Nafasku masih tersengal-sengal. Di dalam kamar, aku mencoba menenangkan diri, tapi rasa kaget itu tak mau pergi. Kini aku tahu siapa wanita yang bersama Pak Yanto tadi malam. Melly. Temanku sendiri… yang ternyata simpanan Pak Yanto. Pantas saja ia begitu cepat memiliki segalanya—mobil, perhiasan, apartemen. Ternyata semua itu hasil pemberian dari lelaki itu. “Kenapa aku sebodoh ini?! Percaya begitu saja pada perkataan Melly!” teriakku dalam hati. Ingatanku melayang ke malam di karaoke itu—malam saat ia menjebakku untuk dijual kepada Tante Ariani. Waktu di kamar tidur Pak Yanto, aku tak begitu jelas melihat wajahnya. Badan Pak Yanto menutupi sebagian tubuhnya, ditambah cahaya lampu kamar yang remang-remang. Tapi tatapan singkat di ruang tamu tadi cukup untuk membuatku yakin. Pertanyaa

