PROLOG
"Papi... sudah cukup, Pi!" wanita itu melerai suaminya yang tengah melempar sebuah handphone ke arah anak gadisnya. "Kamu nantang saya! mau jadi apa anak perempuan 18 tahun pulang jam segini, ha?" suara pria itu makin parau seolah teriakannya mencekik lehernya sendiri. Ia geram karena lemparan itu berhasil dihindari putri semata wayangnya yang membuatnya naik pitam malam itu. Lemparan kedua dengan handphone Nokia N70 yang padat berisi pun ia layangkan kembali, seolah batin lelaki itu masih murka pada anak gadisnya.
Tes… Tes... Tes…
Darah segar menetes dari lubang hidung Alya. Lemparan gadget sang ayah, yang sedari tadi digunakan untuk menghubungi ponsel putrinya namun hasilnya nihil itu, tepat sasaran mengenai hidung sang putri. Gadis itu terluka. Sambil menangis ia berlari ke dalam kamarnya tanpa kata-kata. Air mata dan darah sudah cukup menggambarkan kepedihan hatinya. Meski ingin ia katakan bahwa ponselnya tengah kehabisan daya saat ingin berpamitan pada sang ayah, namun kekasaran yang ia terima mengalahkan segala niat baik.
Braaakk! Pintu kamar Alya tertutup dengan bantingan yang amat keras. Ia menangis tanpa teriakan, hanya terisak. Sedu sedan itu terdengar amat memilukan. Di luar kamar masih ada sayup-sayup suara mereka, ayah dan ibunya yang saling menyalahkan. Seolah mereka menuduhkan satu sama lain, bahwa pasangannya lah yang paling bersalah dalam mendidik anak. Alya tidak peduli, ia tetap menangis sejadi-jadinya, sembari memikirkan seseorang. Seseorang yang sangat ingin ia temui malam ini juga, jika itu mungkin. Seseorang yang tiba-tiba terlintas di luar dugaan batinnya sendiri.
-
-
Keesokan harinya...
-
-
"Alya? Ada apa pagi-pagi datang kesini? bukannya pagi ini kita ada kelas jam 8?" seorang pemuda terheran-heran karena gadis pujaannya tengah berada di depan pintu rumahnya, tepat di saat ia hendak berangkat ke kampus. "Mbak Risa udah berangkat?" kata gadis itu melirik ke kiri dan ke kanan dengan tatapan menyelidik. Bukannya menjawab pertanyaan, Alya malah membuat pertanyaan baru untuk Dewa, lelaki yang sejak dini hari tadi ia pikirkan dalam tangisnya.
"Udah berangkat kerja kan, kenapa Al?" jawab Dewa bingung. "Kalo mbak Atik, datang jam berapa?" Bak reporter televisi yang tengah melakukan interview, Dewa diberondong pertanyaan oleh Alya, meski pertanyaannya sendiri belum terjawab sedari tadi. "Mbak Atik hari ini ngga datang, anaknya sakit. Tanya apalagi, Al?" Dewa mulai kesal.
"Kalo kamu... mau jadi pacar aku?"
Deg! jantung Dewa serasa hampir lepas dari tempatnya bergantung. Darahnya berdesir kencang, seolah denyut nadinya pun terdengar jelas oleh siapa saja yang berada dekat dengannya.
"eh, gimana gimana Al? a-aku agak ku-kurang begitu jelas, tadi ka-kamu nanya apa barusan?" Dewa dengan tampang lugunya, bertanya dengan terbata-bata. Matanya berkedip cepat, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Pertanyaan itu, pertanyaan yang sudah ia peragakan seorang diri di depan cermin kamarnya.
Sejak bulan lalu, pemuda itu selalu gugup dengan rencananya. Menyatakan isi hati kepada sang pujaan hati. Gadis jelita yang selama ini menghiasi ruang khayalnya, gadis pertama yang mampu menggoyahkan segala prinsip dirinya. Kini gadis itu datang di hadapannya, menggantikan dirinya dalam mengungkap rasa dan harapan.
Ya Tuhan, apakah ini nyata? Pemuda itu masih hening dengan segala monolog yang berkecamuk dalam pikirannya. Alya Sasikirana, sang idola kampus yang jauh dari gapaian angannya untuk dimiliki sebagai kekasih, kini hadir bak mimpi di siang bolong meminta dirinya dengan lugas untuk menjalin sebuah hubungan cinta.