Sebagai seseorang yang mulai tumbuh menjadi dewasa, apalagi sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu. Ah, ralat, maksudnya beberapa bulan lagi ia akan resmi menjadi seorang ibu. Dirana akan menyelesaikan masalahnya berdua dengan Gibran. Benar-benar hanya berdua, tidak ada satu orang pun yang akan ikut campur dalam urusannya. Wajah Gibran babak belur. Mulai dari hidung, ujung bibir sampai ke keningnya terlihat biru-biru dan bekas darah yang mengering. Dirana menatap Gibran ngeri. Entah perasaan apa ini, tiba-tiba saja ia merasa kasian, tidak tega melihat wajah Gibran yang penuh luka-luka. “Kamu kasian sama Bapak moyangmu ya, dek?” bisik Dirana sangat lirih. “Mama juga kasian sih, dia digebukin gitu sama Om-om kamu.” Kedua tangan Dirana bergerak mengelus perutnya naik-turun. Sesekali

