Tempaan Rumah Tangga
“Belum tidur, lo?” tanya Kanaya sinis. Tepat pukul 2 dini hari Kanaya baru sampai rumah.
“Bagaimana saya bisa tidur, jika istri saya masih di luar sana,” jawab Sabiru tenang.
“Alay, lo,” sahut Kanaya seraya menyebikkan bibirnya.
“Bagaimana saya harus menjelaskan bahwa saya benar benar khawatir atas kamu, Nay. Saya takut terjadi apa apa atas kamu di luar sana,” jelas Sabiru.
“Gue bisa jaga diri, teman teman gue bisa jagain gue. Jadi lo tenang aja!” ucap Kanaya santai.
“Kamu sudah makan? Kalau belum, saya panasin makanannya dulu." Sabiru berjalan ke arah meja makan tanpa mau mendengar jawaban Kanaya lebih dulu.
"Udah deh, gak usah lo peduli dan perhatian sama gue! Gak capek apa lo?" tanya Kanaya, dan membuat langkah Sabiru terhenti.
Sabiru tersenyum kecil, "Capek ada, tapi semuanya ikhlas saya lakukan untuk kamu."
"Untuk apa sih lo pertahanin pernikahan ini? Apa keuntungan yang lo harapkan dengan setuju atas penawaran bokap gue untuk nikahi gue?” tanya Kanaya dan hanya dijawab gelengan kepala pelan oleh Sabiru. “Asal lo tau, lo itu cuma bikin ribet hidup gue." Kanaya benar benar ingin pernikahannya dengan Sabiru usai.
"Sudah ya! Ini tengah malam. Sebaiknya kamu masuk kamar kalau memang gak mau makan. Jangan sampai terpancing emosi!" Sabiru sedang tidak ingin adu argumen dengan Kanaya. Ia tahu istrinya pasti sangat capek.
"Gue bakal terus emosi kalau lihat lo. Jadi, kalau lo gak mau lihat gue emosi, jauh jauh gih dari hidup gue!" lantang Kanaya sambil berlalu meninggalkan Sabiru.
Sabiru menatap kepergian sang istri, dia terus menyemogakan pada Tuhan untuk sabarnya dapat diperluas agar tak pernah ia temui lelah menghadapi Kanaya. Entah kapan Tuhan akan mempertemukannya pada bahagia yang dia inginkan, hingga tempaan rumah tangganya begitu berat. Dan kapan kiranya Kanaya akan berhenti dari kebiasaannya itu? Kebiasaan hidup bebas, kumpul kumpul dengan teman temannya sampai tidak kenal waktu, nongkrong di club sampai pulang tengah malam dan bahkan pulang dalam keadaan mabuk. Setiap malam Sabiru selalu menunggu Kanaya pulang, kadang di ruang tamu, kadang pula di teras depan. Malam demi malam selalu begitu. Bukan Sabiru tidak bisa tegas atau bahkan tidak bisa keras pada Kanaya, tapi seseorang akan berubah bukan karena tuntutan yang keras, melainkan dengan kelembutan. Sabiru selalu menghadapi Kanaya dengan kelembutan. Bukan karena lemah, tapi cintanya yang begitu besar sehingga sulit membuatnya untuk berubah jadi amarah.
***
Pagi hari, seperti biasa Sabiru menyiapkan sarapan untuk Kanaya. Jika rumah tangga lain biasanya sang istri yang memasak, ini justru Sabiru yang harus masak setiap pagi dan sore sepulang kerja. Sedang Kanaya sendiri hidupnya hanya bersenang senang saja.
"Nay, saya berangkat kerja dulu," pamitnya seraya mengetuk pintu kamar Kanaya.
"Berangkat yang berangkat aja kale," jawab Kanaya di balik pintu kamarnya yang masih tertutup rapat.
"Sarapannya sudah saya tata di atas meja makan, kamu jangan lupa sarapan ya!"
"Gue bukan anak kecil yang harus selalu lo ingetin untuk makan. Udah deh cepet sana lo pergi! Ganggu aja, gue masih ngantuk nih," ketus Kanaya.
"Iya, saya tahu kamu bukan anak kecil," jawab Sabiru tenang.
"Kalau tahu, terus ngapain lo masih ngingetin kayak gitu?"
"Saya hanya ingin memastikan kamu untuk makan." Sengaja Sabiru memperlama obrolannya, karena ada harapan di baliknya. "Saya sudah masakin masakan kesukaan kamu, ayam balado."
"Hm," jawab Kanaya masih dari dalam kamar.
"Nanti mau titip apa?" tanya Sabiru.
Lalu tiba tiba Kanaya membuka pintu, "Lo bisa gak sih jangan gangguin gue? Gue ngantuk banget. Mau berangkat kerja ya berangkat aja lah. Gak usah pakek acara pamit pamit segala, ngetuk pintu kamar gue, berisik pula. Lagian gue gak peduli ya lo mau ngapain, serah lo!" ungkap Kanaya dengan nada yang tidak ramah.
Sabiru tidak mempedulikan ocehan Kanaya, dia asik menatap wajah sang istri yang tidak pernah terlihat ramah padanya dan memang ini yang dia harapkan, melihat wajah istrinya sebelum berangkat kerja.
"Saya harus pamit sama kamu, biar nanti kalau ada yang cari saya, kamu tahu saya pergi ke mana, Nay," jelas Sabiru.
"GR banget sih, siapa juga yang bakal nyari lo? Udah sana berangkat!"
"Kalau belum mau makan sekarang dan makanannya sudah dingin, dipanasin aja dulu! Lalu kalau sudah masuk jam makan siang nanti, jangan lupa makan ya!" pesan Sabiru pada Kanaya.
"Sabiru, lo gak capek apa setiap hari ngomong itu itu mulu?" Pasalnya yang diomongin Sabiru selalu monoton setiap pagi, Kanaya yang mendengarnya saja bosan.
"Saya gak akan capek ingetin kamu makan, karena saya harus pastikan kamu kenyang, Nay. Saya gak mau kamu telat apalagi sampai lupa makan," jelas Sabiru.
"Emang kenapa kalau gue lupa makan?" tanya Kanaya sinis.
"Nanti sakit lambung kamu kambuh. Saya gak mau lihat kamu sakit, karena lihat kamu sakit membuat saya sengsara dan merasa lalai jagain kamu, Nay."
"Lah emang lo sudah lalai jagain gue. Selama ini buktinya gue masih bisa nongkrong dengan teman teman gue hingga pulang larut malam. Harusnya lo bisa nyegah gue, tapi nyatanya gue selalu berhasil bantah lo dan tetap keluar malam untuk have fun. Itu artinya lo lalai, ‘kan?" tekan Kanaya.
Ucapan Kanaya cukup menusuk jantung hatinya, Sabiru merasa dia memang lalai mendidik wanita yang dititipkan padanya. Tapi, ini dia anggap sebagai proses. Dia percaya suatu saat Kanaya pasti bisa dia rubah dengan cara dia sendiri.
"Saya gak mau maksa kamu berubah, saya akan tunggu kamu berproses dan kembali menata hati untuk Tuhan itu murni dari diri kamu sendiri, bukan karena saya atau karena siapa pun, Nay," ungkapnya.
"Halah ... Bilang aja lo gak becus jaga amanah dari bokap gue!" sanggah Kanaya.
"Saya gak mau bikin kamu membenci saya jika saya melarang kamu. Saya tidak mau pernikahan ini semakin hancur," ungkap Sabiru. Sedangkan Kanaya memutar bola matanya jengah diikuti hembusan napas berat, lantas masuk ke dalam kamar seraya membanting pintu dengan keras.
"Maaf, Nay, setiap hari saya harus ganggu tidur kamu dan bahkan harus berdebat di setiap pagi hari. Tapi saya harus lihat wajah kamu dulu sebelum meninggalkan rumah. Umur tidak ada yang tahu, saya takut nanti tidak bisa lihat wajah kamu lagi setelahnya." Monolog Sabiru dalam hati.
Jujur, Sabiru lebih takut kehilangan Kanaya dari pada memperbaiki Kanaya dengan keras. Menikah dengan Kanaya membuat Sabiru belajar bahwa tidak semua rumah langsung terasa hangat. Pernikahannya memang atas tawaran mertuanya-Harsa, papa Kanaya. Namun, jauh sebelum tawaran itu datang, diam diam Sabiru juga telah menaruh hati untuk Kanaya.
Di dalam kamar, Kanaya mengacak rambutnya asal. "Tuhan, kapan Engkau jauhkan aku dengan manusia aneh itu? Apa gak capek dia selama menikah denganku selalu aku cuekin, aku ketusin, aku marah marahin? Dia g*bl*k apa gimana sih, Tuhan?" heran Kanaya dalam kesendiriannya.
Awalnya, Kanaya menyetujui pernikahan dengan Sabiru karena ingin keluar dari aturan di rumah sang ayah. Namun, ternyata pilihannya lebih rumit dan ribet. Memang kehidupan bebas tetap Kanaya nikmati, tapi melihat Sabiru saja rasanya hidup Kanaya seperti direnggut paksa bahkan terasa tersiksa.
“Tuhan, aku ingin bebas dari pernikahan ini,” ucap Kanaya seraya mengusap wajahnya kasar.