Gibran jatuh sakit setelah lebih dari seminggu datang dan menunggu Dirana membukakan pintu untuknya. Siang Gibran kepanasan, sorenya kehujanan. Cuaca memang sedang tidak bagus, tapi Gibran tetap nekat menunggu perempuan itu membukakan pintu maaf untuknya. Kalau saja Seka tidak memaksanya pulang dengan cara kasar, mungkin Gibran bisa di sana sampai pagi atau bertemu malam lagi. Gibran merindukan perempuan itu. Merindukan cara bicaranya yang mendadak manja dan tingkah ajaibnya selama hamil. Pukul enam pagi Gibran sudah bangun. Ketika sepasang matanya terbuka lantas ia menoleh ke samping memandangi ranjang di sampingnya yang kosong. Hanya ada bantal dan guling. Gibran duduk di ranjang sembari mengusap matanya yang masih berat. Ia melompat turun lalu berseru. “Di...” gumamnya mendekati kam

