Episode 1 "Malam ini kita lembur"
MALAM INI KITA LEMBUR
Suara mesin pemotong kayu terdengar bersahut-sahutan sejak pagi.
Bau serbuk kayu memenuhi hampir seluruh ruangan produksi. Di udara, debu-debu halus beterbangan diterpa hembusan kipas besar yang berputar tanpa henti di atas kepala.
Pabrik mebel itu memang tidak pernah benar-benar sunyi.
Bahkan ketika sebagian besar karyawan sedang istirahat, selalu ada suara yang tertinggal.
Dengung mesin.
Suara troli didorong.
Benda-benda kayu yang dijatuhkan.
Palu yang dipukulkan.
Dan suara orang-orang yang bekerja mengejar target.
Hari itu target produksi cukup tinggi.
Di bagian jahit dan material, beberapa karyawan bahkan belum sempat menyelesaikan pekerjaan mereka ketika jam dinding menunjukkan pukul empat sore.
"Kayaknya hari ini bakal pulang malam," kata Sarni sambil melirik tumpukan bahan di depannya.
Yuli tidak menoleh.
"Jangan ngomong begitu."
"Kenapa?"
"Biasanya kalau kamu ngomong begitu, benar-benar lembur."
Sarni tertawa kecil.
"Ya memang kenyataannya banyak."
Di sebelah mereka, Karti hanya diam.
Tangannya tetap bergerak menyelesaikan pekerjaan.
Namun sejak beberapa menit lalu, konsentrasinya terganggu oleh sesuatu.
Sebuah suara.
Pelan.
Seperti bunyi benda kecil yang jatuh di lantai.
Kling.
Karti berhenti bekerja.
Matanya menatap ke bawah meja.
Tidak ada apa-apa.
Ia kembali bekerja.
Kling.
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih jelas.
Karti menelan ludah.
"Mok..."
Moko yang berada tidak jauh darinya menoleh.
"Apa?"
"Kamu dengar sesuatu?"
Moko mematikan mesin jahitnya.
"Apa?"
"Itu..."
Karti menunjuk ke belakang.
Moko melihat ke arah yang ditunjuk.
Kosong.
Hanya ada tumpukan kardus dan beberapa bahan yang belum dipindahkan.
"Nggak ada apa-apa."
Karti mengangguk pelan.
"Mungkin aku salah dengar."
Moko kembali bekerja.
Tetapi Karti masih memandangi tempat itu.
Entah kenapa, sejak tadi ia merasa seperti ada seseorang berdiri di sana.
Seseorang yang sedang memperhatikannya.
Menjelang pukul lima sore, beberapa karyawan mulai membereskan meja.
Ada yang mencuci tangan.
Ada yang mengganti sepatu.
Ada pula yang sudah membuka ponsel dan mulai menghubungi keluarga.
Ika, petugas OB, sedang membawa sapu ketika Mona datang dari arah kantor.
"Wah, sudah pada beres?" tanya Mona.
"Kalau bisa sih sudah dari tadi," jawab Sarni.
Mona tersenyum.
"Tunggu dulu."
Sarni langsung curiga.
"Kenapa?"
Mona tidak menjawab.
Ia hanya melihat ke arah pintu masuk produksi.
Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
Pak Ahmad masuk.
Wajahnya terlihat lelah.
Namun sebelum sempat berbicara, seseorang muncul di belakangnya.
Pak Nurdin.
Seketika suasana berubah.
Beberapa orang yang tadinya bercanda langsung diam.
Pak Nurdin berdiri di tengah ruangan sambil melihat hasil produksi.
Ia tidak langsung berbicara.
Tatapannya berpindah dari satu meja ke meja lainnya.
Kemudian ia melihat jam.
"Target hari ini belum selesai."
Tidak ada yang menjawab.
Pak Nurdin menarik napas.
"Malam ini kita lembur."
Kalimat sederhana itu membuat Sarni menghela napas panjang.
"Nah..."
Yuli meliriknya.
"Jangan mulai."
Ika yang sedang memegang sapu malah bertanya polos,
"Pak, lemburnya sampai jam berapa?"
Pak Nurdin menatapnya.
"Sampai selesai."
Ika mengangguk.
"Oh."
Kemudian ia kembali menyapu.
Seolah jawaban itu sama sekali tidak mengganggunya.
Moko hanya diam.
Roni yang berada di bagian pemotongan material justru tersenyum tipis.
"Lembur saja."
Sarni menatapnya.
"Kamu mah berani."
Roni mengangkat bahu.
"Memangnya hantunya ikut lembur?"
Beberapa orang tertawa.
Kecuali Karti.
Ia tidak tertawa.
Entah mengapa, kata hantu membuat dadanya terasa sesak.
Dan tanpa ia sadari, matanya kembali tertuju pada tumpukan kardus di belakangnya.
Pukul delapan malam.
Sebagian besar area pabrik sudah lebih sepi.
Beberapa lampu di bagian produksi dimatikan untuk menghemat listrik. Hanya lampu-lampu utama yang tetap menyala.
Cahaya putih pucat menggantung di langit-langit.
Bayangan mesin memanjang di lantai.
Pabrik yang siang tadi terasa penuh orang kini terlihat berbeda.
Lebih luas.
Lebih kosong.
Dan jauh lebih dingin.
"Minum dulu, Ti."
Moko menyodorkan botol air.
Karti menerimanya.
"Terima kasih."
"Kamu dari tadi kelihatan tegang."
"Aku?"
"Iya."
Karti tersenyum kecil.
"Nggak apa-apa."
Moko hendak menjawab ketika tiba-tiba—
Tuk.
Sebuah benda jatuh dari belakang mereka.
Keduanya menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Moko berdiri.
"Aku lihat."
"Jangan."
Karti spontan menarik lengan Moko.
Moko menatapnya.
"Kenapa?"
"Jangan ke sana."
"Kenapa?"
Karti tidak menjawab.
Ia sendiri tidak tahu kenapa.
Hanya ada perasaan aneh yang muncul begitu saja.
Seperti sebuah peringatan.
Moko melepaskan tangannya perlahan.
"Sebentar."
Ia berjalan menuju belakang.
Karti memperhatikannya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Moko membungkuk dan mengambil benda yang jatuh.
Sebuah gulungan benang.
Ia mengangkatnya.
"Ini."
Karti mengembuskan napas lega.
"Tuh, kan. Cuma benang."
Moko tersenyum.
Namun sebelum kembali—
ia berhenti.
Matanya menatap lantai.
Ada sesuatu yang membuatnya diam.
"Kenapa?" tanya Karti.
Moko tidak langsung menjawab.
Ia melihat jejak kaki.
Samar.
Seperti bekas telapak kaki seseorang yang baru saja melewati lantai berdebu.
Moko mengikuti jejak itu dengan pandangan.
Jejak tersebut berjalan dari belakang ruangan...
menuju tempat mereka berdiri.
Tetapi tidak ada jejak yang kembali.
Moko perlahan berdiri.
"Karti."
"Iya?"
"Kamu tadi ke belakang sini?"
Karti menggeleng.
"Nggak."
"Yakin?"
"Yakin."
Moko menatap jejak itu sekali lagi.
Kemudian mengusap tengkuknya.
"Mungkin jejak lama."
Karti mengangguk.
Mereka berdua berusaha mempercayai jawaban itu.
Sampai terdengar suara dari ujung ruangan.
"Mo..."
Moko langsung menoleh.
Suara itu terdengar seperti suara Karti.
"Kamu panggil aku?"
Karti mengerutkan kening.
"Aku di sini."
Moko menatap Karti.
Kemudian keduanya menatap ujung ruangan secara bersamaan.
Gelap.
Sangat gelap.
"Mo..."
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih jauh.
Seolah seseorang sedang berdiri di antara rak-rak bahan.
Karti menggenggam lengan Moko.
"Itu bukan aku."
Moko tidak menjawab.
Matanya tetap tertuju ke arah kegelapan.
Lalu dari balik rak muncul seorang perempuan.
Berjalan perlahan.
Kepalanya sedikit menunduk.
Rambutnya menutupi sebagian wajah.
Moko mengerutkan dahi.
"Karti?"
Karti yang berada di sampingnya langsung membeku.
Karena perempuan yang berjalan dari arah gelap itu...
memang terlihat seperti Karti.
Pakaian kerja.
Celana panjang.
Sepatu.
Bahkan cara berjalannya pun hampir sama.
Sosok itu berhenti beberapa meter dari mereka.
Kemudian perlahan mengangkat wajah.
Moko mundur satu langkah.
Karti menahan napas.
Sosok itu tersenyum.
"Kenapa kalian di situ?"
Suara Karti.
Persis.
Tidak ada perbedaan.
Karti mulai gemetar.
Moko menoleh kepadanya.
Lalu kembali melihat sosok di depan mereka.
Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang bergerak.
Sampai Karti berbisik sangat pelan.
"Mo..."
"Apa?"
"Kalau aku di sini..."
Ia menunjuk sosok di depan mereka.
"...yang itu siapa?"
Senyum di wajah sosok tersebut perlahan menghilang.
Lampu di atas kepala mereka berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian mati.
Gelap.
Dan dalam kegelapan itu terdengar suara perempuan berbisik tepat di dekat telinga Karti.
"Kembalikan kalungku..."
Karti menjerit.
Lampu menyala kembali.
Sosok yang menyerupai dirinya sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya Moko.
Dan sebuah kalung tua...
tergeletak di lantai di antara mereka.
Karti menatap benda itu dengan mata membelalak.
Wajahnya tiba-tiba pucat.
Seolah ia mengenali kalung tersebut.
Padahal...
ia tidak pernah merasa memilikinya.