Gue Mau Nikahin Dirana

1774 Kata
“Lo bisa naiknya?” Gino mengamati wajah lesu Dirana. Kepala cewek itu menggeleng pelan. “Bentar...,” tanpa disangka-sangka Gino membantu Dirana duduk di atas motornya, tidak lupa juga memasangkan helm-nya ke kepala Dirana. “Jangan banyak gerak." Ditepuknya kepala Dirana yang terbungkus helm. Kepala Dirana terangguk pelan. Ia sibuk memandangi wajah Gino yang banyak tersenyum padanya hari ini. Entah sedang berniat menghiburnya atau bagaimana, tapi yang jelas Dirana senang kalau cowok itu tak selalu memasang tampang masam seperti biasanya. “Kak,” bisik Dirana saat motor Gino mulai melaju pelan. “Lo yakin bawa gue pulang? Gue balik ke tempat kost gue aja, ya?” “Pegangan,” Gino menarik satu tangan Dirana lalu ia letakkan di perutnya. “Gue nggak bisa biarin lo tinggal sendirian. Kalau lo sama bayi lo kenapa-kenapa gimana?” Suara Gino agak mengeras, mereka sedang ada di jalan. Kalau mau bisik-bisik juga nggak bakal kedengeran. “Gue takut." Walaupun Dirana bergumam lirih, Gino bisa mendengarnya. “Sejak kapan lo takut sama orang?” Dari spion motornya Gino bisa melihat Dirana mencebikan bibirnya kesal. “Percaya deh, Jona sama yang lain tuh khawatir sama elo, kangen sama lo,” kata Gino berusaha meyakinkan Dirana. *** Gino bukan hanya membantu Dirana duduk di atas motornya. Tetapi juga membantu cewek itu turun dari motornya dengan cara digendong. Belum lagi Gino juga membantunya melepaskan helm dari kepalanya. Dirana tertegun dengan apa yang dilakukan Gino padanya. Ia baru menyadari kalau Gino bukan hanya cowok yang ketus, atau suka berkata pedas pada teman-temannya. Tapi, ternyata Gino adalah cowok yang lembut. Sewaktu cowok itu membantu membukakan helm, Dirana memandangi Gino tidak berkedip sedikit pun. Dirana jadi berkhayal, andai saja ia kejadian malam itu tidak pernah terjadi dan membuatnya hamil, ia akan bertekad untuk mengejar cowok di depannya ini. Nggak peduli seberapa ketus dan pedesnya omongan Gino, yang penting dia bisa bersanding sama cowok itu. Gino ketus, pedes omongannya itu cuma coverannya doang. Di dalamnya mah, Gino cowok idaman banyak cewek. Lihat dong, tangan Dirana digandeng sampai ke dalam rumah. Tangannya, ya, tuhan... lembut bener kayak adonan kue.... Belum lagi senyumnya, aduhai bener. Dirana mulai berkhayal ke mana-mana. Nggak inget kalau tadi di rumah sakit dia nangis sampai jejeritan karena nggak kuat nahan rasa sesak di dadanya selama ini. Dirana memaki dirinya dalam batin, bisa-bisanya di saat-saat seperti ini pikirannya melayang ke mana-mana. Astaga, Dirana. Otak lo mulai geser lagi. Sampai mereka masuk rumah nih, pintu dibuka terus ditutup lagi gandengan Gino masih belum lepas. Dirana boleh berharap gandengan nggak usah dilepas nggak? Dirana senyam-senyum sendiri melihat tangannya digandeng, lihatin punggung lebarnya Gino aja udah seneng bener. Orang cakep mah beda ya, dilihat dari belakang aja udah kelihatan indah. Senyum Dirana musnah begitu melihat sosok yang paling dia benci. Orang yang telah membuatnya kehilangan masa depannya. Penyebab hadirnya bayi dalam kandungannya. Karena orang itu, Dirana jadi susah tidur sekarang. Paling sebel kalau lagi ngidam tengah malam, mau keluar tapi takut. Mau masak tapi nggak berani. Dan orang itu berdiri di paling sudut dengan tatapan seolah ingin memakannya hidup-hidup. Dirana mendesah panjang, mood yang sempat membaik sekarang turun lagi, bikin dia murung kembali hanya dengan melihat wajahnya saja. Anjas menghampiri Gino dan Dirana yang baru saja masuk ke ruang tengah. Anjas menangkup kedua pipi Dirana, memutarnya ke kanan ke kiri saking nggak percayanya kalau orang di depannya ini Dirana. Temannya yang menghilang selama dua minggu ini. Anjas menjitak kepala Dirana, mencubit pipi cewek itu gemas. “Sakit tahu!” Dirana menepis tangan Anjas. “Bagus ya lo, ke mana aja selama ini? Ngilang ke mana lo?” Anjas menghujani Dirana dengan banyak pertanyaan. “Lo nggak tahu gimana cemasnya kita nyariin elo, ke sana-kemari udah kayak lagunya Ayu Ting-Ting!” Gino melirik Anjas, dagunya bergerak memberi isyarat agar temannya yang punya badan super gede itu mundur kembali ke tempatnya. Anjas nggak tahu sikon banget, orang pada tegang, dia malah ngebanyol. “Gue ketemu sama Dirana di jalan tadi,” gumam Gino. Jona bangkit berdiri. Ia hanya diam sejak tadi memandangi Dirana yang merubah penampilannya. Rambut panjang Dirana dipotong pendek, apalagi cara berpakaian Dirana membuat Jona agak asing. Temannya yang tomboy itu mengenakan rok selutut, serta kaus putih berlengan panjang. Kelihatan lebih segar memang, tapi ini seperti bukan Dirana temannya. “Gue mau ngomong sesuatu sama kalian,” kata Gino. Ia menggenggam tangan Dirana. “Kita bicarain ini nanti, Kak, gue mau ngomong sama Dirana.” “Tapi ini soal Dirana, Jo,” Gino menyela cepat. Jona diam beberapa saat. Lalu mengangguk pelan, “Apa?” Gino membuat jantung temannya berdebaran. Termasuk sosok di paling ujung yang berdiri di samping Kasa. Pria itu tidak berhenti memandangi Dirana tajam, cewek itu melengos membuang pandangannya ke arah lain. Ia muak melihat wajah itu. “Gue mau nikahin Dirana,” Gino bergumam mantap. Semuanya terkejut. Jona membelalakan matanya tak percaya. Dirana pun sama halnya. Ia menarik lengan Gino, kepalanya mendongak seolah meminta jawaban atas apa yang Gino katakan baru saja. “Lo jangan salah paham dulu,” Gino mengulurkan satu tangannya ke depan. Ia takut Jona mengira kalau dia adalah Ayah dari bayi yang dikandung Dirana. Jadi, sebelum terjadi adanya salah paham, Gino buru-buru menjelaskan. “Bukan gue pelakunya,” kata Gino tenang. “Tapi gue bersedia nikahin Dirana. Gue siap jadi Ayah dari bayi Dirana,” “NGGAK!” seru Gibran keras-keras. “NGGAK BISA!” Lantas semuanya mengarahkan pandangan mereka ke arah Gibran. Wajah pria itu mengeras, seperti menahan marah. Ia menarik punggungnya yang ia sandarkan ke dinding lalu mendekati Gino serta Jona. Gibran ada di tengah-tengah dua cowok itu. Dirana terlihat menciut, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam kala Gibran menatapnya tajam. “Gimana bisa lo bertanggung jawab kalau pelakunya itu bukan elo,” sentak Gibran. “Terus siapa yang mau tanggung jawab!? Siapa!? Gue ngelakuin ini buat Dirana sama bayinya. Apa lo tega biarin Dirana besarin bayinya tanpa seorang suami!?” tanya Gino sedikit membentak. “Gue!” Gibran menunjuk dadanya. “Gue yang bakal tanggung jawab! Gue Ayah dari bayi yang dikandung Dirana! Dirana membelalakan matanya lebar-lebar saat Gibran menyerukan kata-katanya dengan lantang sembari menunjuk perutnya. Dirana bersembunyi di balik punggung Gino. “Denger kalian semua? Gue pelakunya! Gue orang yang udah ngehamilin Dirana!” teriak Gibran memandangi teman-temannya. “Lo ngehamilin atau memperkosa Dirana, Bang?” sahut Gino santai. Ia bisa merasakan remasan tangan Dirana di lengannya. “APA? BANG GIBRAN YANG MEMPERKOSA DIRANA?” BUG! Tahu-tahu Anjas melayangkan pukulannya tepat di wajah Gibran. Pria itu terdorong ke belakang. Anjas menarik kerah kemeja Gibran, lalu melayangkan satu pukulan lebih keras ke hidung pria itu. “Lo b******n ternyata!” BUG! “NJAS!” Gino melepaskan genggaman tangannya dan berusaha menarik Anjas dari tubuh Gibran. Anjas duduk di perut Gibran lalu memukulinya berkali-kali. Dirana tampak terkejut, ia menutup bibirnya dengan kedua tangan melihat Gibran dipukuli seperti itu. “Jadi elo pelakunya hah?” Anjas baru akan melayangkan pukulannya lagi, tapi ditahan oleh Gino. “Lepasin gue, Gi! Lepasin gue! Gue mau abisin nih orang, b******n!” Kasa buru-buru membantu Gibran berdiri. Walaupun dia sempat marah karena Gibran yang tampak cuek, sekarang malah kasian. Pria itu dipukuli sampai babak belur, tapi Gibran nggak melawan sama sekali. Dia pasrah dipukuli sama Anjas. “LEPASIN GUE, GI! LEPASIN GUE! LEPASIN!” “Udah, Njas,” Gino berusaha menenangkan Anjas. “Kita bisa selesain ini baik-baik. Lo nggak lihat Dirana jadi ketakutan karena lo?” Anjas mengerang marah, ia memukulkan kepalannya ke dinding. Semuanya terdiam, tidak ada satu pun yang berani membuka suaranya. Termasuk Gibran. Pria itu berdiri sempoyongan berusaha mendekati Dirana yang kelihatan syok. “Stop di situ! Jangan deketin Dirana! Stop gue bilang!” teriak Anjas pada Gibran. Gibran mengusap ujung bibirnya yang berdarah lalu menoleh pada Anjas. Ia mendengus, seakan-akan tidak mempedulikan teriakan Anjas. “Berhenti!” “Anjas! Biarin mereka selesain masalah mereka!” sentak Gino. Anjas terdiam. Napasnya memburu. Kalau saja Gino tidak menahannya, mungkin sekarang pria itu sudah tinggal nama. Bagaimana bisa Gibran bersikap biasa saat tahu Dirana sedang hamil? Apa Gibran tidak memiliki rasa kasian sedikit pun? Bayi dalam kandungan Dirana itu anaknya, darah daginya! Gibran mendesis, ia memegangi sudut bibirnya. Ia menarik tangan Dirana. “Gue mau ngomong sama lo, kita selesain ini sendiri, gue mohon,” pandangan mata Gibran terlihat memelas. Jona menarik Dirana dan menyembunyikan temannya itu ke belakang punggungnya. “Lo obatin dulu luka lo,” gumam Jona dingin. Anka menggandeng lengan Dirana dan membawanya pergi ke kamar atas. Suasana sedang kacau. Mereka mengkhawatirkan kondisi Dirana, maka dari itu Jona menyuruh Anka untuk membawa Dirana pergi untuk istirahat sampai suasana di bawah kembali tenang. *** Setelah aksi jotos-jotosan yang dilakukan Anjas pada Gibran. Sekarang dua pria berbeda usia itu duduk saling bersebelahan. Anjas melengos, tangannya sedang diobati Gino. Sedangkan luka-luka Gibran diobati oleh Kasa. Kasa dengan sengaja menekan luka di wajah Gibran sampai pria itu meringis keras. Kasa tersenyum mengejek lalu bergumam, “Sori, gue sengaja,” kayaknya ini bocah dendam banget sama Gibran. Kemarin ketus, sekarang dengan sengaja menekan luka-luka Gibran. Bukannya sembuh malah makin parah. “Akh... akh! Sa-kit, bego!” maki Anjas kesal karena Gino mengobatinya secara kasar. “Lo ikhlas ngobatin luka gue nggak sih?” Anjas langsung protes. “Diem!” sentak Gino. Anjas cemberut. “Lo, Bang,” Anjas mulai mencari perkara lagi. “Kalau aja Gino nggak narik gue, abis lo. Pulang tinggal nama doang!” “Mau lo gue bikin nggak lulus? Gue kurangin nilai-nilai lo,” ancam Gibran jengkel. “Iya, ntar gantian gue yang bikin hidup lo nggak tenang. Mau lo?” Anjas mencondongkan kepalanya. Matanya yang hitam itu menatap Gibran tajam. “Ah, lo berdua bisa diem nggak sih!” Kasa jadi kesel sendiri. Gibran sudah selesai diobati luka-lukanya. Untung cuma memar-memar dikit, nggak bikin bahaya kok. Nggak bakal ngilangin kadar kecakepannya. Baru aja Gibran berdiri, tiba-tiba Jona datang lalu memukul Gibran dengan kuat. Gibran sampai jatuh ke lantai. “Itu hadiah dari gue buat lo,” katanya sinis. “Hadiah itu nggak seberapa dengan apa yang udah lo lakuin ke sahabat gue!” "EH, KUNYUK! ITU LUKANYA BARU AJA GUE OBATIN! KENAPA LO PUKUL LAGI KAMPREEET!" teriak Kasa sambil menepuk keningnya pelan. “Maunya gue mukul lo sampe babak-belur, tapi nggak gue lakuin karena gue masih menghargai lo sebagai yang lebih tua,” kata Jona menatap Gibran sinis. “Lagi pula, gue nggak mau Dirana bersanding saat wajah lo babak-belur.” gumam Jona pelan. “Gue mau lo nikahin Dirana, lo harus tanggung jawab atas kehamilan Dirana. Kalau nggak, gue bener-bener bakal bikin nyawa lo melayang.” Ah... Gibran baru saja diancam oleh seorang bocah rupanya. Gibran tertawa setengah mendengus mendengar ancaman Jona baru saja. To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN