“Bacain!” Dirana menyodorkan sebuah novel ke depan wajah Gibran. Gibran menerimnya. Ia membolak-balikan novel roman di tangan lalu menatap Dirana sebentar. “Bacain gimana?” tanyanya bingung. “Ya kamu bacain.” Dirana berseru lalu manyun berat. “Kayak lagi dongeng gitu lho...” “Ah...” Kepala Gibran manggut-manggut. Nggak tahu paham atau nggak. Dirana mengerutkan dahi. Pria itu cuma menganggukkan kepalanya sambil memandangi cover novel yang dipegangi. Bibir Gibran bergerak membaca judul novel. “Kamu yakin mau dibacain ini? Tumben,” gumamnya tak percaya. “Biasanya kamu lebih suka baca komik.” katanya yang masih membolak-balikan novelnya. Dari mana Gibran tahu kalau dia menyukai komik ketimbang novel? Dirana memiringkan kepalanya sembari membayangkan pria itu diam-diam memperhatikanny

