Tangan Dirana gemetaran. Tubuhnya lemas, rasanya untuk membuka pintu kost-nya saja ia sudah tidak sanggup berjalan.
Untung saja Laras, teman kerja Dirana itu datang menjenguknya dan membawakan Dirana sekantong besar makanan. Mulai dari makanan ringan, sampai s**u ibu hamil. Dirana membukanya, matanya menatap penuh takjub. Ia menatap Laras lalu memeluk temannya erat-erat.
“Tahu aja kalau s**u gue abis,” Dirana nyengir kemudian menutup kembali kantong pemberian Laras.
“Itu bukan dari gue tahu,” Laras memanyunkan bibirnya.
Mata Dirana mengerjab. “Terus dari siapa?” Ia memiringkan kepalanya sambil mengingat-ingat siapa saja temannya di sana. “Oh, pasti Andre kan, ya?” Kalau nggak Laras, ya, Andre. Kan cuma dua temannya itu yang tahu kalau dia lagi hamil.
“Andre? Halah,” Laras mencibir. “Kayak tuh kunyuk punya uang aja!” Dirana memukul lengan Laras pelan. Laras mengaduh, lalu berseru. “Emang iya, kan?” Dirana hanya tertawa mendengar cibiran Laras.
“Terus siapa dong?”
Laras mulai bercerita dari mana makanan dan s**u ibu hamil yang ia berikan pada Dirana. Tadi, saat ia bercerita dengan Andre, seorang customer mendengar obrolannya mengenai Dirana yang sering mengalami sakit pada bagian perut karena efek sedang hamil. Kemudian pria itu kembali ke meja kasir, Laras kira ada kembalian yang kurang atau bagaimana, ternyata nggak. Pria itu memberikannya uang untuk keperluan Dirana yang sedang sakit.
“Jangan lupa beliin temennya s**u khusus ibu hamil, ya, Mbak,” Laras yang menerima uang pemberian pria itu cuma manggut-manggut.
Jadi, sesuai permintaan si pria itu, Laras membelikan keperluan Dirana. Mulai dari makanan, sampai s**u khusus ibu hamil. Nggak nanggung-nanggung, Laras membelikan tiga dus sekaligus.
“Siapa pun orangnya, kalau lo ketemu lagi, bilangin makasih ya, Ras,” mata Dirana berkaca-kaca, ia merasa terharu. “Di mana ya ada cowok model kayak gitu. Pasti cakep ya, Ras?”
Laras menepuk tangannya sekali. Ia tampak antusias. “Bukan cakep doang, lebih dari kata cakep. Mana baik kan ya,” Dirana mengangguk setuju. “Sayang gue udah punya tunangan, masih jomlo gue gebet deh!”
“Diiiih.” Dirana mendorong bahu Laras pelan sesekali tertawa.
***
Di depan Gibran, Ario mau pun Kasa tidak berani membahas mengenai Dirana yang hilang. Hanya dua pria itu yang tahu kalau Gibran-lah Ayah dari bayi yang dikandung Dirana.
Seminggu yang lalu ketika Gibran menceritakan soal apa yang terjadi di antara temannya dan Dirana, mereka bungkam. Kasa sampe terbengong-beng
ong, sedangkan Ario memilih diam dan menunggu Gibran sampai selesai bercerita tanpa mau menyela sedikit pun.
Gibran merasa dirinya itu pria yang jahat. Tapi dia kesal karena Dirana menolak pertanggung jawabannya. Sejak saat itu Gibran menolak membicarakan soal Dirana. Apa pun yang dilakukan cewek itu, Gibran sudah tidak peduli. Bukan salahnya kan kalau seandainya dia tidak menikahi Dirana biarpun cewek itu hamil?
Kasa main sikut-sikutan sama Ario. Ario mengedipkan matanya agar Kasa mau lebih tenang, dan pengertian melihat sikap Gibran yang langsung marah saat salah satu dari mereka menyebut-nyebut nama Dirana. Kasa cuma mau bilang, kalau Dirana memang benar-benar hamil. Dan, sekarang, cewek itu pergi entah ke mana.
Belum diceritain sampai kelar, disinggung dikit, Gibran langsung nyureng. Bikin Kasa menciut dan balik menyikut Ario.
“Sabar kenapa sih,” Ario menyikut lengan Kasa balik. “Lo nggak tahu gimana ekspresi Gibran kalau lagi bahas soal Dirana,” kata Ario berbisik di telinga Kasa.
“Lo juga nggak tahu kalau Gino sama yang lain mukanya udah kusut karena Dirana nggak ketemu-ketemu!” Kasa balas berbisik.
“Kok lo jadi marahnya ke gue?” Ario membelalakan matanya.
Kenapa jadi mereka yang berantem, ya ampun!
“Pelan-pelan, Sa,” gumam Ario.
“Sampe kapan, Bang?” tanya Kasa. “Nunggu beberapa tahun kemudian, kayak cerita di novel-novel gitu? Terus agak gedean anaknya baru ketemu sama bapaknya!” Kasa jadi ngegas, nggak tahu tempat, nggak sadar kalau Gibran itu ada di sampingnya.
Gibran langsung noleh. “Lo kalau mau cerita soal film baru lo jangan di sini.” katanya menatap tajam Kasa. “Lo selain berisik juga rese, ya!”
“Tuh kan,” Ario bergumam. “Gue bilangin juga apa. Dia tuh jadi sensian.”
“Yo,” panggil Gibran.
“Apa?” Ario menatap Gibran dengan mata menyipit.
Gibran bangkit berdiri mengajak dua temannya itu pergi ke tempat lain. “Gue laper,” gumam Gibran pelan. Ia mengelus-ngelus perutnya.
“Lo kan abis makan?” Ario dan Kasa saling menatap satu sama lain.
“Kok gue pengin makan mie ayam ya, yang pedes gitu,” gumam Gibran. “Enak kali ya, Yo?”
Ario manggut-manggut. “Ya enak, namanya juga makanan.”
“Temenin gue makan ya,” Gibran mengajak Ario dan Kasa.
“Gue lagi diet!” seru Kasa dengan nada ketus.
“Gue ngajak Ario,” sindir Gibran melirik Kasa.
“Ya udah sana, puas-puasin deh acara ngidam lo!” Setelah mengatakan itu dengan super ketus, Kasa berdiri menepuk-nepuk bahu Gibran. “Gue balik. Dah!”
Gibran mengerutkan dahinya. Kasa main nyelonong pergi gitu aja. Wajahnya super masam. Tiap lihat dia tuh, kayaknya Kasa sebel bener sama Gibran. Padahal biasanya nggak kok. “Kenapa sih tuh anak?” tanya Gibran heran. Ario hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
***
Beberapa hari ini Gibran jarang melihat Gino dan Anjas di kampus. Biasanya, setelah kelas selesai, dua cowok itu nongkrong di kanting dulu, sama Sachi juga. Tapi akhir-akhir ini nggak pernah kelihatan. Mereka nggak pernah absen sih, selalu dateng waktu kelas di mulai, tapi ya gitu, setelah bubaran langsung ngilang.
Di lorong kampus, Gibran nggak sengaja berpapasan dengan Sachi. Pria itu melambaikan tangan menyapa mahasiswa sekaligus istri dari temannya, yaitu, Ario. Sachi terlihat sendirian dan terburu-buru. Gibran ingin menanyakan apakah Sachi melihat Gino dan Anjas, Sachi menggeleng, dua temannya itu langsung pergi setelah kelasnya selesai.
“Emang lo nggak tahu, Kak?” tanya Sachi menatap Gibran.
“Tahu apa?” Gibran balas menatap Sachi.
“Mereka tuh lagi cari Dirana, Kak,” kata Sachi menjelaskan.
Gibran menaikan satu alisnya tinggi-tinggi. “Kenapa dicari? Dirana bukan anak kecil lagi, bukan anak balita.” Nada bicara Gibran terdengar ketus.
“Lo bener-bener nggak tahu? Gino sama yang lain nggak cerita?”
“Nggak. Gue jarang ketemu mereka,” Gibran terlihat memikirkan sesuatu. Ia memandangi Sachi yang sekarang ini sedang mengangkat telepon. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya ada apa sih, apa ada yang sedang mereka sembunyikan tanpa bercerita pada Gibran?
“Gue balik duluan, Kak. Kak Rio udah jemput.”
“Chi,” panggil Gibran menahan langkah Sachi.
“Ya?”
“Dirana kenapa?”
Sachi terdiam. Ia memasukan handphone-nya ke dalam tasnya. Ia terlihat salah tingkah, lalu bergumam pelan. “Soal itu, lo tanya aja Gino atau Anjas. Gue takut salah,” kata Sachi kemudian pamit pergi membiarkan Gibran termenung sendiri.
***
“Lo pulang aja, Njas, biar gue yang lanjut cari Dirana.” Gino menghentikan laju motornya menahan Anjas agar ikut berhenti. “Nanti kalau Dirana udah ketemu gue telepon lo.”
Anjas membuka helm-nya. Rambutnya yang agak panjang itu berantakan. Ia menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. Cuaca panas sama sekali tidak menghentikannya mencari Dirana. “Kalau cuma lo doang, kapan ketemunya, Gi?” Anjas memeluk helm-nya. Ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, siapa tahu Dirana jalan di sekitar sini. “Kita cari rame-rame aja dia nggak ketemu. Apalagi lo doang.”
“Jona juga cari, Njas.”
“Itu kan beda tempat.” Anjas tetep kekeuh.
“Lo balik deh. Semaleman lo cari Dirana lagi, kan?” tanya Gino. “Lo pulang, terus istirahat. Setelah istirahat terserah lo mau cari lagi apa nggak.”
Anjas tidak mau berdebat dengan Gino. Baiklah. Dia akan pulang untuk istirahat sebentar untuk mengurangi rasa lelahnya karena semalam ia berkeliling mencari Dirana sampai pagi buta. Anjas memakai helm-nya kembali lalu berbalik arah untuk pulang.
Gino berhasil membujuk Anjas untuk pulang. Ia memasang helm-nya bersiap menghidupkan mesin motornya. Gino sesekali menoleh memandangi orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar. Tidak ada Dirana di antara orang-orang itu. Gumam Gino pelan, kemudian melajukan motornya dengan pelan.
***
“Kak Gino...,” kantong plastik di tangan Dirana terjatuh dan isinya berserakan ke mana-mana.
Gino mengerjabkan mata tak percaya siapa yang ada di depannya. Gino membuka helm-nya lalu melompat turun dari atas motornya menghampiri Dirana yang tertegun.
Dirana mundur selangkah. Gino berusaha menggapai tangan Dirana, tapi cewek itu menepisnya dan berlari pergi sebelum Gino menariknya pergi ke rumah cowok itu dan bertemu yang lain.
“Dirana!” teriak Gino. Ia membuang helm-nya begitu saja lalu berlari mengejar Dirana.
Dirana berlarian menghindari Gino. Cowok itu menambah kecepatan berlarinya, Dirana pun sama. Sambil memegangi perutnya, cewek itu nekat menyebrangi jalan tanpa menunggu lampu menyala merah. Gino berteriak, nyaris saja Dirana menabrak semua mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Gino tidak peduli, ia pun nekat menyebrangi jalanan yang sedang ramai-ramainnya.
Orang-orang berteriak, hingga menjerit melihat aksi Dirana dan Gino yang terbilang nekat. Gino hampir mendekati Dirana, sedikit lagi ia berhasil menyentuh bahu cewek tuh.
Bruk.
Kaki Dirana tersandung sesuatu. Gino berhenti berlari. Buliran keringat di keningnya menetes, saling berjatuhan membasahi tangannya. Kulitnya yang putih sangat kontras ketika tersengat sinar matahari.
“Di...,” Gino membantu Dirana untuk duduk. “Lo nggak apa-apa?” Disentuhnya pipi Dirana lembut. “Lo baik-baik aja? Mana yang sakit?”
“Perut gue...,” ringis Dirana memegangi perutnya.
Gino pun panik. Ia menggendong Dirana dan membawanya ke rumah sakit. Tubuh Gino dibasahi oleh keringat. Cowok itu sama sekali nggak peduli orang-orang sedang menatap ke arahnya dengan berbagai macam pandangan. Yang ia pedulikan, selamat Dirana beserta bayi dalam kandungannya.
***
Gino masuk ke dalam kamar rawat Dirana. Langkahnya perlahan mendekati ranjang cewek itu.
Dirana sudah bangun dan mulai tenang. Wajahnya yang selalu ceria dan matanya penuh binar itu pun seolah hilang dan berubah senduh. Dirana duduk bersandar di atas bantal. Cewek itu menelan ludahnya saat melihat Gino masuk kemudian duduk di bangku di dekat ranjangnya.
“Dokter bilang bayi lo baik-baik aja, lo berdua sehat.” Gino memulai obrolannya. “Lo apa kabar?” Ditatapnya cewek itu kalem.
“Gue baik, dia juga baik,” kepala Dirana tertunduk memandangi perutnya yang mulai terlihat membuncit, meskipun masih samar.
“Selama ini lo tinggal di mana?” tanya Gino lagi. “Kita semua cariin lo.”
“Gue tinggal di rumah Tante gue kok.”
“Bohong!” tandas Gino. “Tante Selly bilang lo pindah, tapi nggak mau ngasih tahu kita.”
Tiba-tiba Dirana menangis. Gino menggeret kursinya lebih dekat dengan ranjang Dirana. Digenggamnya tangan cewek itu guna menenangkannya. Gino melihat Dirana banyak menangis saat itu. Ini kali pertamanya Gino melihat Dirana menangis sampai sesenggukan.
Anjas bilang, di luar, Dirana memang cewek yang kuat, nggak pernah memperlihatkan kalau dirinya itu sedih. Tapi, di dalamnya, Dirana adalah sosok yang sering terluka. Tapi ia tahan, ia pendam sendiri.
“Lo boleh nangis sepuas lo, sesuka lo. Nggak ada orang yang ngelarang lo di sini...” Ibu jari Gino mengusap lembut punggung tangan Dirana.
Mendengar kata-kata Gino, tangis Dirana kian kencang. Punggungnya sampai melengkung, matanya terpejam, kedua bahunya bergetar mengikuti setiap jeritan Dirana. Gino bangkit berdiri dan membenamkan kepala cewek itu ke perutnya. Dirana menggenggam tangan Gino erat-erat seolah meminta kekuatan, ia ingin berhenti menangis. Tetapi dadanya terlalu sesak.
“Keluarin semuanya, Di. Keluarin semua apa yang lo pendem selama ini. Di sini, gue berpihak sama lo....” gumam Gino mengusap kepala Dirana.
Dirana membenamkan wajahnya semakin dalam. Tangannya ia lingkarkan sampai ke pinggang cowok itu. Tangis Dirana cukup kencang sampai-sampai pasien yang lain terbangun dan memandang ke ranjang cewek itu.
To be continue---