“Leher lo kok merah-merah, Di?” Anka menunjuk leher Dirana. Saking penasarannya Anka sampe bungkukkin badan menyibakkan rambut sebahu Dirana. Sachi yang tadinya sibuk menggoreng ayam jadi menoleh ke Dirana dan Anka yang dia suruh memotong sayuran. Sachi sampe nyureng liatnya. Waktu tahu tanda merah yang ditunjuk adik iparnya dia jadi nyengir. Nggak tahu harus komentar apa tentang kepolosan Anka. “Masa lo nggak tahu sih, An?” Dirana dorong-dorong tangan Anka. “Lo pasti juga pernah dapet tanda gini kan?” tunjuknya ke hidung Anka. Anka mengerutkan dahi tidak memahami maksud Dirana. Sachi yang mendengar cuma cengar-cengir melihat kedua perempuan yang usianya dua tahun lebih muda dari dirinya. Mereka ini lucu. Dirana nggak ada gengsinya bilang gitu. Asal ceplas-ceplos, nggak tahu kalau ya

