Setelah mengalami keguguran. Dirana jadi banyak diam. Hanya matanya yang terbuka, tapi tubuhnya tidak bergerak dengan baik. Sepertinya Dirana benar-benar kehilangan calon bayinya. Dia diam untuk beberapa saat, tidak lama kemudian akan menangis dan menjerit dengan keras. Anka memandang Dirana prihatin. Temannya itu duduk bersandar ke kepala ranjang dengan dua kaki yang ditekuk. Ia mengetuk-ngetukkan dagunya ke lututnya. Wajahnya pucat, kantung matanya menghitam serat bibirnya yang kering. Pandangan matanya kosong, sekali kedip saja air mata Dirana sudah meluruh dengan deras. Anjas dan yang lain sengaja datang kemari untuk menjenguk dan menghibur Dirana. Jona, suaminya yang biasa cuek dan terlihat tidak peduli sengaja memasak banyak makanan untuk Dirana. Di samping Jona, berdiri Gino, An

