Tanda-Tanda Kehamilan

2658 Kata
Menikmati udara di sore hari, Dirana memaksa Gino serta Anjas menemaninya pergi ke taman. Katanya sih pengin duduk-duduk santai sambil menikmati udara sore, jalanan yang basah karena hujan siang tadi.   Kalau buat Dirana, Gino dan Anjas tidak akan menolak. Adanya Dirana seolah menjadi pengganti Sachi di antara mereka. Oh, jangan beranggapan kalau Gino dan Anjas sudah nggak sayang sama Sachi. Bukan. Nggak sama sekali. Sachi ya, Sachi. Dirana ya, Dirana. Sejak menikah, Sachi jadi jarang berkumpul dengan mereka. Ya dimaklumin sih... Sachi kan sudah ada suami, nggak mungkin bisa sebebas dulu. Biarpun Ario nggak pernah melarang kapan pun Sachi pergi dengan mereka berdua, tapi tetap saja, itu nggak baik. Apa kata orang kalau sampai tau, Sachi sering pergi ke sana kemari sama teman lelakinya? Pasti pikiran orang tuh menjurusnya yang nggak-nggak.  Mending kalau dibilang cuma keluyuran doang. Lah, kalau dituduh yang nggak-nggak. Gimana? Misalnya, Gino atau Anjas dikira selingkuhan Sachi? Kan nggak enak juga. Ario tuh orang baik. Bukan hanya sosok suami yang menjaga dan mencintai Sachi-teman mereka sepenuh hati. Tapi, bagi Gino dan Anjas, Ario sama seperti Kakak untuk mereka berdua. Jadi nggak mungkin salah satu dari mereka mengkhianati Ario, kan? Mengkhianati Ario. Dua kata yang pernah diucapkan Anjas waktu mereka bercanda itu menjadi bayang-bayang di kepala Gino. Mau tidur, makan, sampe mau ke kamar mandi juga dua kata itu berulang-ulang, seperti hapalan yang ia sengaja. Apa ini bisa dibilang sebagai pengkhianatan? Boleh Gino menyebut dirinya sebagai orang yang tidak tau diri? Dia menyukai sahabatnya. Ah. Bukan hanya menyukai. Tapi mencintai Sachi, sejak awal, bahkan sebelum mereka berteman. Gino membungkuk memandangi foto di layar ponselnya. Dirana pergi bersama Anjas entah ke mana. Gino tersenyum kecut, jari-jari panjangnya mengusap layar ponsel yang memperlihatkan foto dirinya bersama Anjas dan juga Sachi. Sejak kapan ia menyukai Sachi? Jawabannya, Gino tidak tau. Perasaan itu ada begitu saja. Mungkin, saat pertama kali Sachi melihatnya tanpa sengaja di kampus. Itu sudah lama, bahkan Sachi belum memulai hubungannya bersama Mika, mantan kekasih Sachi di kampus dulu. Di masa-masa dulu, ketika status mereka hanya sebagai orang asing. Gino bukanlah pemuda baik-baik. Minum-minuman, main perempuan, bahkan sampai ke s*x bebas pun pernah Gino lakukan. Ini semata-mata untuk melampiaskan apa yang ia pendam selama ini. Permasalahan yang tidak ada satu orang pun tau. Hanya Gino. Hanya dirinya yang tau. Sampai suatu hari ia nekat mengerjai Sachi. Mengundang gadis itu ke sebuah klub. Dengan gilanya, Gino mencekoki Sachi sampai gadis itu tidak sadarkan diri. Kalau saja... kalau saja saat itu Ario tidak datang dan menghajar dirinya dan teman-temannya, mungkin sesuatu yang buruk terjadi pada Sachi. Gino memang berengsek! Untuk mendapatkan yang ia mau, ia melakukan banyak hal. Termasuk hal menjijikan! Bisa-bisanya ia berpikiran untuk memperkosa Sachi? Hah! Mengingat itu membuat Gino marah pada dirinya sendiri. Yang lebih membuatnya menyesal lagi, Sachi tidak marah atau pun menaruh dendam terhadap dirinya. Gino jadi merasa bersalah, apalagi saat Sachi dan Anjas menyelamatkan dirinya dari tindakan bodohnya. Yaitu, bunuh diri. Iya. Gino hampir melompat dari atap gedung kampus. Kalau Sachi tidak datang, dan Anjas tidak menariknya sampai keduanya jatuh. Mungkin sekarang tubuh Gino sudah ditimbun oleh tanah. Gelap, dan sendirian. Gino sempat membantah, ia mengelak kalau ia tidak melakukan bunuh diri. Padahal kenyataannya? Karena kebaikan dan ketulusan hati Sachi, Gino luluh. Ia membuang pikiran kotornya selama ini dan merubah dirinya secara perlahan, ia ingin berubah menjadi orang yang lebih baik. Yang pantas ada di samping gadis itu. “Kayaknya lo nggak pernah bosen liatin tuh foto.” Anjas mengempaskan bokongnya di atas bangku kayu. Ia membuka bungkus es krim di tangan. “Ah.. Gue jadi kangen sama kuaci. Tuh anak udah jadi istri orang aja. Padahal dulu dia pernah bilang kalau dia nggak mau nikah sebelum cita-citanya terwujud.” Kenang Anjas mengingat ocehan Sachi beberapa tahun yang lalu. Gino tersenyum samar, tapi matanya masih terarah pada layar ponsel. “Jodoh nggak ada yang tau," gumam Gino. “He-eh.” Anjas manggut-manggut setuju. “Mana jodohnya sama Kakek muda lagi!” Pemuda itu terkekeh geli. “Nggak liat apa dia, punya dua teman cakep. Malah milih Kakek muda.” katanya diiringi nada bercanda. Gino menegakkan punggungnya kemudian menoleh. “Gue bilangin Om Ario, mampus lo!” ancam Gino. “Gue bercanda sih. Lo seriusan amat jadi orang.” Anjas menyesap es krim dengan varian rasa melon. Sengaja dia beli yang murah, nanti kalau Anjas sudah jadi artis terkenal kayak Kasa, dia bakal beli sama gerobak-gerobaknya sekalian. “Njas,” panggil Gino pelan. Anjas menggigit es krimnya sampai tersisa setengah. “Hm.. Kenapa?” “Lo pernah ngerasa suka sama Sachi nggak, sih?” Pertanyaan Gino membuat Anjas diam. “Kalian udah deket bertahun-tahun. Masa iya lo nggak pernah ngerasa suka gitu?” Anjas membuang stik es krimnya ke sembarang tempat. Ia menaikan satu kakinya lalu ia timpa ke kaki satunya lagi. Anjas mengelap sudut bibirnya, ia diam seperti memikirkan sesuatu. “Ngerasa suka sama Sachi, ya?” tanya Anjas. Gino mengangguk pelan. Anjas mendesis, kemudian bergumam. “Nggak sih. Nggak pernah kayaknya.” Anjas menggeleng. “Gue sama dia tuh udah kayak adek sama kakak. Gue tuh sayang banget sama kuaci. Tapi rasa sayang gue, ya, sebagai temen, sahabat. Nggak lebih dari itu.” “Kenapa? Sachi kan cewek yang baik. Polos. Jarang-jarang lo nemu cewek kayak Sachi.” Anjas berdecih. Ia berseru. “Di depan orang-orang aja dia polos. Kalau udah ngobrol sama gue... ada aja yang dibahas. Lebih ceplas-ceplos dan bebas.” “Jadi, sama sekali lo nggak pernah suka sama Sachi? Sedikit pun?” Gino menempelkan dua jarinya, wajahnya seolah menunggu jawaban Anjas. “Beneran.” Anjas memangku dagu dengan satu tangan. “Di mata gue, Sachi nggak lebih dari seorang temen dan adik.” Jawaban Anjas terdengar begitu mantap. Gino merenung, ia menyandarkan punggung di bangku taman sembari memikirkan jawaban yang keluar dari mulut Anjas. Kata orang, di dunia ini yang namanya berteman laki-laki sama perempuan itu nggak pernah ada, dan nggak pernah bisa. Tapi, buktinya Anjas bisa. Di antara Anjas dan Sachi memang pure sebagai teman, tidak ada kata spesial. Lalu, bagaimana dengan dirinya? Apa kata-kata, “Perteman di antara laki-laki dan perempuan itu tidak pernah ada, dan tidak bisa.” Itu hanya untuk dirinya? Dan tidak berlaku untuk Anjas? “Terus... gimana sama lo, Gi? Dulu ada gosip yang seliweran, katanya lo sempet naksir kuaci.” Gino terdiam. Dia mendadak bisu. “Beneran itu, Gi?” “Oh... itu,” “HUAAAA!” Gino dan Anjas saling pandang. Mereka mendengar tangisan bocah perempuan tak jauh dari mereka. Gino beranjak dan mencari keberadaan tangisan si bocah. Samar-samar, ia mendengar suara Dirana yang memanggil ia dan Anjas. “Duh. Duh, jangan nangis dong, Dek. Kakak balikin nih es krimnya, cup... cup...” “Lo ngapain, Di? Lo apain tuh anak orang?” Anjas berseru melihat Dirana kelimpungan mendiamkan seorang gadis kecil. “Kakak ini maksa makan es krim aku!” Gadis kecil yang kira-kira berusia enam tahun itu menunjuk Dirana tepat di hidung. “Kakak ini gigit es krim aku! HUAAAA.   *** “Maaf ya, Bu. Temen saya emang suka jail. Maaf sekali lagi.” Gino membungkukkan setengah badan sembari bergumam minta maaf pada orangtua gadis kecil tadi. “Maafin kakaknya ya, Dek.” Tangan Gino mengusap-usap pipi si bocah. “Jangan nangis lagi, ya..” Gadis kecil itu tersenyum sumringah ketika Gino mengusap pipi tembamnya. Gino menarik tangan Dirana lalu digerakkannya ke kanan dan kiri membalas lambaian tangan gadis kecil tersebut. Pluk! Dengan jailnya Anjas memukul kepala Dirana, memiting kepala gadis itu dengan tangan kekarnya. Dirana mengaduh, memukul tangan Anjas yang memiting kepalanya. “Jauh-jauh ngajak kita ke sini cuma buat anak orang nangis!” Anjas masih memiting kepala Dirana. “Untung aja mamanya tuh bocah baik, mau maklumin kejailan lo.” Dirana menggigit lengan Anjas kesal. Ia berhasil terlepas, sambil menggosok lehernya, Dirana menggerutu. “Gue cuma pengin nyicip es krim tuh bocah dikit aja. Eh, malah nangis.” “Beli sendiri kan bisa," sahut Gino dingin. “Nggak pake bikin nangis anak orang juga.” Bibir Dirana mengerucut sebal. “Tapi gue penginnya punya tuh bocah. Gimana dong?” “Lo kayak Sachi pas lagi hamil aja, Di.” celetuk Anjas. “Emang lo lagi hamil juga?” Dirana mematung. Tiba-tiba ia mengingat kata-kata pemilik depot bakso beberapa hari yang lalu. Perempuan setengah baya berbadan tambun itu ngotot bilang kalau dia tuh lagi hamil. Dari bentuk tubuh katanya aja udah beda. Yang paling kelihatan beda tuh, katanya, d**a Dirana. Masa iya sih? Perasaan badan Dirana masih sama kok. Cuma agak gemukan dikit.  Timbangannya naik hampir lima kilo. Tunggu... Barusan dia bilang apa? Timbangannya naik? Nyaris lima kilo? Demi apa! “Sialan!” Dirana mengumpat keras-keras. Ia mencak-mencak nggak jelas, jambakkin rambutnya sendiri. Sekeras mungkin ia membuang pikiran negatifnya. Nggak mungkinlah ya dia hamil... Dia sama Gibran cuma ngelakuin sekali. Gimana bisa main hamil aja. Nggak. Pasti salah tuh ibu-ibu. “Nih anak cocok jadi adeknya Kasa.” Anjas menunjuk pipi Dirana-yang sekarang ini malah geleng-geleng, menggerutu nggak jelas. “Sama emang,” kata Anjas lagi. “Diem-diem suka geleng-geleng. Mirip. Mirip gilanya kayak Kasa!” *** Gibran dan Kyla sedang berada di sebuah restoran. Mereka akan makan siang, tidak hanya berdua. Tapi bersama kedua orangtua mereka. Entah apa yang akan dibicarakan kedua orangtua mereka. Baik orangtua Gibran dan Kyla memaksa untuk makan siang bersama. Tumben sekali... biasanya mana pernah mengajak pergi makan siang, di luar lagi. Gibran mencari-cari menu untuknya. Di dalam buku menu, tidak ada satu pun yang mengunggah seleranya. Gibran pengin makan yang seger-seger gitu. Kayaknya sayur asem sama ikan asin enak kali, ya? Tapi di restoran macam ini mana ada! “Jangan diliatin terus. Cepetan mau pesen apa.” Itu suara Mama Gibran. “Kamu liatin apa sih, Gib? Kita udah pesen semua loh.” Gibran menutup buku menu kemudian menghela napas. “Makan di rumah aja yuk, Ma. Tiba-tiba Gibran pengin makan sayur asem buatan Mama.” Mama Gibran mengerutkan dahi. “Beneran kamu? Nggak biasanya loh kamu doyan sayur asem. Dulu-dulu juga paling anti sama masakan satu itu.” Gibran menelan ludah membayangkan segarnya kuah sayur asam masuk ke tenggorokannya. Gibran mengusap-usap lehernya, ia merengek pada mamanya. “Pulang aja yuk? Seriusan Gibran pengin makan sayur asem.” Baru kali ini Gibran meminta makan sayur asam. Kyla sudah mengenal Gibran dari kecil. Mereka tumbuh dan sekolah di sekolah yang sama. Ya walaupun sempat berpisah beberapa tahun karena Kyla harus ikut kedua orangtuanya yang pindah tugaskan ke kota lain. Tapi Gibran aneh, dia jadi suka mengeluh soal makanan. Padahal, Gibran ini tipe-tipe yang nggak sulit soal makanan. Asal makanannya nggak basi juga bakal dimakan sama dia. “Makan ini dulu sementara, ntar pulang lo makan lagi.” sela Kyla mulai jengah. Masalahnya Gibran sejak tadi ngedumel mulu. Ngerengek melulu. “Tuh ada nasi goreng kesukaan lo. Makan ini aja dulu!” Kyla menggeser buku menu ke hadapan Gibran. “Nggak. Gue nggak mau!” Gibran balas mendorong. Orangtua Gibran dan Kyla saling melirik satu sama lain. Kyla itu keliatannya aja judes, ketus. Padahal Kyla itu paling tau soal Gibran. Apa yang disuka, apa yang nggak disuka. Kayak sekarang ini, Kyla memaksa Gibran memakan nasi goreng pesanannya. “Buruan makan. Gue mesti balik nih. Kerjaan gue masih banyak," ketus Kyla mendorong sepiring nasi goreng ke arah Gibran. Dengan jengkel Gibran menyendokkan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya. Tapi baru nyentuh lidah, Gibran malah mual. Kyla menyodorkan tissue pada Gibran. Gibran menerimanya, lalu meminum segelas jus stroberi milik Kyla. Kyla memberengut. Itu kan minuman gue! “Lo kenapa sih? Nasi gorengnya nggak enak? Atau gimana?” tanya Kyla. Ia mencicipi nasi goreng Gibran. “Enak kok.” Gibran mengelap sudut bibirnya. Didorongnya piring itu, ia menolak memakannya. “Baunya aneh, La.” “Aneh gimana sih? Orang wangi gini.” “Ya udah, lo makan aja sendiri.” Gibran melengos. Ia menghabiskan jus stroberi milik Kyla. “Udah, udah. Jangan berantem. Kalau kamu nggak mau makan ya udah. Biasa aja. Kenapa mesti marah-marah?” Mama Gibran melerai keduanya. “Lagian Mama, sama mamanya Kyla ngajak kalian makan bareng bukan buat liat kalian berantem.” “Ada yang mau kalian omongin?” Kyla menyuapkan makannya. “Iya. Dan ini penting,” sahut Mama Kyla semangat. “Oh.” Kyla manggut-manggut. Gibran melirik mamanya. “Emang mau ngomong apa sih, Ma? Di rumah kan bisa.” “Di rumah?” Mama Gibran mendelik.  “Memangnya kamu masih inget rumah? Kamu aja nggak bakal pulang kalau nggak Mama suruh!” “Ya udah Mama mau ngomong apa?” Gibran bertanya malas. Dia paling sebel kalau mamanya mulai ngomel. “Jadi gini, Gibran, Kyla,” Mama Kyla memulai obrolannya. “Kalian belum punya pasangan, kan?” Gibran dan Kyla mengangguk kompak. “Ah, bagus kalau gitu.” “Kenapa sih, Ma?” tanya Kyla bingung. “Daripada kalian bingung cari pasangan, terus ujung-ujungnya bubaran. Kenapa kalian nggak nikah aja?” “Nikah barengan gitu maksudnya? Mama ngaco ah!” sahut Kyla. “Kita aja nggak punya pasangan.” “Kok barengan sih?” Mama Gibran memberengut. “Maksud kita itu, kenapa kalian nggak nikah aja gitu. Kamu sama Gibran.” “Kita berdua mau jodohin kalian.” Mama Kyla menambahkan. “Jodohin kita berdua?” Mata Kyla mengerjab. “MAMA!” sentak Kyla setelah menyadari apa yang dikatakan mamanya. Sedangkan Gibran? Jangan ditanya. Dia keliatan seneng bener. Sempet terkejut sih, tapi pada detik berikutnya dia langsung bilang. “Oke. Gibran setuju!” *** “Sini... di sini... iya, di situ, An.” Dirana memberi interupsi kepada Anka yang sedang memijit badannya. Tangan Anka berpindah-pindah. Dari ke bahu, sekarang ke punggung Dirana. “Aduh, enak banget. Seriusan.” Anka geleng-geleng. Dirana tampak menikmati pijitannya. “Kalau sakit ya pergi ke dokter, Di,” kata Anka kalem. “Ah, cuma masuk angin ini,” balas Dirana menyibak rambutnya ke belakang punggung saat Anka kembali memijat bahunya. “Enak banget lo berdua pijit-pijitan!” seru Kasa yang baru datang. “An, gantian gue abis ini ya?” “Mau dibunuh sama Jona lo? Minta pijit-pijit bini orang! Nikah makanya!” Anjas menuruni anak tangga sembari memasang kausnya yang besar. “Bercanda gue,” kata Kasa cengengesan. “Gue nggak mau digibeng sama Jona. Tuh anak biarpun masih bocah tapi nyeremin kalau lagi marah.” Kasa bergidik sendiri. “Masih sakit lo, Di?” tanya Anjas. “Kok lo nggak pulang-pulang sih? Betah banget nongkrong di rumah orang.” Kasa ikut menyahut. “Nah, lo sendiri gimana?” Dirana mendelik ke arah Kasa. “Lo bawa apa, Sa?” Anjas melirik dua kantong plastik putih yang Kasa letakkan di atas meja. “Makanan tuh!” Kasa melirik kantong plastik tersebut. “Bubur ayam. Dikasih sama Mbak Wela sih, dia lagi ngidam ngasih orang makanan katanya.” “Ngidam model apaan tuh?” Anjas duduk di lantai sambil membuka isi kantong plastik dan mengeluarkan beberapa kotak dari sana. “Tau deh. Mbak Wela kan suka aneh-aneh.” “Oh, Mbak Wela hamil ya, Kak?” tanya Anka yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. “Anak ke berapa?” “Anak kedua," jawab Kasa. “Tapi ya gitu, An. Suka ngidam aneh-aneh. Masa kemaren dia ngerebut makanan anaknya sendiri, sampe nangis kejer tuh si Safa.” “Loh, kok kayak Dirana tadi pas di taman, ya?” seru Anjas. “Emang Dirana hamil? Ngaco lo, Njas!” Kasa memukul kepala Anjas. “Yang bilang hamil siapa sih?” Anjas balas memukul. “Gue bilang kayak kan?” Anjas melirik Dirana. “Masa iya Dirana hamil. Dia tuh masih bocah. Mana bisa tiba-tiba hamil? Hamil sama kucing!?” Kalau Anjas udah ketemu Kasa ya, gitu. Ada aja yang dibahas. Dari yang penting sampe nggak penting juga dibahas sama mereka. Mereka asik ketawa-ketawa. Saling dorong-dorongan. Nggak tau kalau Dirana malah diem. Dirana meremas ke sepuluh jarinya, mendadak lidahnya kelu. Jantungnya berdetak dua kali lebih keras. Hamil. Dia hamil. Itu tanda-tanda kehamilan bego! Sisi lain Dirana terus menggumamkan dua kata. Dia hamil!  Dirana Gibran  To be continue--- 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN