Karena s**u Ibu Hamil

2398 Kata
“Aku nolak perjodohan ini!” Satu kalimat meluncur dari bibir Kyla berhasil menghacurkan kebahagiaan Gibran yang baru dirasakannya sebentar. Hanya berselang beberapa menit ketika kedua orangtuanya menuturkan keinginan mereka untuk menjodohkannya dengan Kyla, sepupunya. Perempuan yang ia cintai sejak masa remaja, perempuan yang usianya tiga tahun lebih tua dari Gibran. Dari sorot matanya, cara Kyla menatap dirinya begitu tajam dan seolah meminta pembelaan. Ada juga tatapan kemarahan karena dengan seenaknya laki-laki itu menyetujui ide konyol kedua orangtuanya yang ingin menikahkan mereka berdura. Hah! Ini gila! Bagaimana bisa kedua orangtuanya berniat menikahkannya dengan Gibran, sepupunya! Baiklah. Kyla akui kalau Gibran laki-laki baik dan bertanggung jawab. Sering membantunya banyak hal, menjaganya ketika Kyla tinggal bersama keluarga Gibran beberapa tahun ini. Tapi, ayolah, ini hal yang sulit untuk Kyla. Bagaimana bisa ia menikah dengan sepupunya sendiri? Berbanding balik dari Kyla, Gibran terlihat senang. Saat mamanya bilang akan menjodohkan mereka berdua, Gibran menatapnya sambil tersenyum riang kemudian berseru dengan lancang. “Oke. Gibran setuju!” Kyla membelalakan matanya, buru-buru dia berdiri dan mengatakan hal yang sebaliknya. Kyla marah-marah kepada Gibran dan mengatakan kalau Gibran sangat egois. Harusnya laki-laki itu bertanya lebih dulu. Gibran menyusul Kyla sampai ke butiknya. Kyla masuk ke dalam ruangan lalu membanting pintu ruangannya keras-keras tanda ia benar-benar marah. “Lo gila, ya!” Kyla berseru menunjuk Gibran dengan satu jarinya. “Bisa-bisanya lo bilang setuju!” Perempuan itu membalikkan badan memandangi kaca besar yang mengelilingi ruangannya. Dari sana ia bisa melihat jalanan yang ramai dan padat oleh kendarana yang berlalu-lalang. Gibran mendesah, ia meletakkan satu tangan di pinggang. “Lo nggak mau coba jalanin dulu sama gue?” Gumaman Gibran sontak membuat Kyla berbalik menatap Gibran dengan sorot tajam. “Apa salahnya kalau kita coba dulu?” desah Gibran, nada suaranya terdengar putus asa. Kyla tersenyum sinis. “Nggak!” “Lo nggak akan tau hasilnya kalau lo sendiri nggak mau coba, La,” desis Gibran menahan tinggi suaranya. Kyla tidak menjawab. Ia berjalan melewati Gibran yang berdiri tidak jauh dari meja kerjanya. Ketika sampai di depan pintu ruangan, Kyla membuka pintu tersebut lebar-lebar. Tangan kirinya menunjuk keluar lalu berseru. “Keluar.” Gibran tercenung. “Silakan keluar!” Kyla mengulanginya sekali lagi dengan menambahkan satu kata, 'silakan'. Harusnya Gibran menyadari kalau Kyla tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang sepupu. Kyla memang orang terdekatnya, tapi kemungkinan perempuan itu menerimanya, seperti hal yang mustahil. Kyla menolaknya. Dua kata itu seolah mengingatkan dirinya, bahwa, Kyla menolaknya mentah-mentah. Apa ini tidak terlalu kejam? *** Dirana ingin menjawab pertanyaan yang selalu muncul di dalam pikirannya. Yang terus memerangi dirinya sendiri sejak beberapa hari yang lalu. Jawaban yang selalu ia hindari, ia takuti kalau itu sampai benar-benar terjadi. Mulai dari tanda-tanda kehamilan-yang sebenarnya tidak ingin ia terka-terka terus menerus. Belum lagi kata-kata Ibu pemilik depot bakso yang ia datang beberapa hari yang lalu-mengatakan kalau bentuk tubuhnya terlihat seperti orang yang sedang hamil. Belum lagi acara muntah-muntah di pagi hari, nafsu makannya yang kian menurun dan aroma yang sering kali membuat penciumannya menjadi lebih sensitif. Dirana menunduk memandangi kedua kakinya yang terbungkus sepatu berwarna putih dengan kombinasi kuning keemasan. Dirana menarik napas dalam-dalam lalu ia embuskan. Kepalanya ia angkat menatap gedung rumah sakit yang menjulang tinggi di depannya. Ia kemari untuk memastikan, sekali saja, setelah ia tahu hasilnya, ia tidak akan kemari lagi. Ia akan pastikan, kalau asumsi orang itu salah, dan Dirana tidak hamil. Dirana melangkah masuk sembari merapatkan jaket jins yang membalut tubuhnya. Dirana masuk dengan hati berdebaran. Dirana menepuk-nepuk dadanya berusaha menenangkan debaran jantungnya yang semakin menggila. Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja dan semua itu salah. Haha. Benar, kan? Kejadian itu hanya terjadi sekali. Bagaimana dia bisa hamil. Iya, kan? “Ibu Dirana.” Seorang suster keluar memanggil nama Dirana. Dirana bangkit dengan kaku. Kakinya terasa sulit untuk ia gerakkan. Suster menuntunnya masuk ke dalam ruangan dokter. Tiba-tiba saja tubuhnya basah oleh keringat. Buliran bening itu berjatuhan dengan cepat dan deras. Tangan Dirana terasa dingin, ia menarik napas sebentar, ia akan berusaha tenang. “Mari...” Suster tersenyum membantu Dirana melangkah. *** Akhir-akhir ini Dirana lebih banyak diam ketimbang mencerocos kayak biasanya. Hobinya jadi sering melamun. Ngelakuin apa aja selalu kacau. Contohnya kayak kemarin waktu Anka mengajari Dirana memasak di rumah Gino. Anka memberi interupsi ini-itu, Dirana mengangguk-angguk. Disuruh masukin garam, malah gula yang dimasukin. Mana banyak bener lagi. Alhasil, semua masakannya manis. Kasa yang biasanya jadi juru icip-icip langsung muntah-muntah karena penyanyi yang lagi banting setir jadi aktor ini paling anti sama makanan dan minuman yang manis. Kasa sampe deman dua hari lho gara-gara masakannya Dirana. Bukan hanya masakan, tapi juga bikin anak tetangga di kompleks Gino nangis karena Dirana yang jalannya sambil ngelamun. Udah nggak sengaja kena tendang, kena tampol juga. Kebetulan, anak tetangga Gino ini kepalanya pelontos, modelannya mirip tuyul kayak di sinetron-sinetron horor nggak jelas gitu. Sampe tuh anak kecil nangis, pegangin kepalanya, Dirana masih nggak paham. Dia cuma mandangin Anjas yang memang lagi barengan sama dia. Anjas cuma geleng-geleng, terus ngeluarin uang sepuluh ribuan. Dasar bocah kampret! Tuh bocah langsung diem waktu disodorin uang. Bahagia bener kayaknya. Mereka lagi kumpul bersama di rumah Gino, udah kayak nggak ada tempat lain selain di sana. Rumah Gino udah mirip rumah penampungan. Mau senang, sedih, jengkel, kesel, lagi jatuh cinta, sampe putus cinta mereka pergi ke rumah Gino. Ini gara-gara Ario sama Sachi dulu nih, pas jaman-jamannya hubungan mereka gantung kan nongkrongnya di sana, sampe nginep juga. Yang lainnya jadi ikut-ikutan kan! Suasana jadi sepi. Nggak kayak biasanya yang rame sama suara melengking Dirana, atau sindiran sinis Gibran. Dua mahluk itu saling diam, nggak ada tuh yang namanya sindiran, saling ejek-mengejek. Adem-ayem aja gitu. Serba salah ya, kan, giliran Dirana sama Gibran sibuk berantem, adu mulut, mereka protes. Gibran sama Dirana saling diam-diaman, mereka malah merengut. Noleh ke kanan ke kiri kayak lagi nyari pacar yang ilang. “Jangan-jangan mereka jodoh,” bisik Kasa di samping Anjas. Anjas langsung noleh. “Mereka denger, digebukin, mampus lo!” “Ck!” Kasa berdecak, “Mereka kan suka adu mulut, diem aja barengan,” kata Kasa sambil menyangga dagunya menggunakan tangan kanannya. “Lo tahu mereka kenapa?” tanya Kasa berbisik pelan. Anjas menaikan satu bahunya acuh. “Mana gue tahu!” Kasa cuma mendengus, dia mainin bibirnya dengan sengaja di depan Anjas. Gibran memakan makanannya sambil melamun. Yang lain asik sendiri, apalagi Jona sama Anka yang sibuk suap-suapan, bercanda, ketawa barengan. Dirana memandangi kedua temannya itu. Anka beruntung. Gumamnya dalam batin memandangi Anka sembari tersenyum. Anka memang tidak memiliki siapa pun, cewek itu yatim-piatu, sempat mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari keluarga tantenya. Tapi, Anka beruntung mempunyai Jona. Di usianya yang muda, Anka sudah menikah, mempunyai suami yang baik, pengertian seperti Jona. Ah, andai saja Dirana bisa menemukan kebahagiaan seperti Anka.... “Bang! Bang!” Anjas menarik-narik lengan Gibran yang mengambil ayam goreng terakhir di piring. Anjas kan udah ancang-ancang tadi, takut keduluan sama Kasa. Malah Gibran yang ngambil. “Ayam goreng gue,” katanya dengan wajah memelas. Dirana meneguk ludahnya kasar. Ia memandangi ayam goreng di tangan Gibran. Laki-laki itu menggigit ayam gorengnya kelihatan malas, nggak berselera. Tapi, kenapa di mata Dirana kayaknya tuh ayam goreng enak banget. “Duh, Nak, jangan aneh-aneh ya,” Dirana setengah menunduk, diam-diam ia mengelus perutnya yang masih rata. “Jangan bilang karena itu dipegang sama bapak moyangmu, ya!” Dirana bergumam jengkel sendiri. Gibran juga kayak sengaja makannya pelan-pelan. Bikin Dirana makin kepengin kan. Dirana mengusap ujung bibirnya, hampir saja air liurnya menetes. Anjas tidak berhenti mengoceh karena sekarang ini Gibran hanya meninggalkan tulang ayamnya saja di atas piring. Mata Dirana berkaca-kaca. Mau ayam gorengnyaaaa, tapi kenapa diabisin? Samar-samar Anka mendengar suara isakan Dirana di sampingnya. Dia yang sudah lebih dulu makan jadi fokus ke Dirana yang ternyata sudah menangis sambil memandangi tulang ayam di atas piring. Anka mengerutkan dahi, ia menyentuh lengan Dirana, kemudian bertanya heran. “Lo nangis? Kenapa?” Semuanya pada noleh ke Dirana. Terutama Gibran. Tatapannya tuh dingin. Sama sekali nggak bersahabat. Dirana menunjuk-nunjuk piring kosong hanya diisi tulang ayam bekas makanan Gibran. Sambil menangis, Dirana memarahi Gibran. “Kenapa gue nggak disisain? Kenapa dimakan semua ayamnyaaa!” “Lo nangis cuma karena ayam goreng?” Gibran mengambil tulang ayamnya kemudian ia angkat tinggi-tinggi. “Kalau iya, kenapa!?” Dirana bangkit berdiri lalu meletakkan kedua tangan di pinggang. “Kalau doyan tuh bikin sendiri, jangan lo makan semua!” Gibran mendesah panjang. Dia kemari untuk berkumpul dengan teman-temannya. Makan malem bareng, ngilangin stres setelah Kyla menolak acara perjodohannya beberapa waktu lalu. Sampai sini, dia malah dimarah-marahin cuma karena ayam goreng? Yang bener aja! “Pokoknya gue mau makan ayam goreng!” Brak. Brak. Dirana menggebrak meja makannya. Masih sambil menangis, Dirana berseru dengan suara serak. “Muntahin ayam gorengnya! Muntahin!” Gino, sebagai tuan rumah, yang lebih sering diemnya ketimbang ikutan gila kayak yang lain sekarang jadi berdiri dan berusaha melerai Gibran dan Dirana. Sejujurnya dia lelah melihat adegan semacam ini. Setiap para kunyuk ini ada di rumahnya, pasti bikin dia pusing. Entah itu suara teriakan Dirana dan Gibran yang sedang adu mulut, atau suara Kasa dan Anjas yang tertawa keras waktu klub sepak bola favorit mereka berhasil memasukan bola ke gawang. Boleh Gino ikutan teriak nggak, sih? “MUNTAHIN! MUNTAHIN POKOKNYA!” Dirana teriak-teriak, sampe nangis kejer gitu. Gibran tuh sering berantem sama Dirana. Entah itu karena sindir-sindiran, atau saling ejek-ejekan karena hal sepele. Masih wajar-wajar aja gitu. Lah, ini, Dirana marah-marah sama Gibran cuma karena dia makan ayam goreng, apalagi pake acara disuruh muntahin. Gimana caranya? “MUNTAHIN!” Gibran mendesah panjang, kemudian berseru kencang. “IYA! IYA! GUE MUNTAHIN!” Yang lain pada melongo. Mereka kompak menatap Gibran, Dirana langsung berhenti nangis. “TAPI, EMANGNYA LO MAU MAKAN LEPEHAN GUE HAH!?” “HUAAA.” Dirana memegangi perutnya. Dia memejamkan matanya sambil menjerit. “NGGAK MAUUU.” Lah, ini anak maunya apa sih? Anjas melengos, dia nepuk-nepuk bahu Kasa mengajak cowok itu pergi ke ruang tivi menonton acara pertandingan bola, ketimbang harus mendengarkan Dirana menangis cuma karena ayam goreng. “Ke kamar aja yuk,” kata Jona menggandeng Anka meninggalkan meja makan. “Sinting!” Gino mencibir pelan. Dia ikutan pergi kayak yang lain. “KOK GUE DITINGGALIN SIH!?” Dirana memandangi teman-temannya yang pergi. Dia cuma berduaan doang sama Gibran sekarang. “HUAAA. AYAM GOREEENG!” “ASTAGA!” Gibran menepuk keningnya pelan. Dia duduk lagi di kursinya menatap Dirana jengkel setengah mati. *** Minggu pagi, Dirana sudah muncul di rumah Gino, membangunkan semua penghuni rumah termasuk Anka. Nggak kayak kemarin-kemarin sering melamun, sekarang ini Dirana kelihatan lebih ceria, wajahnya sumringah. “Boleh masakin gue sayur bayam sama ikan goreng nggak?” tanya Dirana saat Anka membuka pintu kulkas. “Yah, bahan masakan udah abis. Gue harus belanja dulu, Di.” Anka menunjuk isi kulkas yang hanya terisi botol minuman. “Nggak apa-apa deh. Kalau perlu lo belanjanya sama gue,” kata Dirana mengekor di belakang Anka keluar dari dapur. “Mau ya, An? Please?” Dirana menangkup kedua pipinya sendiri, matanya berkedip lucu. Anka tersenyum kecil. Ia pun mengangguk. “Iya. Iya.” “Jangan lupa sambelnya, An!” “Siap!” *** Sekarang ini mereka ada di sebuah supermarket untuk berbelanja. Lebih tepatnya Dirana menemani Anka berbelanja bulanan. Isi kulkas sudah kosong, satu buah telur pun nggak dia temukan di dalam kulkas. Cuma ada botol-botol air minum, itu pun banyak yang kosong. “Gue ke sana dulu ya, lo tunggu di sini aja.” Anka pergi menuju tempat ikan dan sayur. Dirana berdiri sambil memegangi troli. Dia memandang ke sekelilingnya, dan Dirana baru menyadari kalau dia ada di dekat rak s**u ibu hamil. Dirana terdiam untuk beberapa saat, matanya menjelajahi ke sekelilingnya. Ada beberapa pasang suami-istri yang juga ada di sana. Masalahnya gue sendirian.... Dirana refleks memegangi perutnya. Rasanya sedih kalau melihat pasangan suami-istri yang tampak mesra. Dia sedih bukan karena dia jomblo, tapi karena dia harus sendirian di saat dirinya sedang hamil. Dia sering terbangun tengah malam hanya karena ngidam, pengin ini dan itu nggak tahu sikon. Masa ya, kemarin nih dia kebangun cuma karena pengin cium bau masakan. Apa pun masakannya, pokoknya Dirana pengin cium aroma masakan gitu. Dirana pun bangunin Kakak sepupunya yang jago masak, karena dia nggak bisa masak, dia minta Kakak sepupunya untuk masakin sesuatu dengan alesan lapar. Karena Kakak sepupunya baik, tanpa protes Dirana pun dimasakan. Cuma nasi goreng sama telur mata sapi. Tapi, pas masakannya udah selesai dibuat. Dirana malah nggak mau makan. Katanya dia udah kenyang cium aroma masakannya doang. Kakak sepupunya sampe bengong. Susahnya jadi ibu hamil, banyak maunya. Mana aneh-aneh lagi.... Dirana mengelus-elus perutnya. Yang sering dia pikirin bukan hanya kehamilannya yang tanpa seorang suami. Tapi bagaimana saat usia kandungannya sudah semakin tua, dan dia tidak bisa menutupinya lagi dengan alasan lain. *** Jona membantu Anka membongkar belanjaannya sambil memasukan beberapa bahan makanan ke dalam kulkas. Sewaktu Jona membuka kantong plastik yang lain, Jona menemukan sekaleng s**u khusus ibu hamil. Jona mengernyitkan dahi. s**u ibu hamil milik siapa ini? Anka masuk ke dalam dapur setelah berganti pakaian yang lebih santai. Kaus oblong serta celana panjang berbahan kaus. Tidak lupa rambutnya diikat ke atas supaya nggak gerah. Waktu dia masuk ke dapur, Jona menatapnya bingung. Di tangan suaminya itu ada sekaleng s**u. Anka membacanya pelan. Di saat yang bersamaan Gino dan Anjas masuk ke dapur. Niatnya sih mau bikin mi kuah karena udah kelaperan sejak tadi, nunggu Anka masak kan agak lama. Jadi, Gino menyuruh Anjas masak mi instan buat ganjel rasa lapar mereka. “Itu kan s**u buat ibu hamil,” gumam Anka terkejut. “Kamu buat apa beli itu sih, Jo?” Jona menyipitkan matanya. “Lah, malah aku yang mau tanya sama kamu, An,” kata Jona bingung. “Kamu ngapain beli s**u ibu hamil? Kamu nggak lagi hamil, kan? Aku belum apa-apain kamu lho!” Sontak saja Gino dan Anjas menoleh ke Anka yang kelihatan salah tingkah. Mereka nikah hampir setahun lho, jadi, Anka belum diapa-apain sama Jona, nih? “Jona!” Anka mengentakkan kakinya. “Oh....” Anjas menggoda sepasang suami istri di depannya. “Belum diapa-apain, terus, selama ini lo berduaan di kamar ngapain aja? Main karambol doang?” Gino yang biasa pasang muka datar langsung ketawa geli. “Yang jomblo diem aja!” Anka berseru sinis. “Jadi ini s**u ibu hamil siapa?” tanya Jona polos. “An... Anka?” “NGGAK TAHU!” kata Anka yang langsung pergi begitu saja. To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN