Ngidam

2710 Kata
Masalah s**u ibu hamil masih dibahas sampai di meja makan. Anka cemberut saat meletakkan piring, gelas setelah menata seluruh masakannya di atas meja. Jona melirik Anka diam-diam, istrinya itu mempunyai kebiasaan diam seribu bahasa kalau sedang marah. Anka mana pernah protes secara langsung. Katanya, nggak baik kebanyakan protes sama suami. Dalam hati Jona masih bertanya-tanya siapa pemilik ibu hamil yang ada di kantong plastik tadi. Punya Anka, kayaknya nggak mungkin. Biarpun mereka suami-istri, tiap hari berduaan, tapi serius, Jona belum pernah apa-apain Anka. Bodoh. Emang lo nggak tergoda apa? Jona itu cowok normal. Mana bisa dia nggak tergoda kalau lagi berduaan sama lawan jenisnya, apalagi ini istrinya sendiri. Jona cuma berpikir, Anka harus menyelesaikan kuliahnya dulu, baru mereka akan memikirkan soal itu. Lagi pula mereka masih terlalu muda untuk menggendong seorang bayi. “Apa? Bahas soal tadi lagi?” Jona menggeleng pelan, dia mengaduk-aduk nasinya. “Ish! Itu beneran bukan punya aku!” Anka sedikit menyentak karena Anjas yang terus-terusan menggodanya. Dirana gabung ke meja makan bersama yang lain. Setengah menguap kecil cewek itu menarik kursi di samping Anjas. Matanya merah karena ketiduran di sofa sehabis menemani Anka belanja di supermarket tadi. Dirana mendengar Anka mendesah jengkel menatap Anjas sinis. Anjas malah cekikikan, Jona geleng-geleng kepala saja. “Gue laper,” gumamnya pelan. Matanya langsung bersinar melihat menu makanan di atas meja. “Piringnya.” Gino memberikan piring kosong untuk Dirana. “Makasih.” Dirana tersenyum lebar sampai sepasang matanya itu menyipit lucu. Dirana menyendokan nasi, sayur bayam hasil memaksa Anka, serta ikan goreng dan sambal buatan Anka yang super aduhai di lidah. Dirana mengunyah nasi yang sudah ia campurkan bersama sayur bayamnya, lalu tidak lupa meletakkan potongan ikan gorengnya. Dirana mengunyahnya dengan nikmat. Masakan Anka emang yang terbaik! “Di,” Anjas memanggil Dirana. Sambil menyuapkan sesendok penuh nasi, Anjas bertanya pada cewek itu. “Lo tadi nemenin Anka belanja, kan?” “He-eh.” kepala Dirana manggut-manggut. “Lo tahu kalau Anka beli s**u ibu hamil?” Anjas melirik Anka. Anka mendelik, lalu melengos. “UHUK!” Dirana terbatuk-batuk. Waktu dia noleh ke samping, nasi yang ada di dalam mulutnya menyembur di wajah Anjas. “LO KIRA MUKA GUE KOBOKAN!" Anjas memejamkan matanya. Tangannya yang besar ia usap-usapkan di wajahnya yang penuh dengan nasi. “Minum, minum, Di.” Gino bangun, kemudian menyodorkan segelas air pada Dirana. Sambil mengusap punggung Dirana lembut. “Gue kan cuma nanya, kenapa lo malah nyemburin makanan lo?” Anjas memasang tampang masam. Dirana tampak kikuk. Dia bingung harus menjawab yang mana dulu. Pertanyaan soal s**u ibu hamil yang dikira milik Anka, atau nasi yang ia semburkan ke wajah Anjas. Dirana meneguk air di gelas sampai tandas tanpa dia sadari. Gino menepuk-nepuk bahu cewek itu, lalu bergumam. “Di, itu airnya udah abis. Gelasnya kosong.” Dirana menurunkan pandangannya ke gelas, yang ternyata memang sudah kosong. Gino membantu Dirana menurunkan gelasnya. Cewek itu duduk tidak tenang, ia menggaruk tengkuknya. Dia meminta maaf pada Anjas yang masih ngomel-ngomel. “Lo nggak apa-apa, Di?” tanya Anka. Dirana menggeleng. “N-nggak,” katanya gugup. Anjas pergi membersihkan wajahnya ke kamar mandi. Setelah kembali dan duduk di antara yang lain. Anjas melirik Anka lagi, cowok itu menyeringai jail. “Jadi, sebenernya s**u ibu hamil itu punya siapa?” Sialan! Dalam hati Anka dan Dirana memaki Anjas bersamaan. *** Dirana bosan di dalam rumah saja. Tante dan dua Kakak sepupunya sedang pergi keluar entah ke mana. Dia jadi sendirian, penginnya jalan-jalan ke mana gitu supaya nggak suntuk. Ia menguap kecil, kakinya yang sejak tadi ia lipat di atas sofa itu ia turunkan dan pergi ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap pergi. Enaknya ke mana, ya? Ah. Sekarang kan lagi banyak film bagus di bioskop. Apa dia nonton aja ya? Tapi masa dia sendirian sih! Ketara banget kalau dia jones. Sembari mengancing kemejanya, Dirana menelpon Anka. Siapa tahu Anka lagi nggak sibuk kan, jadi dia ngajak Anka buat nonton sekaligus nemenin dia yang kesepian. Panggilan terhubung. Dirana buru-buru berseru riang. “Temenin gue nonton doooong!” Di dalam telepon, Anka bisik-bisik. “Gue lagi sama Mama mertua gue nih,” kata Anka pelan. “Lagi diajarin bikin kue. Sori ya, Di.” Enak yang punya Mama mertua.... “Ya udah deh!” Dirana mendesah kecewa. “Ntar kalau kuenya udah jadi, gue kirimin ya.” “Haha. Iya. Daaah.” Panggilan pun terputus. Dirana mengantongi ponselnya ke dalam saku celana jinsnya. Anka nggak bisa. Mau ngajak Anjas, ntar malah bahas-bahas s**u ibu hamil lagi. Ngajak Gino? Jangan deh, sebelum lo ngajakin Gino, lo udah dia pelototin duluan. Ah! Apa ngajakin Kasa aja, ya? Nggak. Nggak! Yang ada dia bukannya nonton, malah diajak lari marathon karena Kasa yang dikejar-kejar sama penggemarnya! Kasa artis terkenal tsay, susah jalan sama artis. Gibran. “s**t!” Dirana mengumpat. Nama Gibran tiba-tiba saja muncul. Dirana menggeleng keras, cepat-cepat dia menarik tas selempangnya dan pergi sebelum pikirannya semakin melayang ke mana-mana. Kurang dari satu jam Dirana sudah sampai ke salah satu mal. Dia sendirian tsay, nggak ada yang nemenin. Jalan sendirian udah kayak anak ilang. Dirana mainin tali tasnya sambil menoleh ke kanan ke kiri mirip anak remaja yang nggak pernah dibolehin keluar sama temen-temennya. Dirana masuk ke dalam gedung bioskop. Suasananya rame, orang-orang berdesakan saling mengantre tiket bioskop. Kalau dilihat-lihat, mereka nggak sendirian. Sama pasangannya. Sedih nggak sih, jones kayak dia ada di antara para muda-mudi yang nggak malu buat gandengan atau saling peluk-pelukan gitu. Masuk nggak, ya? Film horor ya kebanyakan? Dia benci film horor! Penginnya nonton yang manis-manis, yang bisa bikin dia cengar-cengir kayak Natusha yang suka heboh nonton drama korea. Ah! Bego sih, kenapa baru kepikiran Natusha sekarang? Dia udah sampe sini, tapi baru inget sekarang. Tuh bocah lagi ngapain ya.... “Lo lagi! Lo mulu!” Seseorang berseru di belakang Dirana. Laki-laki itu berdecak, wajahnya langsung masam waktu menyadari itu adalah Dirana, mahluk yang paling menyebalkan di dunia ini. Di mana-mana selalu ada Dirana. Nggak di rumah Gino, pas di rumah sakit waktu itu, sekarang malah di bioskop. “Capek gue liatin lo terus,” kata Gibran sinis. “Ya nggak usah diliat sih! Ribut bener lo,” Dirana membalikkan badan. “Heran, nih orang kenapa selalu muncul di mana-mana!” “Lo kali!” Gibran dan Dirana saling memunggungi. Kedatangan mereka ke sini kan ingin menghibur diri, bukannya buat ketemuan. Apalagi sampe adu mulut. Ini bioskop, Gib. Bioskop. Bukan rumah Gino. Jangan sampe bikin keributan di sini cuma karena mulut pedes Dirana. Omong-omong soal Dirana, beberapa hari yang lalu dia sempet ketemu sama Dirana di rumah sakit. Kebetulan Gibran mau jenguk salah seorang temannya yang sesama dosen yang dirawat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan motor. Waktu Gibran mau masuk ke dalam lift, dia lihat Dirana di sana sendirian. Karena Gibran sama Dirana nggak pernah akur, jadi Gibran biarin ajalah. Ogah bener mau nyapa-nyapa. Ntar mereka ribut lagi. Segerombolan remaja datang dari arah kanan Dirana saling dorong-dorongan, bercandanya khas anak jaman sekarang. Mereka ketawa-ketiwi, haha-hihi tanpa mempedulikan di sana banyaklah orang, sesak, penuh sama orang-orang yang mengantre tiket bioskop. Dirana sibuk dengan handphone di tangan, matanya memandangi layar handphone-nya yang menyala terang. Nggak jelas apa yang sedang dipandangi. Di layar handphone-nya cuma munculin foto dia sama keluarganya. Dirana merindukan kehangatan keluarganya. Kangen sama nasihat papanya, masakan mamanya. Kalian nggak tahu gimana sedihnya Dirana waktu dia lagi ngidam, terus nggak bisa masak. Coba kalau ada mamanya, pasti dia bisa manja-manjaan, minta dimasakin ini-itu. Nggak kayak sekarang ini. Pengin ini, dia beli, pengin itu, beli juga. “HAHAHA!” Salah satu cewek remaja dari gerombolan tadi tertawa keras kemudian mendorong bahu temannya. “LO SIH, BEGO!” katanya yang belum berhenti mendorongnya. “KOK GUE?” Temannya itu balas mendorong, lebih keras. Dirana yang ada di samping persis pun nggak sengaja kena dorong salah satu cewek itu. Perut Dirana kena sikut agak kuat. Tubuh Dirana terdorong ke belakang sampai mengenai punggung Gibran yang masih berdiri di sana. Gibran terkejut, kemudian membalikan badan memegangi bahu dan lengan Dirana. Cewek itu meringis, menggigit bibir bawahnya menahan sakit pada bagian perutnya. Wajah Dirana dibasahi oleh keringat serta pucat. Gibran memandangi Dirana sebentar, lalu menatap gerombolan remaja tadi yang kelihatan ketakutan. Mereka saling salah-salahan, padahal bercandanya barengan. “Sori, Om. Sori.” OM? Gibran mendelikan matanya. Enak aja panggil-panggil Om. Sejak kapan Gibran nikah sama tante mereka? Dasar anak-anak nakal. Takut mereka digunduli sama Gibran yang udah pasang muka garang. Mereka pun pergi, samar-samar Gibran mendengar celotehan para remaja itu. “Galak ya, omnya,” bisik salah seorang dari mereka. “Cakep anjir!” seru temannya yang berambut sebahu. “Gue rela dapet yang tuaan, tapi cakepnya kayak Om yang tadi!” “YEEEE!” seru teman-temannya sambil menjitaki teman mereka yang sejak tadi nggak kedip lihat Gibran. “Perut gue, sakit,” Dirana memegangi perutnya. Digigitnya bibir bawahnya menahan sakit. “Dasar bocah!” maki Dirana kesal. “Lo juga bocah kali!” sindir Gibran tersenyum sinis. “Tahu deh yang udah bangkotan!” dengus Dirana yang tak kalah sinis. *** Dirana bukan anak-anak lagi, kenapa dibawa ke sini? Ke taman bermain? Jadi, ceritanya mereka nggak jadi nonton. Bukan karena kehabisan tiket, atau males mengantre tiket. Tapi, ini ulah Gibran! Laki-laki itu menggeretnya keluar dari biokop dengan alasan kalau mereka nggak bakal kebagian tiket karena bioskop lagi penuh-penuhnya emang. Gibran mengajak Dirana ke taman, lihatin anak-anak main di sana. Mereka lucu-lucu ya, apalagi anak-anak cewek yang rambutnya bisa dikuncir model apa aja. Dirana jadi gemes sendiri. Nggak sabar kalau nanti anaknya bakal lahir. Cewek atau cowok? Kalau cewek, anaknya harus mirip dia pokoknya! Kalau anak cowok.... Sontak Dirana menoleh ke samping. Gibran duduk di sampingnya, pandangan mata laki-laki itu terarah lurus sesekali tersenyum manis. Nggak, ya! Kalau anaknya cowok nggak boleh mirip Gibran! Nggak! “Jangan mirip bapak moyangmu ya, Nak...” bisik Dirana mengelus perutnya. “Bapakmu kan kayak saljunya kulkas. Keras!” “Bisik-bisik apa lo?” seru Gibran melihat keanehan Dirana. “Ngomong sendirian kayak orang gila.” “MASALAH BUAT ELO?” Dirana malah ngegas. Cewek itu melengos. Dia mengarahkan pandangannya ke arah tempat anak-anak bermain. Seorang bocah perempuan berjalan sendirian sambil makan es krim. Dirana memandanginya lama, tuh bocah kalau makan kayaknya enak bener. Jadi pengin kan.... “Pengin itu...” Tanpa sadar tangan kanan Dirana menunjuk es krim yang dipegang bocah perempuan itu. Tangan kirinya ia eluskan di perutnya. “Kayaknya enak...” gumamnya pelan. Dia menunduk, memandangi perutnya. Gibran mengikuti tangan Dirana menunjuk, lalu beralih ke wajah Dirana yang memelas mirip anak kecil yang merengek minta dibeliin permen. Gibran mengernyitkan dahi, bocah perempuan itu ikut memandangi Dirana dengan pandangan super bingung. “Ante mau es kim?” tanya bocah perempuan itu lucu. “He-eh. Maaau.” Kepala Dirana manggut-manggut. Bocah kecil itu tertawa cekikikan. Ujung bibirnya belepotan es krim. “Beli cendili doooong! Weeeek!” Dirana terbengong, kirain tuh bocah mau ngasih dia es krimnya, tapi yang ada dia malah diledekin. Dirana cemberut, Gibran menertawainya. Puas menertawakan Dirana. Gibran diam sejenak, ditatapnya cewek itu. “Lo mau makan es krim?” tanya Gibran. “Emang lo mau beliin?” Dirana malah tanya balik. Gibran berdiri dari bangkunya. “Oke. Lo mau rasa apa?” Wajah Dirana langsung sumringah. “Mau stroberi!” Gibran mengangguk, kemudian pergi meninggalkan Dirana. *** GIBRAN SIALAN! Sampai di rumah Gino, Dirana marah-marah, terus buang semua bantalan di sofa karena dia dikerjain sama Gibran. Katanya mau beliin es krim, nggak tahunya dia malah ditinggal pulang. Dirana noleh ke kanan ke kiri mandangin orang-orang yang mulai pergi karena cuaca yang mendung. Dia udah bayangin gimana enaknya makan es krim, lembutnya es krim nyentuh lidahnya. Dirana nungguin Gibran sampe jam enam lho. Iya, jam enam. Hebat kan Gibran bikin Dirana nunggu selama itu? “Nah! Ini orangnya,” teriak Anjas saat membukakan pintu. Gibran menautkan kedua alisnya. “Kenapa?” Anjas berdiri menyamping memberikan Gibran jalan masuk ke dalam. “Gara-gara lo, rumah kayak kapal pecah.” “Gue aja baru dateng,” gumam Gibran. “Suara apa sih ribut-ribut?” Anjas manyun. “Dirana.” Gibran memutar bola matanya. Sama sekali kelihatan nggak ada rasa bersalah gitu. “Tuh anak kenapa lagi?” “Lo sih,” Anjas menutup pintu kembali. “Lo tadi janji beliin dia apa sih? Ke sini dia nyariin lo, sambil ngamuk-ngamuk.” “Nggak ada.” Gibran menggeleng. “Gue nggak janji beliin apa-apa.” “Masa?” Anjas menatap tak percaya. Gibran jalan santai dong, dia sama sekali nggak merasa mau beliin Dirana es krim. Dia kan cuma tanya aja tadi, “Lo mau makan es krim?” Ada yang salah? Mana ada kata-kata mau beliin? “Bagus!” Dirana melihat kedatangan Gibran. “Abis ninggalin gue kayak orang bego, lo ke sini masih bisa pasang muka datar lo itu.” Dirana marah-marah, kalap kayak orang kesurupan. “Jahat banget sih lo!” Kemarin karena ayam goreng, dia disuruh muntahin lagi. Sekarang, dia dibilang jahat cuma karena es krim. Maunya apa sih? Sekarang bukan hanya marah-marah. Dirana udah nangis, sampe kejer gitu. Bahunya bergetar naik-turun karena nangis. Ini anak kelakuannya emang ajaib! “Gue nungguin lo tahu,” isak Dirana. “Sampe jam enam di sana, gue kehujanan cuma buat nungguin lo dateng bawa es krim. Kalau lo nggak mau beliin itu bilang, gue kan bisa beli sendiri tanpa harus nungguin lo.” Dirana mengusap wajahnya kasar. Anjas sampe terbengong-bengong. “Lo nggak tahu gimana tersiksanya gue kalau lagi ngidam sih....” katanya tanpa sadar. “Bahasa lo, Di. Udah kayak orang hamil aja!” tawa Anjas. “Bentar, lo bilang apa barusan? Ngidam?” Gibran terkejut. “Lo ngidam?” “Ya ampun, Bang,” seru Anjas. “Dirana kan suka ajaib. Itu kan cuma istilah dia sendiri. Doyan sih doyan aja, Di! Pake bilang ngidam segala!” “Di! Di! Dirana!” Gibran menyerukan nama Dirana ketika cewek itu pergi begitu saja. “Lah, dia pergi.” Anjas mendecakan lidah sembari menggelengkan kepalanya. *** Tanpa diduga, Gibran menyusul Dirana keluar dari rumah Gino. Laki-laki itu mengejar Dirana lalu menarik cewek itu masuk ke dalam mobilnya. Cewek itu masih menangis, terisak-terisak bercampur jengkel karena dibohongi Gibran soal es krim. Gibran bilang kan, dia nggak ada niatan mau beliin es krim. Gibran cuma tanya doang. Tapi Dirana malah makin kenceng nangisnya. Gibran mengejar Dirana bukan hanya karena ingin meminta maaf, tapi ingin menanyak soal kata 'ngidam' yang sempat disebut Dirana tadi. Hati Gibran berdebar, dia takut untuk menanyakan hal itu. Kalau dia tanya, pasti Dirana akan semakin marah. Mereka sudah sepakat, tidak akan membahas lagi soal apa yang terjadi di antara mereka. Maka dari itu, Gibran berniat mengantarkan Dirana pulang ke rumah tantenya. Dirana hanya diam, ia membuang pandangannya ke kaca mobil yang terbuka. Gibran menghentikan mobilnya tepat di sebuah mini market. Gibran turun tanpa menanyakan apa pun, Dirana menoleh dan tidak melihat Gibran di sampingnya. Dirana memandangi Gibran mendorong pintu kaca mini market lalu masuk ke dalam sana. Tidak berapa lama Gibran masuk kembali ke dalam mobil. Ia duduk di samping Dirana, membuka kantong plastik putih kemudian ia keluarkan isinya. Indera penciuman Dirana jadi tajam sejak hamil. Padahal es krimnya belum dibuka bungkusnya, aromanya udah sampai ke hidungnya. Waktu Dirana melihat ke samping, dengan telaten Gibran membuka bungkus es krimnya kemudian ia berikan pada Dirana. “Nih, lo makan,” katanya dengan wajah biasa-biasa aja, nggak ada manis-manisnya sama sekali. “Katanya lo mau es krim,” Gibran menarik tangan Dirana. “Abis makan, ntar gue anterin lo pulang.” Dirana menerimnya malu-malu. Dia gengsi kali! Abis marah-marah, terus disodorin es krim langsung kicep. Murah amat harga dirinya, astaga. Dirana memandangi es krim di tangannya. Gibran jadi ikut-ikutan mandangin es krim di tangan Dirana. “Kenapa?” tanya Gibran. Dirana menggigit bibir bawahnya. “Lo makan dulu es krimnya,” gumamnya lirih. “Eh?” “Lo gigit es krimnya dikit aja...” Dirana menyodorkan es krimnya ke bibir Gibran. “Gigit buruan! Ayo gigit!” Mending iyain aja deh ya, daripada ntar nggak diturutin, nangis lagi, ngerengek lagi. Gibran menggenggam tangan Dirana dan mengarahkan es krim itu ke dalam mulutnya. Cuaca lagi dingin, dia dijejelin pake es krim. “Udah nih!” Dirana cengar-cengir kesenengan. Setelah melihat bekas gigitan Gibran pada es krimnya, Dirana terlihat senang dan memakan es krimnya dengan wajah berbinar-binar. To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN