“Kangen!” Dirana berteriak girang begitu pintu rumah Gino dibuka dan memperlihatkan Anjas yang bibirnya belepotan makanan. “Surpriseee!” Kedua tangannya ia rentangkan lebar-lebar ingin memeluk Anjas, namun, Gibran yang ada di belakang perempuan itu langsung menghalanginya dan menatap Anjas tajam. “Nggak pake peluk-peluk!” Gibran menggeret Dirana pelan kemudian menyembunyikan istrinya di belakang punggungnya. Anjas mendecakan lidah. Ia menjilati jari-jarinya yang penuh dengan bumbu saus asam manis buatan Anka. “Sejak nikah lo kok sensian sih, Bang? Efek bayi ya?” Gibran mendengus, ia tidak menghiraukan Anjas yang mengomel di samping pintu dengan suara besarnya. Gibran menggandeng Dirana masuk ke dalam tanpa menunggu Anjas selesai menutup pintu. “ANKA! JONA!” teriak Dirana saat melih

