Dirana membuka tirai dan melihat Gibran berdiri di depan rumah tantenya bersandar di badan mobil. Pria itu berjalan mondar-mandir sembari memandangi rumah tantenya yang tertutup rapat. Tidak ada yang berani membuka pintu rumah ini selain Selly, tantenya sendiri. Seka sendiri mengangkat kedua tangannya tanda ia tidak ingin ikut campur urusannya. Bukan Seka tidak menyayangi Dirana dan membiarkan sepupu perempuannya itu menangis setiap malam. Dirana selalu bangun dengan mata bengkak dan hidung yang merah. Seka menatap Dirana bingung, ia ingin membukakan pintu, tetapi dengan konsekuensi ia bisa digantung hidup-hidup oleh mamanya. “Mas Gibran...,” gumam Dirana mencengkram besi jendela. Cuaca sedang tidak bagus. Semalaman hujan deras, lalu paginya pun begitu. Gibran berdiri di sana sejak s

