Gibran membiarkan Dirana keluar dari mobilnya dan pulang sendirian tanpa mau diantar. Gibran diam seribu bahasa memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut cewek itu. Benarkah ia bisa bernapas lega setelah Dirana meyakinkan dirinya bahwa dia sedang tidak hamil? Gibran tidak tahu. Perasaannya mengatakan kalau Dirana sedang berbohong. Kalau Dirana memang tidak hamil, kenapa tingkahnya jadi aneh?
Gampang marah, gampang menangis, mudah tersinggung, dan beberapa gejala lain yang sering dialami ibu hamil di awal kehamilan. Gibran memiliki seorang teman yang berprofesi sebagai dokter kandungan. Gibran bertanya banyak hal, konsultasi mengenai Dirana-yang tentu saja dia mengaku kalau bukan dia yang mengalami, tapi orang lain. Dan penjelasan yang ia dapatkan seperti yang terjadi pada Dirana akhir-akhir ini.
Pria itu mendesah panjang menyandarkan kepalanya ke punggung kursi yang ia duduki. Melihat Dirana yang meyakinkan dirinya sambil membentak dan juga menangis secara bersamaan membuatnya terdiam. Bukan karena dia tidak mau bertanggung jawab, bukan. Hanya saja dia memikirkan bagaimana bisa Dirana berusaha menyembunyikan kehamilannya?
Gibran yakin, Dirana sedang hamil.
***
Jona mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal. Ternyata panggilan itu dari sebuah rumah sakit yang menemukan Dirana pingsan di jalanan dalam keadaan basah kuyup. Dengan ditemani Anka dan Anjas, ia datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi sahabatnya itu.
Heran, Dirana adalah sosok cewek yang kuat. Separah apa pun kondisinya, Jona tidak pernah melihat sahabatnya itu sampai jatuh pingsan. Pernah dihukum sama guru sewaktu mereka masih sekolah mulai dari keliling lapangan lebih dari lima puluh kali, berdiri di depan tiang bendera sampai kepanasan, pernah sampai kehujanan juga masih kuat. Malah cengar-cengir merasa dirinya kuat sebagai anak perempuan. Di jaman mereka sekolah, Dirana termasuk murid yang bandel, makanya nggak jarang sering dihukum di sekolah.
“Keluarga Nona Dirana?” tanya seorang suster menghampiri Jona dan yang lain.
“Iya, saya,” kata Jona sambil berdiri dari kursinya.
“Bisa ke ruangan dokter sebentar?”
Jona mengangguk. “Ah, iya...” Jona menepuk bahu Anka. Ia meminta istrinya untuk menggantikan menjaga Dirana sampai dia kembali.
Anka mengangguk pelan.
Di tempat lain, Gibran duduk seorang diri di sebuah kafe. Ia memutar-mutar gelasnya. Matanya yang kosong menatap minumannya lalu terkekeh sendiri.
Kenapa dia harus repot-repot memikirkan Dirana, kalau cewek itu sendiri memintanya untuk melupakan kejadian malam itu? Dirana sendiri juga mengatakan kalau dia tidak dibutuhkan kalau nantinya cewek itu benar-benar hamil.
Sekarang, siapa yang keterlaluan?
Dirana membuatnya seolah-olah kalau ia itu seorang b******n. Pengecut. Ia berani merusak masa depan seseorang, kemudian ia harus melupakan dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Haha. Kenapa lucu sekali? Dia merasa bersalah, sedangkan cewek itu sama sekali tidak mau menerimanya.
Oke. Kalau alasan terbesar Dirana menolak pertanggung jawabannya karena sebuah cinta, kenapa harus dipikirkan sekarang? Inget kata orang jaman dahulu? Cinta itu bisa datang kapan saja, cinta bisa tumbuh dengan sendirinya. Toh, kalau mereka menikah pun itu demi anak mereka, demi bayi mereka. Dan seandainya cinta benar-benar tidak hadir dalam kehidupan rumah tangga mereka nantinya, Gibran tidak mempermasalahkan.
“Sori, handphone gue tadi ketinggalan,” seseorang menepuk bahu Gibran. “Pas gue balik, Sachi bilang lo telepon, makanya gue langsung ke sini dan ternyata lo belum pulang,” itu Ario. Ya, Gibran menelpon pria itu sejak dia duduk di sini sejak tiga jam yang lalu.
Gibran tersenyum tipis. Tangannya masih sibuk memutar-mutar gelasnya. “Harusnya lo nggak usah dateng sekalian,” cibirnya kesal.
“Sori, Gib,” kata Ario menyesal. “Lo kenapa telepon?”
“Lho, Bang Ario, Bang Gibran!” seru seseorang tak jauh dari tempat mereka duduk. “Wah! Kebetulan gue ketemu kalian,” katanya yang langsung duduk sebelum dipersilakan oleh Ario atau pun Gibran.
“Bocah nggak sopan!” sindir Gibran sinis.
Bocah yang dimaksud Gibran adalah, Kasa. Penyanyi yang sekarang banting setir jadi aktor itu cuma cengar-cengir tidak peduli dengan sindiran Gibran. Kasa melambaikan tangan memanggil seorang pelayan. Gibran dan Ario saling menatap pria itu. Usia Kasa tiga tahun lebih muda dari Gibran, tapi dari sikap, cara bicara hingga cara berpikir sangat jauh berbeda. Kasa terkesan kekanak-kanakan, makanya cocok kalau gabung sama Gino dan Anjas.
“Sekarang, lo cerita. Lo kenapa? Ada apa sama wajah lo? Kenapa kusut gini?” Ario menangkup wajah Gibran, menggerakannya ke kanan dan ke kiri.
Gibran menepis tangan Ario pelan. Ia mendengus keras. “Gue ngehamilin anak orang.”
Ario tertegun. Kasa yang asik menyendok makanannya nyaris saja menyembur wajah Ario kalau saja tidak cepat-cepat ia tahan dengan tangannya. Gibran tersenyum sinis lalu meneguk minumannya sampai tandas.
Ketiga pria itu kompak saling diam. Ario yang berusaha mencerna kata-kata Gibran, sedangkan Kasa masih tidak percaya.
“Siapa yang lo hamilin, Bang?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Kasa.
Ario menyikut lengan Kasa pelan. “Cerita pelan-pelan,” kata Ario. “Siapa yang lo hamilin? Apa kita kenal?”
***
Sejak keluar dari ruangan dokter, Jona terus saja diam sambil memandangi Dirana yang kembali tidur setelah sempat siuman tiga puluh menit yang lalu. Kata dokter, Dirana bisa pulang hari ini juga, tidak perlu rawat inap karena kondisi cewek itu baik-baik saja. Hanya saja, Dirana harus ekstra hati-hati menjaga kandungannya.
Kandungannya?
Mata hitam bulat Jona terbelalak mendengar penuturan dokter mengenai kehamilan Dirana. Bagaimana kondisi sahabatnya, sekaligus bayi dalam kandungannya. Semuanya sehat, cuma, Dirana tidak boleh terlalu stres karena bisa berpengaruh pada janin dalam kandungannya.
Jona melongo. Hamil? Bagaimana bisa? Dirana masih muda, usianya baru sembilan belas tahun dan dinyatakan hamil? Bahkan Dirana belum menikah!
Dokter sempat kebingungan ketika Jona menjelaskan bahwa Dirana belum menikah, tapi dari hasil pemeriksaan Dirana memang hamil. Usia kandungannya berjalan ke minggu ke sembilan.
Gino baru datang menyusul yang lain. Anjas pulang lebih dulu bersama Anka. Sebenarnya Anka sempat menolak dan kekeuh ingin pulang bersama-sama, tapi Jona memaksa cewek itu pulang bersama Anjas lebih dulu.
“Dirana hamil,” belum sempat Gino ikut duduk di bangku samping Jona, cowok itu bergumam mengejutkan.
Gino memandang Jona sejenak, kemudian bertanya pelan, “Siapa yang hamil? Anka?”
Jona mendongak, “Dirana,” katanya lirih.
Gino ikut duduk di samping Jona. Ia masih sangsi mendengar kata-kata Jona. “Siapa yang hamil?”
“Dirana,” kata Jona tajam. “Yang hamil Dirana.” Jona mengulangnya.
Gino ikut duduk di samping Jona, sambil menyandarkan punggungnya ke kursi ia menolehkan kepalanya menatap kamar rawat Dirana yang tertutup rapat.
***
Dirana diantar pulang oleh Gino dan Jona. Ketiganya saling diam di dalam mobil, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suaranya atau mengajak ngobrol untuk mencairkan suasana.
Cewek itu berdeham. Bibirnya kering, matanya tampak sembab karena menangis setelah bertengkar dengan Gibran sore tadi. Dirana menyunggingkan senyum lebar berusaha bersikap seperti biasanya.
“Ehem!” Dirana berdeham lagi, “lo sakit gigi, Jo? Diem mulu, Anka mana?”
Jona tidak menjawab.
“Lo kenapa sih, Jo? Kok diem terus?” tanya Dirana mencondongkan tubuhnya ke depan.
Jona masih diam.
“Jo,” seru Dirana. “Jonaaaa!”
Jona menolehkan kepalanya ke belakang. Dirana tersenyum lucu, matanya berkedip sengaja menggoda temannya itu. “Siapa Ayah kandung bayi lo?” tanya Jona to the point. “Kenapa lo diem?” tanya Jona lagi. “Lo hamil, kan?” Pertanyaan yang sama ia terima dari orang berbeda. Tahu dari mana Jona kalau ia sedang hamil?
“Jo,” Gino memelankan laju mobilnya. “Kita bisa bahas di rumah soal ini, biarin Dirana istirahat dulu.”
“Nggak apa-apa, Kak,” sahut Dirana. “Bisa berhentiin mobilnya,” pinta Dirana pada Gino.
“Kenapa?” tanya Gino, ia meminggirkan mobilnya.
“Gue udah nggak tahan sembunyiin ini dari kalian,” gumam Dirana pelan. “Oke. Gue ngaku, gue emang hamil,” Jona mendelik. Dirana mendengus pelan, “tapi, please, bisa nggak usah bahas ini lagi biarpun lo tahu gue hamil tanpa suami? Gue bisa besarin anak gue sendiri nantinya, gue bisa lahirin tanpa harus adanya suami. Gue bisa urus anak gue sendiri,” mata Dirana memerah, dan basah. Ia menelan ludahnya susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. “Dan satu hal lagi, ini urusan gue, ini kehidupan gue, Jo, lo nggak perlu repot-repot mikirin gue. Gue hamil ada atau nggak adanya suami, itu urusan gue. Lo nggak perlu ikut campur.” Dirana membuka pintu mobil dan melesat keluar.
Gino ikut keluar, tapi keburu Dirana memanggil taksi dan masuk ke dalam. Dia terlambat menahan Dirana agar tidak pergi.
To be continue---