Pak Bambang, asisten Pak Yanto, memegang pundak Mirna dengan tegas. “Tolong kamu segera keluar. Tak baik untukmu di sini.” Mirna mengangguk, berusaha tenang meski jantungnya berdebar kencang. Dengan langkah ringan, ia keluar dari ruangan diiringi oleh Pak Bambang. Pak Bambang adalah orang yang baru kukenal selama ini. Ia tidak pernah terlihat di rumah ini. Mungkin aku masih baru, jadi belum terlalu kenal situasi rumah ini. Saat Pak Bambang menutup pintu kamar dan berlalu tanpa banyak bicara, ia hanya mengingatkan, “Neng, apa yang kau lihat hari ini, tolong jangan kau ceritakan kepada siapapun. Kalau Neng mau selamat. Ngerti?” Aku mengangguk gugup. “Iya, Pak.” Sesampainya di lantai atas, aku segera masuk ke kamar. Pikiran dan dadaku masih bergejolak. Ya ampun! Kenapa aku kepo sih? Se

