Gue Nggak Hamil!

1475 Kata
Sejak Dirana menggumamkan kata ngidam kemarin, Gibran jadi sering memperhatikan Dirana. Apa saja yang dilakukan cewek itu pasti tidak pernah lepas dari tatapan matanya. Mulai dari tertawa hingga dorong-dorongan dengan Anjas. Itu sudah biasa kalau mereka berdua sudah bertemu, sepinya pemakaman pun pasti bakal rame kalau ada mereka berdua. Sekarang ini mereka semua ada di rumah orangtua Jona. Ryani, mamanya Jona sengaja mengundang mereka makan malam bersama. Semuanya berkumpul ada di sana. Gino, Anjas, Kasa, Gibran dan Dirana sedang asik makan sambil mengobrol dengan Bastian dan Leo. Memang benar kata Anjas, teman Om Leo yang namanya Bastian orangnya lucu, apa aja yang keluar dari mulutnya tuh pasti bikin orang ketawa. Mereka asik makan, Gibran sibuk perhatiin Dirana. Cewek itu tertawa sesekali memasukan keripik kentang ke dalam mulutnya. Dirana tertawa mendengar celotehan Bastian yang menceritakan waktu masih membujang. Katanya sih, dulunya Bastian itu playboy nomor satu. Cewek mana aja yang nggak tergila-gila sama Bastian. Mulai dari cewek yang biasa-biasa aja, sampe top model pun pernah jadi pacarnya. Yang bikin mereka ketawa tuh bukan karena Bastian sering gonta-ganti pacar, tapi saat Bastian mengejar-ngejar Ishela, teman dari kuliah yang sekarang ini resmi jadi istrinya. Mereka udah punya dua anak lho. Gibran menggerakkan bibirnya menghitung sesuatu. Tidak jelas apa yang sedang ia hitung. Matanya fokus memandang gerakan tangan Dirana di perut. Berulangkali Dirana mengelus perutnya. “Jangan dimakan, ih!” Dirana pura-pura menggigit lengan Anjas saat cowok itu dengan sengaja mengambil potongan daging di piring cewek itu. “Kak Anjas balikin! Balikin! Gigit nih!” Bukannya menaruh kembali dagingnya ke dalam piring, Anjas malah memakannya dengan nikmat. Matanya ia pejamkan menikmati empuknya daging yang menyentuh lidahnya. Dirana ngambek, dia menginjak kaki Anjas kesal. “Makan punya gue aja.” Dengan baiknya Gino memberikan daginya pada Dirana. “Lo berdua di rumah orang masih aja suka ribut." Dirana menusuk dagingnya dengan garpu lalu memasukannya ke dalam mulutnya. Sambil mengunyah, Dirana bergumam pelan. “Kak Anjas duluan nih!” Dirana mencubiti lengan Anjas. Anjas meringis kecil. “Duh, duh, sakit, Di! Diiii!” Jona yang ada di paling ujung sama Anka cuma bisa melihat teman-temannya yang ribut di rumah orangtuanya. Nggak di rumah Gino, di sini pun sama ributnya. Anka sih udah hapal gimana Jona yang nggak terlalu suka sama keramaian. Yang lain rame, dia cuma diem doang. “Kak...” panggil Sachi pada Gibran yang duduk di depannya. “Kak Gibran.” Gibran tersadar, “Iya, Chi. Sori, gue nggak denger. Kenapa?” “Boleh gendongin anak gue bentaran nggak? Gue mau ke kamar mandi, Kak Rio lagi angkat telepon di belakang,” kata Sachi, kemudian berdiri memindahkan gendongannya ke Gibran. “Titip bentar ya.” Padahal Gibran belum bilang iya lho, tapi Sachi main pergi aja. Gibran memangku putri Sachi yang usianya belum genap setahun. Bayi itu hanya diam sesekali memainkan tangannya yang mungil. Gibran memegangi tangan putri Sachi. “Udah cocok gendong bayi lho,” seru Leo tiba-tiba. Dirana berhenti makan. Sontak ia menoleh ke mana Gibran duduk. Gibran sedang menatapnya, ia melengos membuang pandangannya ke tempat lain. “Saya belum ada keinginan punya bayi, Om.” Gibran tidak berhenti melirik Dirana. Dada Dirana terasa sesak mendengar jawaban laki-laki itu. 'belum menginginkan seorang bayi' ah... Dirana menahan air matanya yang mendesak ingin turun. Hatinya terasa sakit. Bagaimana bisa Gibran mengatakan itu di saat ia sedang hamil anaknya? Gibran nggak salah bego! Dia nggak tahu kalau lo hamil anaknya! Kepala Dirana mendongak ke atas, tangan kanannya bergerak mengipasi wajahnya yang terasa panas. Ia berdiri berpamitan pergi ke kamar mandi, ia ingin menenangkan diri sebentar sampai suasana hatinya membaik lagi. *** “LO MAU CULIK GUE!?” teriakan Dirana menggema. Orang-orang yang berlalu-lalang di sana menatap ke arah mereka berdua dengan pandangan bingung sekaligus cemas. Gimana orang-orang nggak cemas kalau Dirana teriak-teriak mirip orang yang mau diculik. Gibran juga begitu, dia genggam tangan Dirana terlalu kenceng sampe cewek itu meringis dan membuat tangannya memerah. Dirana memukuli lengan Gibran, lalu beberapa dari pejalan kaki yang kebetulan berpapasan berusaha mencegat langkah Gibran sambil merentangkan kedua tangan. Mau tidak mau Gibran menghentikan langkahnya karena dihadang oleh orang-orang. Genggamannya sengaja ia longgarkan, ia memasang senyum tipis menghadapi orang-orang yang mungkin saja benar-benar menganggapnya sebagai seorang penculik karena teriak Dirana. Gibran menarik pinggang Dirana, matanya menatap satu per satu orang-orang di depannya. “Ada apa ya, Pak? Kok ngehalangin jalan saya?” Gibran pasang senyum tipis, tapi lumayan meyakinkan kalau dia bukanlah seorang penjahat, apalagi penculik. “Permisi... Saya mau jalan, Pak, mau bawa istri saya ke rumah sakit buat cek kandungan,” katanya tenang. Mata Dirana mendelik. Orang-orang yang menghadang mereka berdua saling berpandangan, beberapa dari mereka berbisik lalu manggut-manggut seperti membenarkan sesuatu. “Kalau istrinya kenapa teriak-teriak bilang diculik?” tanya salah satu pria paruh baya menatap Gibran dan Dirana bergantian. Gibran pasang senyum lagi, lebih manis dari sebelumnya. “Ah, Bapak salah denger mungkin,” kata Gibran kalem. “Kebetulan istri saya ini lagi ngambek. Bapak-bapak kayak nggak tahu aja kalau istri udah ngambek suka bertingkah aneh-aneh.” Badan Gibran sedikit mencondong, satu tangannya ia dekatkan ke ujung bibir seolah-olah ia sedang berbisik pada orang-orang. Mereka tertawa malu. Sebagian dari mereka mengangguk menyetujui kata-kata Gibran. Dirana terbengong, Gibran tuh jarang senyum, ngomong kalem, tapi waktu pria itu dihadapkan orang-orang ini wajahnya langsung berubah cerah-ceria, senyumnya manis bener, lebar bener kayak tali jemuran tetangga. Jadi percaya kan tuh Bapak-bapak kalau Dirana tuh istrinya. Dirana mendelik tajam sampe dongakin kepalanya karena tinggi badan Gibran yang kelewatan. Dengan kesal ia menggigit lengan Gibran. “Duh! Duh, sakit, Sayang...” Gibran mengaduh kesakitan. “Tuh kan, Pak, sekarang dia malah gigit-gigit saya.” “Mending gigit lengan, Mas,” sahut salah satu Bapak. “Kemarin, istri saya gigit kepala saya sampe luka cuma karena nggak diturutin beli BH baru.” Orang-orang kontan tertawa mendengarkan curhatan Bapak tersebut. Gibran mendesah tanpa kentara, sambil menahan rasa perih di lengannya terkena bekas gigitan Dirana. Padahal lengan Gibran terlapisi baju, tapi rasa gigitannya sampe tembus beneran. “Haha si Bapak nih!” Gibran tertawa garing. “Udah dulu ya, Pak, saya duluan,” pamit Gibran. “Salam buat istri Bapak, sering-sering turutin aja permintaan istrinya Pak, daripada ntar yang digigit bagian lain kan bahaya.” Omongan Gibran malah makin ke mana-mana. Dirana pun mencubit lengan Gibran kuat-kuat. “Mari, Pak...” kata Gibran sopan setengah menunduk sebelum pergi. Dia nggak tahan dianiaya terus, dia pengin buru-buru pergi, terus bales perlakuan Dirana yang semena-mena sama dia. Lihat aja, lama-lama gue karungin, terus gue paketin sekalian! *** “Turunin gue,” gumam Dirana sembari memejamkan mata. Ia tahu ke mana Gibran akan membawanya. Mobil pria itu berbelok menuju rumha sakit. “Turunin gue!” Dirana menyentak. “Mau lo apa sih?” Kepala cewek itu tertoleh ke samping, napasnya memburu menahan sesak. Kenapa pria ini selalu bertingkah semaunya sendiri tanpa harus bertanya padanya dulu? Bukankah mereka sepakat tidak akan membahas soal malam itu sekali pun dia nantinya hamil. Ah! Sekarang dia sudah hamil, dia positif! Usia kandungannya memasuki minggu ke delapan. Dirana menangis sesenggukan, ia berusaha membuka pintu mobil sesekali mengusap wajahnya dengan kasar. “Bukain....” katanya dengan suara bergetar. “Turunin gue....” “Lo bisa diem nggak sih!?” Gibran menoleh sekilas, ia menyentak cewek itu kesal karena terus meneriakinya. Lihat, kan? Gibran berubah drastis. Tadinya yang manis saat di hadapan orang-orang, setelah itu berubah lagi menjadi dirinya yang menyebalkan. Dirana menciut, ia takut setiap kali dibentak seperti itu. “Gue nggak bakal biarin lo pergi sebelum lo mau diperiksa,” kata Gibran pelan. “Buat apa?” Gibran diam. Dirana menyeringai sinis. “Lo takut kalau gue hamil?” sindirnya ketus. Gibran tetap diam. Ia menarik punggungnya dari sandaran bangku mobil, tangan kanannya memegangi perutnya yang terasa nyeri. Dadanya sesak melihat Gibran hanya diam seperti itu. Air mata Dirana menetes membanjiri pipinya dan membuatnya basah. “Gue kan udah bilang,” gumamnya serak. Ia sengaja menoleh ke samping memandangi Gibran senduh. “Sekalipun gue hamil, gue nggak bakal minta pertanggung jawaban elo, gue anggep malem itu nggak pernah terjadi,” kata Dirana berusaha setegar mungkin. Sreeeet. Gibran membanting setirnya ke kiri hingga menimbulkan suara decitan. Dirana memeluk perutnya dengan kedua tangannya. Ia shock, nyaris saja mobil Gibran menabrak pohon, bisa-bisa membahayakan nyawa bayinya. “LO GILA HAH?!” jerit Dirana. “LO YANG GILA!” balas Gibran keras. “Gimana bisa lo nyuruh gue lupain soal malam itu,” gumamnya parau. “Lo hamil kan?” tanyanya tajam. “Lo hamil anak gue?” katanya memelas. Dirana tersenyum kecut. “Kata siapa?” “Kata gue!” tandas Gibran. “GUE NGGAK HAMIL, GIBRAN!” teriak Dirana tepat di depan wajah pria itu. “GUE NGGAK HAMIL!” Ia meneriakan tiga kata itu untuk yang kedua kalinya. “KALAU PUN GUE HAMIL, GUE NGGAK BAKAL CARI LO! PUAS LO? UDAH BISA NAPAS LEGA SEKARANG?” To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN