"Kapan aku punya kamar senyaman ini ya, Tha?" Alya menghempas kasar tubuhnya di ranjang mewah kamar Martha, sahabatnya. Matanya terpejam sembari merasakan semerbak wangi vanila ruangan itu. Hawa dingin AC yang menembus kulit, alunan lagu dari pemutar musik stereo milik Martha, berpadu sempurna mengiringi suasana hati yang tenang. Sesekali Alya mengimbangi suara vokal penyanyi dari lagu yang diputar.
"Cintai diriku... seperti aku mencintaimu, sepenuh jiwaku, jangan pernah ada tersimpan prasangka... howooo... dipelukmu, kusandarkan sluruh hidupku..." Seru Alya mengikuti lagu gubahan Reza Arthamevia itu. Martha abai pada tingkah sang sahabat. Ia terus mencatok helai demi helai rambut lurusnya sampai tampak rapi dan bervolume. Mata Alya masih terpejam. Seperti biasa, dirinya yang penuh khayalan itu, sedang berangan tentang romantika sejoli negeri dongeng impiannya.
"Kapan ya Tha, ada cowo baik, yang ganteng, yang tulus, yang nggak neko-neko, yang seluruh hatinya dia hibahkan buat aku seorang? ha ha ha" Alya terbahak oleh harapannya sendiri. Sebenarnya, siapa lelaki yang tidak tertarik pada Alya? Dia cantik, modis, lincah, mudah bergaul, menyenangkan, dan obrolan tema apapun tidak akan terasa garing jika dibahas bersama seorang Alya.
Namun, seringkali Alya terjatuh pada hati yang salah. Ia selalu mengulang kesalahan yang sama. Cinta pada pandangan pertama, pada beberapa bad boy yang tidak segan menduakan perasaannya. "Emangnya doyan, sama cowo yang nggak neko-neko?" nyinyir Martha menanggapi sahabat sekaligus teman satu jurusannya itu. Sambil terus menata rambutnya, ia menyindir halus khayalan Alya.
"Sebenernya mau Tha, tapi..."
"Tapi nggak niaaaattt... ah udalah, bosen aku denger celotehmu. Yuk ah, keburu seminarnya kelar aja, malah gak dapet sertifikatnya lagi." Seloroh Martha sembari bersegera siap menuju kampus tercinta. Alya ogah-ogahan mengikuti. Mengingat, seluruh transportasi kampusnya hari ini, bergantung pada Martha. Mereka berangkat menggunakan motor matic keluaran terbaru milik Martha. Begitulah persahabatan Alya dan Martha. Tulus dan saling peduli satu dengan yang lain.
-
-
Ruang auditorium kampus, sore itu...
-
-
"Tha, yakin mau masuk nih?" Kata Alya celingukan mengintip seminar dari sela pintu ruangan yang tertutup renggang. Jam tangannya menunjukkan pukul 4.15 sore, artinya, acara itu telah berlangsung 45 menit yang lalu. "Yaudah sih, nanggung banget, lagian emang salah dari awal sih, seminar jam setengah empat, jalan dari rumah juga setengah empat, ha ha ha" Martha menahan tawanya. Ia pun ber-ide untuk mereka masuk satu per satu ke ruangan itu, tanpa membawa tas seolah mereka dari toilet, dan duduk di tempat terpisah.
Alya setuju. Martha masuk lebih dulu menuju ruas bangku sisi kanan, dan Alya menyusul ke arah ruas bangku sisi berlawanan. Tas mereka sengaja ditinggal di bawah bangku yang berada di foyer Auditorium itu, sesuai arahan Martha.
"Di sini kosong nggak?" Tanya Alya berbisik pada seorang pemuda yang tidak lain adalah teman satu jurusannya di kampus ini. "Ada apa mbak? Ada kendala?" Pembicara seminar tiba-tiba bertanya menyelidik ke arah Alya yang terlihat kikuk mencari bangku kosong. Alya mendelik kaget. "Ti-tidak ada, Pak. I-Ini baju saya cuma nyangkut di kursi teman" dalih Alya menanggapi. Pemuda itu sontak menggeser tubuhnya dari bangku panjang lawas di ruangan itu sembari mengarahkan Alya untuk duduk. Ia tidak berkata-kata, hanya bahasa tubuhnya yang bicara. Alya selamat. Ia kini dapat duduk dengan tenang.
Martha terkekeh di ruas meja seberang. Meledek sahabat nya yang tertangkap basah sedang berbuat hal kikuk di tengah seminar. Alya kesal. Terlebih hanya Alya sendiri yang hadir menggunakan kaos oblong di antara pakaian rapi peserta lain. Untung saja ia memakai cardigan warna gelap dan rambut panjangnya cukup mengelabuhi kerah kaosnya yang sangat casual. Tampilannya sekilas cukup sopan untuk menghadiri acara itu. Demi sebuah sertifikat peserta seminar yang katanya menunjang kelancaran skripsi kelak, sepasang sahabat itu rela berbuat apa saja untuk mendapatkannya.
10 menit berlalu, dan Alya merasa amat kesepian. Sisi kanannya tembok, dan sisi kirinya seorang lelaki dingin yang mematung sejak awal kedatangannya. Langit sore dengan cahaya terang menembus ruangan tempatnya berada saat ini. Pemuda di sampingnya nampak familiar dan terlihat guratan pesona sederhana di wajahnya yang tersinari cahaya langit. Alya terus memperhatikannya hingga sang pemuda pun menoleh ke arahnya dengan tatapan lembut, meski tanpa senyuman.
"Eh, ka-kamu anak manajemen juga kan ya? I-ini sebenernya seminarnya tentang a-apa sih?" Alya gugup karena lamunannya terpecah sesaat setelah lelaki itu menengok ke arahnya. "Tentang manajemen investasi. Intinya, gimana caranya, anak kuliahan kaya kita gini, paham gimana caranya berinvestasi sejak dini." terang sang lelaki dengan yakin.
"Eh iya, nama kamu siapa? aku lupa" kilah Alya pada pemuda itu. Padahal bukannya lupa, tapi memang gadis itu tidak tahu siapa nama lelaki yang sudah berbaik hati membagi kursi dengannya sore itu. "Aku Dewa. Dewangga Pramudya, Kelas G." Jawabnya datar, pandangannya masih ke depan kelas. Ia merasa kikuk jika harus menatap sang gadis. Ia tidak terbiasa melakukannya.
"Oh iya, Dewangga ya... Kamu kan sebenernya satu SMP dan SMA juga kan sama aku? Tapi kita ngga pernah sekelas deh kayanya." Celoteh Alya dengan intonasi mengayun miliknya yang khas. Karena nada bicaranya itulah ia terkenal sebagai gadis yang supel. Alya mengangguk-anggukkan kepala seolah baru mengingat nama seseorang yang ia lupakan. Padahal, nama itu baru pertama kali ia dengar dalam hidupnya. Kalau secara wajah, benar Alya beberapa kali melihatnya saat di sekolah SMP, SMA, dan di kampus saat ini.
"Oh iya, aku Alya, Alya Sasikirana. Kelas H." Sambung Alya sembari mengulurkan tangan ke arah Dewa. Dewa tidak menjabat tangan itu karena ia malu dan ragu. Hatinya terlalu nervous berada begitu dekat dengan gadis jelita idola kampus itu. Namun sikap itu tampak dingin, bagi orang-orang yang belum mengenal Dewa. "Iya, aku tau kok, kamu terkenal. Sejak SMP." Balas Dewa datar. Alya menghela nafas kasar karena jabat tangannya tak berbalas. Ia pura-pura tidak peduli.
Pembicara mulai menyampaikan teori-teori tertentu tentang manajemen investasi. Sontak lelaki yang duduk di samping Alya itu pun mengeluarkan sebuah buku tebal keluaran internasional miliknya. Alya terkesan. Rupanya pria itu punya buku mahal itu. Buku yang tidak semua mahasiswa memilikinya. Jika fotokopian buku tersebut per chapter, tentu barang wajib yang dimiliki seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah manajemen investasi.
"Kamu punya bukunya? Hebat!" Alya tak sanggup menahan diri berkomentar. Dewa hanya tersenyum menanggapi. Ia mulai buka suara. "Iya, Bapak yang beli. Beliau mau anak bungsunya punya semua buku diktat mata kuliah di kampus. Katanya, dulu Bapak waktu kuliah sangat ingin seperti itu, tapi nggak keturutan." Dewa mulai ramah, ia menanggapi Alya dengan nyaman karena sikap luwes Alya dalam berinteraksi. Alya masih menatap Dewa penuh kesan.
"Berarti, buku pengantar akuntansi juga punya?" Dewa mengangguk.
"Kalo, buku manajemen pemasaran juga punya?" Dewa mengangguk.
"Terus, buku Statistika juga punya?"
"Aku punya semua, Alya. Kan tadi aku udah bilang. Kenapa? Kamu mau pinjem?" Jawab Dewa kalem. Suaranya lembut dan meneduhkan jiwa. Alya berbinar mendengar tawaran itu. Ia mengangguk dengan ceria. Sikapnya manja dan menggemaskan. Membuat seorang Dewangga Pramudya yang alim itu, silau akan pesona Alya. Dewa membuang pandangannya ke depan sembari pura-pura mencatat ucapan sang pembicara seminar.
Perkenalan di sore hari yang cerah itu. Membuat cerah hati keduanya. Dewa yang tidak menyangka bisa berbincang akrab dengan gadis tenar itu. Dan Alya yang tidak menyangka bahwa lelaki kutu buku semacam Dewa, bisa begitu menarik saat diajak bicara. Hal yang selama ini selalu menjadi misteri bagi mereka. Semacam, seperti apa rasanya berinteraksi dengan gadis trendy bagi seorang pemuda pasif dan pendiam. Dan semacam, seperti apa rasanya berinteraksi dengan lelaki alim bagi seorang gadis masa kini dan penuh pergaulan.