CHAPTER 2

834 Kata
Aku melepaskan rangkulan Renno dari pundakku. "Apa apaan kamu Ren?" ucapku bingung dengan ucapan Renno tadi. "Berpura puralah jadi pacarku." jawabnya masih dengan nada dan muka datarnya. Aku tersenyum kecut. "Kamu sehat?" entah ini pertanyaan ataukah pernyataan yang aku lontarkan pada Renno. "Seperti yang kamu lihat." jawabnya "Sepertinya otakmu tertinggal di bawah roda motormu saat kamu terjatuh tadi" ucapku kembali. "Aku tidak mau berada diantara kamu dan Sydney, Ren." lanjutku "Aku hanya minta tolong. Tolong berpura puralah menjadi pacarku." jawab Renno "Tapi kan aku belum mengiyakan. Aku juga tidak tau kalau mau dimintai tolong seperti ini. Aku tidak mau bermasalah dengan Sydney, Ren." balasku "Berarti kau lebih suka bermasalah dengan polisi dan orang tuamu karena sudah mengendarai mobil ugal ugalan dan menabrak seorang siswa?" "Kau mengancamku" Aku meninggikan suaraku Renno hanya tersenyum simpul "Keputusan ada padamu"  tambahnya lagi *** Lamunanku akan kejadian kemarin terbuyar dengan suara bel tanda istirahat. Niat fokusku pada pelajaran hilang sudah gara gara masalah yang tidak sengaja ku buat. Bryan Morenno. Dia adalah sumber dari semua ini. Andai kemarin aku tidak sengaja menabraknya, andai aku tidak ngebut bawa mobil, andai aku tidak diam diam membawa mobil ayah. Ahhhhh.... aku menghela nafas panjang. Aku merasa bersalah pada ayah. Harusnya kuturuti saja nasihatnya. Baru saja guru memberi salam dan keluar dari kelas, si tokoh utama masuk ke kelasku dan menghampiriku. "ikut aku sebentar" ucap Renno sambil memegang tanganku dan menariknya. Aku yang masih bingung langsung bangkit dari dudukku dan mengikutinya. "kita mau kemana,Ren?" tanya ku Renno hanya diam tetap dengan tangannya yang masih menggenggam tanganku. Hampir seluruh siswa dikelas melihat ke arah kami. Tak sedikit dari mereka yang berbisik tidak suka. Amanda yang masih belum mendapat penjelasan apapun dariku, menatap kepergianku dan Renno dengan pandangan aneh. Renno membawa ku kebelakang kelasku. Ya. Kelas kami memang berbeda. Aku berada di kelas XI IPA 4 dan Renno berada di kelas XI IPA 1. Kenapa kami bisa menjadi pusat perhatian? Jangan tanyakan kepopuleran Renno di sekolah. Dia bukanlah seorang playboy atau semacamnya. Menurutku Renno adalah seorang dengan paket komplit. Ganteng pastinya, pintar, sopan, dan dia adalah ketua OSIS di sekolah ku. Siswi mana yang tidak jatuh cinta padanya. Dengan tatapan mata nya yang tajam, alisnya yang tebal seperti semur berjajar, hidung mancungnya, bibir sexy dan garis rahang yang tegas serta postur tubuh yang atletis, Renno dengan mudah menjadi flower boys di sekolah. Tapi yang menjadikan nilai plus adalah walaupun bisa dikatakan dia memiliki segalanya, tapi dia tidak memanfaatkan ketenarannya untuk memacari gadis gadis di sekolah. Kembali lagi pada pertemuanku dan Renno di belakang kelas. "Aku dilabrak Sydney."ucapku mengawali "Aku sudah dengar" timpalnya "Kamu puas?" ucapku ketus "Maaf, Be" hanya kata itu yang keluar dari mulutnya "Aku malu Ren dilihatin seluruh kelas, dan aku yakin sebentar lagi satu sekolah juga akan tau" aku mulai meninggikan suaraku Renno tersenyum sambil memegang kedua pipiku dengan telapak tangannya. "Sabar ya....Hanya sementara" ucapnya sambil tersenyum Deg....getaran apa ini??. Pandangan mata kami bertemu dan jarak wajah kami sangat dekat. Aku mengibaskan tangan Renno dari wajahku. Serasa ada sengatan listrik yang mengalir di dalam darahku saat Renno menyentuh pipiku. "Pokoknya aku tidak mau ada kejadian seperti tadi pagi lagi." ucapku sambil berlalu meninggalkan Renno. "Pulang sekolah bersamaku" teriak Renno dan aku tak menjawab apapun. Aku melenggang menuju kelas karena jam istirahat sudah selesai. ah... masa bodoh apa yang akan terjadi, aku sudah terlanjur masuk kedalam masalah ini. *** Dikelas Renno tadi pagi sesaat sebelum jam masuk kelas. Gerald, sahabat Renno berlari menghampiri Renno dengan wajah gugup "Ren.." "Kenapa bro?" jawab Renno "Sydney nglabrak cewe kelas IPA 4." ucap Gerald panik Renno hanya terdiam tidak membalas ucapan sahabatnya itu. "katanya lu jadian sama tuh cewe. Kok gue gak di kasih tau?" Gerald bertanya. "Sejak kapan lu jadi satpam yang mesti gue laporin hal apapun yang gue lakuin?" jawab Renno sambil terkekeh... Seburat senyum terlintas di bibir Gerald, dan itu membuat Renno ikut bahagia. 'ini demi lo sob' ucap Renno dalam hati. *** Bel pulang sekolah berbunyi. Waktu menunjukan pukul 13.30 WIB. Murid murid berhamburan keluar kelas setelah memberi salam pada guru yang mengajar dikelas. "kapan kamu mau njelasin ke aku soal Renno, Be?" ucap Amanda masih penasaran. "nanti, Manda....Aku butuh kejelasan dulu soalnya. Aku pulang dulu ya..." ucapku sambil berlalu meninggalkan Amanda.  Lebih tepatnya aku menghindari Amanda sebelum aku mendapat kejelasan dari Renno. Aku sengaja pulang paling terakhir dan menunggu sekolah dalam keadaan sepi. Sembari berjalan keluar dari sekolah, ku edarkan pandanganku agar aku tidak bertemu Sydney. Jangan lihat dari penampilan Sydney yang seperti bidadari sekolah. Sydney cantik, dengan rambut lurus panjangnya seperti iklan shampoo, tinggi langsing dengan kulit putihnya, semua kesempurnaan bidadari melekat di tubuhnya. Tapi tidak sesuai dengan sikapnya yang sombong dan arogan. Untuk itulah aku menghindari bermasalah dengannya. Kulihat dari kejauhan sesosok wajah tak asing tengah berdiri di gerbang sekolah. Dengan jaket hoodie warna navy, siswa itu berdiri bersandar di gerbang sekolah. "Renno..." tanpa sadar kata itu keluar dari bibirku. Dan benar saja, Renno tengah berdiri di samping gerbang sekolah sambil tersenyum kearahku. Aku hanya bisa membuang nafas kasar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN