
Biasanya Amanda yang akan menjemputku dengan mobilnya, tapi berhubung mobilnya sedang masuk bengkel, akhirnya akulah yang sok pahlawan menawarkan akan menjemputnya.
Kulihat jam yang melingkar di tangan kiriku menunjukkan pukul 16.15 WIB.
Aku sudah terlambat 15 menit.
Amanda pasti sudah ngomel ngomel persis emak emak rempong karena aku datang telambat.
Sebenarnya jalan menuju rumah Amanda hanya di tempuh sekitar 20 menit dengan kecepatan normal, tapi karena aku sudah terlambat maka kulajukan dengan kencang mobil yang kukendarai.
Dengan semangat aku menginjak pedal gas, dan CCCCIIIIIIITTTTTTTTT BRRRUUUUKKKK
Aaaaaaaa apa itu? Aku hampir menabrak seseorang.
Untung dengan cepat kuinjak rem sehingga tidak terjadi kecelakaan yang berat.
Sebuah motor sport dengan pengendara notor seorang pria terjatuh tepat di depan mobilku.
Dengan panik aku langsung turun dari mobil dan menghampiri pengendara motor yang aku tabrak itu.
"anda baik baik sajakah?" tanyaku panik.
Seorang murid SMA ternyata, karena ia masih memakai seragam SMA komplit dengan tas rangsel di punggungnya.
"aku baik baik saja" jawabnya sambil mencoba membangunkan motor sportnya yang jatuh.
Aku mencoba membantunya karena kulihat dia keberatan.
Kulihat wajahnya sekilas, tidak asing.
"renno...." ucapku menyapanya.
Pria bernama Renno itu menoleh kearahku sambil meringis agak kesakitan.
"maaf Ren, aku gak sengaja. Tadi aku gugup. Makanya ngebut" ucapku lagi
"bisa bantu aku?" tanyanya tiba tiba.
"cukup diam dan mengangguk" tambahnya lagi
"tapi soal apa?" aku bingung dengan permintaannya
Tak lama kemudian seorang gadis menghampiri kami sembari berteriak
" Rennnnnooooooooo......" teriaknya.
Aku menoleh kearah belakangku. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang terurai mengenakan setelan kaos lengan pendek warna merah muda dan rok pendek hitam tengah berdiri mengahadapku dan Renno.
Sydney Gabriella, teman sekolahku dan juga Renno.
Renno langsung merangkul pundakku kemudian tersenyum.
"ngapain kamu peluk peluk dia Rennnn..." ucap Sydney dengan nada masih tinggi setengah berteriak.
Aduh...drama apa ini? Kok aku bisa ada di tengah seperti ini???
"Syd, aku kan sudah bilang, aku sudah punya pacar. Tolong kamu berhenti mengejarku." jawab Renno datar.
Aku melihat ke arah Renno, apa maksudnya ini? Pacar? Siapa? Aku maksudnya? Rangkulan ini maksudnya apa coba.
Sydney terdiam dengan jawaban Renno.
Tanpa banyak berkata, ia langsung melangkah pergi meninggalkan kami.
***