“Yakin nih kamu mau pindah? Di sini aja, Di, biar Tante ada temennya.” Tante Dirana duduk di tepian memandangi keponakannya itu memasukkan seluruh bajunya ke dalam koper besar. “Kalau kamu pindah, Tante sama siapa?” kata tantenya sambil cemberut. “Nggak usah pindah ya, Di?” Tante Dirana belum berhenti membujuk keponakannya.
Selly, Tante Dirana itu telah melakukan banyak cara untuk membujuk keponakannya agar tidak pindah ke tempat lain. Selly senang Dirana tinggal di rumahnya. Sejak ada Dirana ia tidak pernah merasa kesepian karena keponakannya itu tipe cewek yang ceria dan nggak pernah murung sama sekali. Biarpun lagi sakit, Dirana nggak pernah.
Tapi, akhir-akhir ini Dirana berubah agak murung. Sepulang kuliah cewek itu langsung masuk ke kamar, mengurung diri berjam-jam, lupa makan kalau nggak diingetin. Selly sempat bertanya apa Dirana sedang sakit, tapi Dirana hanya menggeleng lemah sambil memerkan senyum lesunya. Melihat itu Selly jadi cemas sama Dirana.
Dirana dua orang bersaudara, Mama dan papanya telah bercerai saat cewek itu duduk di bangku sekolah dasar. Tapi walaupun begitu Dirana tidak pernah terlihat sedih, seolah memahami keputusan kedua orangtuanya untuk berpisah. Dirana itu anak yang baik, walaupun kalau bercanda suka keterlaluan.
“Kamu tinggal di mana? Kapan-kapan Tante mau main ke sana ya,” kata Selly mengelus puncak kepala Dirana.
Dirana tersenyum kecil. “Nanti aku kasih tahu.”
“Bener ya?” Selly memegangi lengan Dirana. “Kamu jangan ngilang kayak pas SMA, bikin Tante bingung.”
Dirana balas memeluk Selly. “Iya, aku pasti kabarin Tante kok.”
“Di,” panggil tantenya pelan. “Sebenernya kamu kenapa sih? Kamu nggak lagi sakit, kan?”
Dirana terkekeh kecil. “Nggaklah, Tant!” Dirana geleng-geleng. “Aku sehat nih,” tubuh Dirana berputar-putar di depan Selly.
“Iya. Iya. Tante percaya, kamu jaga kesehatan, inget, jangan suka keluyuran!”
“Siap, Tante!”
***
Ini saatnya ia memulai hidup yang baru. Penampilan baru, lingkungan serta orang-orang baru di sekelilingnya. Rambut Dirana yang panjang sampai ke punggung dipotong pendek di atas bahu, diwarnai dengan warna yang lebih terang dari biasanya. Kalau ia biasa memakai celana jins, serta kaus oblong. Sekarang ini Dirana lebih menyukai mengenakan dress, atau terusan panjang. Ia mulai kesakitan saat mengenakan jins. Ia takut akan berpengaruh pada kesehatan bayinya.
Dirana masih tinggal di jakarta, tapi cukup jauh dari tempat tinggal orang-orang di sekitarnya. Termasuk rumah Gino. Ia memilih letak yang paling jauh, ia tidak pergi ke kampus untuk sementara dan memilih bekerja di sebuah mini market yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Walaupun ia sendirian, sakit sendirian, kadangkala kelaparan di tengah malam karena tidak bisa memasak, tapi Dirana bisa bertahan. Sekarang, hatinya jauh lebih tenang.
Malam ini ia pulang tengah malam karena mendapat jatah lembur. Nyaris pukul sebelas, ia sampai di tempat kost-nya. Sebelum ia pulang ia menyempatkan membeli makanan karena seringkali ia lapar saat tengah malam. Sekarang ini ia tinggal sendirian. Apa-apa harus sendiri, ini-itu ia kerjakan sendiri, jadi ia menyiapkan makanan, takut-takut ntar malem laper kan, dia nggak bisa masak. Jadi mendingan dia beli. Aman deh!
Dan benar saja, pukul dua pagi Dirana terbangun. Perutnya keroncongan, ia pun bangun mengambil makanan yang ia beli sebelum pulang ke tempat kost-nya. Dirana membuka bungkusannya kemudian menyendokan sesendok nasi goreng penuh lalu ia suapkan ke dalam mulutnya. Dirana mengunyahnya cepat, tapi, tiba-tiba ia teringat teman-temannya. Apalagi Anjas. Cowok itu sering menjadi patner-nya saat makan.
Dirana menyendokan satu sendok lagi ke dalam mulutnya. Sambil menangis sesenggukan cewek itu mengunyah makanannya. Ia merindukan teman-temannya di saat sendirian seperti ini.
Sedang apa mereka sekarang? Apa teman-temannya itu baik-baik saja meskipun tanpa dirinya?
Ada yang kangen nggak ya sama Dirana?
Dirana tersedak, ia meraih gelas kosong dan mengisinya dengan air hingga penuh. Dirana menepuk-nepuk dadanya pelan, setelah menghabiskan setengah gelas air ia mendorong makanannya ke samping. Sambil menangis ia menarik kedua kakinya lalu ia peluk erat-erat.
Ia akan bertahan walaupun berat. Demi dirinya, demi bayinya. Ia tidak yakin kalau ia hidup di lingkungan orang terdekatnya, mereka tidak akan bisa menerima bayinya seperti dirinya.
***
“Mobil gue mogok,” Gibran menempelkan handphone-nya ke telinga kanan. “Tapi gue udah telepon Gino kok,” katanya sambil menyerahkan sebotol air mineral di atas meja kasir. Tangan kirinya memegangi handphone yang menempel di telinga, sedangkan tangan kirinya merogoh kantong celananya mengambil dompet. “Lo nggak bisa dihubungi tadi, makanya gue telepon Gino. Oh..., bentar ya, Mbak, dompet saya ketinggalan, bentar saya ambil dulu,” ia menjauhkan handphone-nya sebentar dan berbicara dengan seorang kasir perempuan.
Kebiasaan Gibran seringkali meninggalkan dompetnya di mobil. Saat-saat seperti ini ia membutuhkan dompetnya. Mobilnya mogok. Telepon Ario nggak diangkat, untung saja, tepat lima setelah ia berhenti menghubungi Ario, Gino menelponnya untuk menanyakan sesuatu. Jangan lupa, seakrab apa pun mereka, Gibran tetaplah dosen Gino di kampus.
Gibran mendorong pintu kaca lalu berlari kecil kembali ke tempat mobilnya mogok. Untung saja tidak terlalu jauh. Gibran membuka pintu mobilnya, setengah badannya masuk ke dalam mencari-cari dompetnya yang tertinggal.
Tidak berapa lama Gibran kembali ke mini market karena sudah berjanji akan kembali membayar minuman yang ia letakan di meja kasir. Gibran memutuskan sambungan teleponnya dan memasukannya kembali ke kantong celana. Gibran menerima kantong kecil berisikan sebotol air mineral serta kembaliannya.
Gibran menerimanya. Seorang kasir pria datang menghampiri temannya kemudian bertanya. “Kok lo di sini sih? Bukannya lo jaga sore ya?”
Kasir perempuan menyempatkan tersenyum sebentar saat Gibran menerima kembalian yang ia berikan. “Terima kasih,” setelah Gibran membalikan badan, barulah si kasir perempuan itu menjawab pertanyaan temannya. “Iya, si Dira katanya perutnya lagi sakit. Kasian, kayaknya dia kecapean.”
“Sekarang Dira ke mana?” tanya teman kasir perempuan.
“Pulang ke kost-an katanya, ntar sebelum pulang gue mampir ke sana deh. Dia kan lagi hamil, gue takut dia kenapa-kenapa.”
“Oh, ya udah,” kata teman kasir perempuan itu sambil menepuk bahu temannya.
Samar-samar Gibran mendengarkan obrolan kedua kasir di belakangnya. Mungkin yang mereka bicarakan adalah teman mereka yang sedang sakit, eh, tapi bukannya kasir perempuan tadi mengatakan kalau temannya sedang hamil? Kasian juga ya, sedang hamil, tapi malah bekerja dan malah membuatnya sakit. Gibran bergumam sendiri sembari membuka kemasan botol air mineral di tangan. Digelengkannya kepalanya pelan, kenapa dia jadi mikirin orang lain sih, jelas-jelas aja dia nggak kenal.
***
Belum menemukan kabar apa pun mengenai keberadaan Dirana. Gino serta Jona pergi ke rumah tantenya Dirana. Sampai di sana Selly mengatakan kalau keponakannya itu sudah pindah seminggu yang lalu. Katanya mau ngekost deket-deket kampus. Maklum sih, jarak antara rumah Selly ke kampus lumayan jauh. Nggak salah kalau Dirana ngotot pengin ngekost sendiri agar lebih dekat.
Jona menghela napas tanpa kentara. Selly menyuguhinya banyak makanan dan minuman. Selly sudah mengenal Jona sejak lama, Dirana pernah mengajak cowok itu datang ke rumahnya dan dikenalkan sebagai teman. Selly sempat tidak percaya, di jaman seperti ini, apa-apa dibaperin, ini-itu dibaperin, masih bisa cowok-cewek temena, sahabatan? Diusap kepalanya sekali dua kali hatinya udah nyantol duluan.
Selly ngotot kalau ada apa-apa di antara Dirana dan Jona. Tapi, setelah itu Dirana bercerita pada Selly soal Anka, cewek yang ditaksir Jona. Dan Gino, cowok yang dia taksir. Barulah Selly memahami kalau Jona dan Dirana ini benar-benar hanya berteman saja. Tidak lebih.
“Kalau gitu, kita balik, Tante. Salam buat yang lain...” Yang Jona maksud dari kata, 'yang lain' ini adalah anak-anak Selly, sepupunya Dirana. Jona pernah bertemu, tapi lupa sama namanya.
“Iya, hati-hati, ya,” Selly tersenyum ramah.
“Kalau ada kabar soal Dirana, boleh telepon Jona ya, Tant.”
“Iya, Jo,” Selly mengangguk paham.
Setelah Gino dan Jona pergi, Selly masuk ke dalam rumahnya. Perihal kedatangan dua pemuda itu membuatnya cukup terkejut. Bukannya ia tidak mau memberitahukan keberadaan Dirana. Tapi, dia sendiri pun tidak mengetahui jelas di mana Dirana tinggal sekarang. Setiap Dirana menelponnya, Selly selalu menanyakan tempat tinggal Dirana, tetapi cewek itu seolah bungkam dan beralih membahas soal lain.
Selly menghela napas, ia memandangi dari jendela rumahnya melihat motor Gino keluar dari pekarangan rumahnya. Ada apa dengan anak-anak ini. Baik Dirana, mau pun teman-temannya seolah bungkam. Ada apa sebenarnya?
***
Jona pulang dengan lesu. Tanpa menjawab pertanyaan Anka pun, istrinya itu sudah paham jawaban yang terlihat dari raut wajah suaminya. Gino yang berjalan di depannya pun juga sama, tidak ada bedanya.
“Anjas mana?” Gino menolehkan kepalanya menatap seisi ruangan.
“Pergi sama Kak Kasa,” kata Anka lalu duduk di samping Jona.
“Ke mana?” Kini giliran Jona yang bertanya.
“Sama kayak kalian,” Anka mendesah pelan. “Mereka lagi cari Dirana,” gumamnya lesu.
Dirana menghilang seolah ditelan bumi. Ke mana perginya mereka tidak tahu. Handphone-nya tidak aktif. Mereka mencari ke kampus Dirana, dan hasilnya nihil. Teman-teman kampus cewek itu bilang kalau Dirana sudah hampir seminggu tidak datang ke kampus.
Tidak ada yang tidak mencari Dirana. Bahkan, Kasa yang sibuk syuting sana-sini, berpindah-pindah lokasi sering menyempatkan waktunya pergi bersama Anjas untuk mencari Dirana. Lihat, kan, bagaimana mereka sayang kepada cewek itu, kalau Dirana mengira mereka akan menjauhinya, itu tidak benar. Seharusnya Dirana tetap di sisi mereka untuk mencari jalan keluar bersama. Bukannya lari di saat ia sedang hamil.
Sekarang bukan hanya Dirana yang mereka khawatirkan, tetapi juga bayi yang ada di perut Dirana.
“Kamu mandi dulu gih, abis itu kita makan...” Anka memijat kedua bahu Jona lembut. “Kak Gino juga ya, aku angetin makanannya dulu.” Kemudian cewek itu bangkit berdiri untuk pergi ke dapur.
***
Kalau biasanya mereka heboh saat melihat banyak makanan di atas meja. Sekarang, Gino dan yang lain hanya menatap lesu. Yang paling membingungkan tuh Anjas. Dia yang paling kelihatan sedih waktu tahu Dirana hilang, dan soal kehamilan....
Tahu bagaimana reaksi Anjas saat itu?
Dia marah. Bahkan bersumpah akan menghabisi nyawa pria yang sudah merusak masa depan Dirana. Anjas adalah anak tunggal dalam keluarganya, dia nggak punya saudara. Waktu dia kenal sama Dirana dia langsung klop. Banyak hal yang sering mereka berdua ceritakan. Mulai dari yang jelas, sampe nggak jelas pun berhasil bikin mereka cekikikan. Anjas merindukan masa-masa itu. Biarpun nantinya orang-orang menjauhi Dirana karena hamil di luar nikah, Anjas akan melindungi Dirana. Baginya, Dirana bukan hanya seorang teman, tapi juga seorang adik.
“Lo nangis, Njas?” Kasa menarik wajah Anjas. “Gila! Lo nangis beneran?”
Dengan tangan besarnya, Anjas mengusap-usap matanya yang basah. Saat menoleh ke arah Kasa, mata Anjas memerah. Ia menghela napas panjang, kemudian menggeleng. “Gue cuma sedih banyak makanan di sini, tapi Dirana nggak ada,” gumamnya sambil mendengus keras. “Tuh kunyuk kan doyan makan,” katanya lalu terkikik. “Kita makan enak, dia makan apa sekarang? Dia tinggal di mana aja kita nggak tahu. Nyenyak atau nggak tidurnya kita juga nggak tahu.”
Mendengar apa yang dikatakan Anjas membuat napsu makan yang lain pun makin menurun. Mereka sama sekali tidak berminat untuk makan.
“Biasanya gue suka berebut makanan sama dia,” Kasa mengusap lengan Anjas yang tidak berhenti menangis. “Kalau dia ada di sini nih, gue kasih semuanya. Sekalipun makanan gue nih, gue suruh makan dia sekalian. Asal dia balik.”
“Kak...” gumam Anka memandangi ke empat pria di hadapannya. “Kalian hampir tiap hari cari Dirana. Kalian harus makan, kalian butuh tenaga,” katanya lembut, “Gue yakin Dirana baik-baik aja, dia kan kuat,” Anka mengembangkan senyuman kecilnya.
Ia berdiri lalu mengisi nasi ke setiap piring sambil bergumam menasehati. “Setelah makan, kalian boleh cari Dirana lagi.” Anjas menatap Anka sejenak, hendak protes. Anka menggelengkan kepalanya pelan, “Nggak ada penolakan. Perut lo juga butuh makan.” Dan Anjas pun cemberut.
To be continue---